
Setelah sampai di mansion nya, Alex langsung memerintahkan semua anak buah nya untuk berkumpul di ruang pertemuan.
Tak membutuhkan waktu lama, tiga puluh pria bertubuh tegap dengan pakaian yang serba hitam sudah berkumpul di hadapan Alex.
"Tugas kalian sekarang adalah mencari wanita yang ada di dalam foto ini," ucap Alex langsung setelah semua anak buah nya berkumpul, lalu melemparkan foto Nazhwa kepada ketua kelompok anak buah nya itu.
"Nama nya adalah Nazhwa, dia Istri dari rekan bisnis ku. Dan untuk memudahkan pencarian kalian, saya sudah mengirim nomor nya ke ponsel mu, kau bisa melacak nya dari situ." ucap Alex.
"Dan Aku tidak mau tahu, kalian harus menemukan dia bahkan hingga ke pelosok kota ini. Laksanakan!" perintah Alex.
__ADS_1
Para anak buah Alex itu serentak mengucapkan kata siap, dan setelah menunduk memberi hormat mereka pun pamit undur diri untuk langsung segera menjalankan tugas mereka. Terkecuali seorang pria yang berpakaian serba putih yang berdiri di samping Alex, dan merupakan orang kepercayaan Alex.
"Maaf Tuan Alex, bagimana dengan saya? Apa tugas saya sekarang?" tanya laki-laki yang berpakaian serba putih itu.
Alex menatap orang kepercayaan nya itu dengan ekor mata nya sambil menarik sudut bibir nya membentuk sebuah senyuman.
"Tugas mu mudah, hanya mencari tahu identitas seorang gadis. Dia sekertaris Andre Hermawan. Aku ingin kau mencari tahu tentang keluarga nya, dan aku hanya memberi mu waktu tiga jam." ucap Alex penuh penekanan.
...______________...
__ADS_1
Di tempat lain, Adam saat ini berada di sebuah cafe. Yah, ia berbohong pada Nazhwa tentang pasien yang membutuhkan pertolongan nya. Ia melakukan itu karena tidak ingin Nazhwa ikut pulang bersama nya. Ia merasa tak rela jika Nazhwa ingin pulang bertemu suami nya, karena ia bisa kehilangan kesempatan lagi untuk mendekati Nazhwa.
Namun, mengingat kondisi Nazhwa yang dalam keadaan tidak baik saat ini membuat nya merasa takut jika sewaktu-waktu penyakit Nazhwa kambuh ia tidak bisa memberi pertolongan, terlebih ia bukanlah dokter yang ahli dalam penyakit Nazhwa apa lagi rumah yang di tempati Nazhwa cukup jauh dari pemukiman warga yang tentu nya juga sangat jauh dari rumah sakit.
Beberapa saat berada di cafe itu, Adam pun beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan kopi nya. Ia meletakkan selembar uang ratusan lalu pergi dari cafe tersebut. Untuk masalah Nazhwa biarlah akan ia pikirkan lagi nanti, sekarang sebaiknya pulang untuk beristirahat karena ia juga harus menjaga kesehatan tubuhnya untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
Sementara itu, Nazhwa yang saat ini berada di kamar terus mondar mandir sambil memegangi ponselnya. Ia menghela nafas melihat baterai ponselnya yang sudah lowbat dan ia tidak membawa charger, dan sialnya charger milik suster yang menemaninya ini tidak cocok di ponselnya. Membuat Nazhwa benar-benar kebingungan saat ini.
Beberapa saat berpikir, Nazhwa pun memutuskan menghubungi Andre, namun belum sempat panggilan nya tersambung ponsel nya sudah terlebih dahulu mati yang membuat Nazhwa menghela nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Nazhwa pun membawa dirinya duduk di pinggiran tempat tidur, ponselnya ia letakkan di sampingnya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Rasanya benar-benar menyesal meminta tolong pada Adam untuk menghindar dari suaminya. Lihat lah apa yang dilakukan oleh Adam, laki-laki seakan mencegahnya untuk pulang. Ah, seharusnya Nazhwa mengingat jika Adam dulu selalu mengungkapkan perasaan pada nya, apa karena itu sekarang Adam seolah menawan nya di tempat ya jauh ini.