
19.
Usai melaksanakan shalat malam Nazhwa masih duduk bersimpuh di atas sajadah nya sambil melantunkan kalimat-kalimat tasbih serta mengucapkan kalimat istighfar sebanyak-banyaknya, agar hati nya menjadi lebih tenang.
Ia tahu Allah itu tak menjanjikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tetapi, ketahuilah DIA selalu memberikan pelangi setelah badai, tawa di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban dari setiap masalah. Dan Nazhwa pun yakin, jika apa yang sedang terjadi dalam hidup nya saat ini adalah salah satu skenario-NYA dan nanti di saat waktu yang tepat akan menemui jalan terang dari ini semua. Hanya perlu bersabar untuk menunggu waktu itu tiba. Yakin dan percaya jika Allah tidak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan seoarang hamba.
Sementara itu Andre yang juga telah selesai melaksanakan shalat malam langsung beranjak dari atas sajadah nya dan menyimpan kembali sajadah dan peci nya. Setelah itu ia membawa diri nya duduk di tepi ranjang dan saat menyadari jika Nazhwa tak kembali ke kamar sejak tadi langsung beranjak dari atas tempat tidur yang baru saja di duduki nya dan segera keluar dari kamar.
Andre mencari Nazhwa di dapur, ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga namun tak juga menemukan Nazhwa. Ia pun berinisiatif untuk pergi ke halaman rumah barang kali Nazhwa ada di sana, tapi ternyata Nazhwa juga tak berada di sana. Andre pun kembali masuk ke dalam rumah sambil menerka-nerka di mana Nazhwa saat ini.
"Nazhwa kemana, dia gak kabur kan karena sudah tidak tahan dengan sikap ku? Tapi gak mungkin, lagian mau pergi kemana dia malam-malam begini, mobil juga masih ada." Gumam Andre.
Andre tiba-tiba menghentikan langkah nya saat melewati kamar tamu, ia berpikir apakah Nazhwa ada di dalam kamar tamu ini.
Dengan pelan Andre membuka pintu kamar tamu itu, dan benar saja Nazhwa ada di dalam dengan sudah tertidur di atas sajadah nya.
Andre pun masuk ke kamar itu dan mendekati Nazhwa lalu duduk bersimpuh di samping Nazhwa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kamu ketiduran atau memang sengaja tidur di sini."
Sejenak Andre menatap wajah Istriya itu yang sudah tak lagi memakai riasan seperti beberapa hari ini. Keningnya mengkerut saat merasakan ada yang berbeda dari wajah Istrinya itu, semakin di perhatikan wajah Nazhwa malah terlihat pucat saat tak memakai riasan.
Andre menjadi bingung di buat perubahan Istrinya ini, sebenarnya apa yang terjadi pada Nazhwa.
Andre pun mengangkat tubuh Istrinya itu untuk memindahkan ke kamar mereka. Nazhwa yang merasakan tubuh nya melayang langsung membuka mata, ia terenyuh mendapati diri nya berada dalam gendongan suaminya, ia mengira ini adalah mimpi karena Andre tidak akan pernah melakukan ini pada nya.
"Lihat lah Kak Shalwa, aku sudah meraih bahagia ku meskipun hanya dalam mimpi. Kak, katakan pada Tuhan agar tak membangunkan aku dari mimpi ini, karena hanya seperti aku bisa merasakan sentuhan suamiku." Nazhwa terus bergumam sambil terus menatap wajah Andre yang membuat suaminya itu perlahan tersenyum. Nazhwa berpikir apa yang dirasakan nya sekarang hanya lah sebuah mimpi.
Nazhwa masih terus menatap wajah Andre yang kini sudah berbaring di samping nya sambil menatap diri nya. Perlahan Nazhwa tersenyum ketika melihat Andre yang juga tersenyum menatap nya. Sungguh ini adalah mimpi terindah, ia seolah melupakan rasa sakit yang menggerogoti tubuh nya.
"Andai saja ini nyata dan bukan lah sebuah mimpi, aku pasti sangat bahagia Mas."
Nazhwa mengulurkan tangan nya hendak menyentuh wajah Andre, seketika mata nya terpejam kala Andre menyambut tangan nya dan mencium jari-jari yang tersemat cincin pernikahan.
"Kak Shalwa, sungguh aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini." Ucap nya lirih, namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Andre.
__ADS_1
Apa yang selalu diharapkannya selama ini akhirnya terwujud meskipun hanya dalam mimpi.
Andre mengulum senyum seraya meletakkan tangan Nazhwa diwajahnya sambil menggenggam tangan yang entah kenapa terasa dingin itu. Entah bagaimana Istrinya ini menganggap ini adalah mimpi, yang sebenarnya adalah nyata terjadi. Andre termangu menatap Nazhwa yang memejamkan mata. Ternyata sungguh besar harapan Nazhwa pada nya, dan yang malah terjadi ia selalu mengabaikan.
"Maafkan aku, Nazhwa. Bisa kah kita memulai semuanya dari awal dan membuka lembaran baru?"
Kalimat permintaan maaf yang tersemat kalimat ajakan yang berupa pertanyaan, membuat Nazhwa langsung membuka mata. Tatapannya seketika tertuju pada netra Andre yang sendu menatap nya.
"Iya, Mas. Aku sungguh mau." Nazhwa langsung menjawab spontan yang tentu nya dengan masih menganggap ini adalah sebuah mimpi.
Andre tersenyum mendengar jawaban Nazhwa yang begitu antusias.
"Ya Allah, aku mohon jangan bangun kan aku. Biarkanlah aku merasakan bahagia bersama suamiku di alam mimpi ini."
Senyum Andre berubah menjadi kekehan, ia pun lebih mendekat kan diri tepat di hadapan Nazhwa. Jarak tubuh kedua nya sangat berdekatan bahkan tidak ada lagi cela, tidak seperti biasanya yang akan ada sebuah guling yang menjadi pembatas di antara mereka berdua.
"Kamu tidak sedang bermimpi, Nazhwa. Ini semua adalah nyata."
__ADS_1