DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 12.


__ADS_3

12.


"Rasa ketropak ini, sama persis dengan yang dulu sering dibawakan Kak Shalwa setiap kali pulang kerja." Ucap Nazhwa sambil tersenyum setelah mencicipi ketropak yang dibeli Andre saat di perjalanan pulang.


Andre tak menanggapi ucapan Nazhwa, ia terus memakan ketropak nya sendiri tanpa menunjukkan ekspersi apa pun entah ketropak itu enak atau tidak.


Setelah habis, Andre pun beranjak dari ruang makan dan langsung masuk kedalam kamar. Sementara Nazhwa membereskan bekas makan mereka setelah itu ia pun menyusul suami nya kedalam kamar.


"Mas," Panggil Nazhwa, namun suami nya itu tak bergeming di atas tempat tidur dengan posisi membelakanginya.


Nazhwa pun naik ke atas ranjang dan ternyata Andre sudah tidur. Nazhwa pun membaringkan tubuhnya di samping suami nya itu. Tidak, bukan di samping tapi di belakang karena posisi Andre sedang membelakanginya.


Nazhwa menatap punggung suami nya sambil bergumam, "Kau tahu Mas, kenapa aku meminta mu untuk menyentuh ku? Itu bukan hanya karena orangtua kita yang menginginkan cucu dari kita. Namun juga karena aku ingin anakku nanti menjadi pengganti ku untuk menemani dan menghibur Ayah dan Ibu jika aku sudah pergi menyusul Kak Shalwa. Tapi, rasa nya sangat sulit untuk mendapat kan itu dari mu, Mas. Jangankan untuk menyentuh ku, melihat ku saja Mas seperti enggan. Aku tidak tahu apa dan dimana letak kesalahan ku sehingga Mas melakukan itu pada ku."


Nazhwa terus bergumam sampai akhirnya ia pun tertidur.


Tak lama kemudian, Andre yang ternyata tidak tidur, beranjak dari atas tempat tidur setelah mendengar dengkuran halus Nazhwa yang menandakan Istriya itu benar-benar sudah tertidur.


Andre masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan setelah itu ia kembali naik ke atas tempat tidur namun tidak berbaring melainkan hanya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil menatap Nazhwa yang sudah tertidur.


"Apa maksud ucapan mu tadi? Apa maksud mu jika kau sudah pergi menyusul Kakak mu Shalwa?"

__ADS_1


Andre mencoba mencerna apa maksud ucapan Nazhwa itu, namun ia pun menggeleng pelan kepala nya karena tidak mengerti apa maksud nya.


_______________


"Thank's ya udah di anterin pulang plus di traktir makan malam juga tadi, di resto bintang lima lagi. Kalo begini tiap hari gak akan kosong dompet ku." Kekeh dokter Heni setelah mobil milik dokter Adam yang ditumpanginya sudah terparkir di pelataran rumahnya.


"Ini yang terakhir, dan gak akan lagi. Aku mau nabung buat modal nikah." Ucap dokter Adam juga terkekeh.


"Emangnya kamu udah punya calon?"


"Ada tapi itu dulu, sekarang dia udah jadi milik orang." Jawab dokter Adam, kali ini ia tersenyum miris.


"Ya ampun, Dam. Move on dong kalau udah jadi milik orang, cari yang lain masih banyak kok. Kalau mau nanti aku carikan, atau pilih aja salah satu suster dirumah sakit banyak kok yang masih lajang." Celetuk dokter Heni lalu melepas sabuk pengamannya.


Setelah dokter Heni telah masuk kedalam rumahnya, dokter Adam pun melajukan mobil nya.


Apa yang dikatakan dokter Heni, benar. Move on, namun entah kenapa rasa nya sulit walaupun ia dan Nazhwa tidak pernah memiliki hubungan apa pun.


Sesampainya dirumah, dokter Adam langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Setelah itu ia membuka laci dan mengambil sebuah album yang terdapat banyak foto-fotonya bersama teman-teman masa abu-abu. Dari sekian banyak nya foto didalam album itu, hanya ada satu foto yang selalu membuatnya semangat memulai hari. Yaitu, foto Nazhwa yang dulu ia portret secara diam-diam saat Nazhwa memenangkan pidato bahasa inggris.


Sampai hari ini ia menyimpan foto Nazhwa dan selalu melihatnya setiap pagi sebelum memulai aktivitas dan setiap malam sebelum tidur. Ia berharap suatu saat nanti dapat menemukan Nazhwa dan menyatakan perasaan nya yang sejak dulu ia pendam. Namun, di saat bertemu ia dihempaskan oleh kenyataan bahwa Nazhwa telah menjadi milik orang lain. Tak ada harapan lagi untuk memiliki Nazhwa. Sungguh miris sekali kisah kasih nya selama ini yang selalu berharap pada wanita yang mungkin memang bukan di takdirkan untuk nya.

__ADS_1


Namun, jika seandainya saja dulu ia tak pernah kehilangan kontak Nazhw, mungkin sejak dulu ia akan menjadi Nazhwa pendamping hidupnya, tetapi yah takdir berkata lain dan seolah tak mendukung ia bersama Nazhwa.


Dokter Adam pun menyimpan kembali album itu ke dalam laci dan mungkin ini adalah terakhir kalinya ia melihat foto Nazhwa. Benar apa yang dikatakan dokter Heni, ia harus move on dan mencari yang lain yang benar-benar memang di takdirkan untuk nya.


"Semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu, Nazhwa, dan itu harus jika tidak jangan terkejut jika aku dengan lancang masuk kedalam rumah tangga mu." Kekeh dokter Adam sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang. ''Astaghfirullah, tidak ya Allah aku hanya bercanda, aku sama sekali tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi pebinor alias perebut bini orang." Dokter Adam kembali terkekeh lalu ia memejamkan mata untuk tidur.


Mulai besok ia akan memulai hari tanpa bayang-bayang Nazhwa lagi. Dan mulai besok juga ia akan memulai peran nya sebagai dokter atas dasar kehendak diri nya sendiri, bukan karena Nazhwa lagi yang pernah mengatakan agar ia menjadi dokter.


______________


Malam semakin larut, namun Andre tidak bisa tidur sama sekali karena terus memikirkan ucapan Nazhwa, ia benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan Istriya itu. Andre pun turun dari ranjang lalu keluar dari kamar nya.


Di ruang kerja nya disitulah Andre berada saat ini. Ia menatap foto almarhumah Shalwa sambil terus menggumamkan kata maaf.


Maaf karena sudah mengecewakan almarhumah kekasihnya itu yang berpesan agar ia menjaga dan menyayangi Nazhwa sama seperti ia menyayangi dan mencintai Shalwa. Namun, sayang nya ia sangat sulit untuk menjalankan amanah itu, jangan untuk mencintai. Menyentuh Nazhwa pun terasa begitu enggan, padahal seorang lelaki bisa saja meniduri wanita nya meski pun tidak mencintai. Tetapi itu sama sekali tidak berlaku untuk Andre.


Mencintai dan dicintai memang menjadi harapan bagi setiap orang, namun pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti: seberapa banyak kau mencintai, seberapa lembut kau menjalani hidup, dan seberapa ikhlas kau melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu.


Hal yang paling sulit dalam mencintai, adalah memulainya. Terutama membuka hati, setelah membereskan yang lama.


Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

__ADS_1


Setiap orang pasti pernah merasakan lika-liku kehidupan. Seakan dibuat seimbang, ada kalanya seseorang merasa bahagia dan tidak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Namun ada pula kalanya seseorang merasa di bagian paling bawah saat sedang mengalami masalah.


Kenangan dengan pasangan memang tidak bisa dengan mudah hilang. Hal itulah yang membuat hati belum bisa menerima datangnya orang baru disaat masih mengharapkan kasih dari orang yang lama. Jadi, hanya waktu yang bisa memberi kabar kapan hati dapat menerima cinta dari seorang yang baru. 


__ADS_2