
Andre terperangah, benar-benar terkejut dengan fakta yang baru di ketahui nya ini tentang Istri nya yang ternyata sudah sejak lama mengidap penyakit ginjal. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana selama ini Istri nya itu bisa menyembunyikan hal besar seperti itu dari semua orang.
Fikiran Andre seketika berputar pada kejadian-kejadian beberapa hari lalu.
Di mana Nazhwa berkata sesuatu saat mengira diri nya sudah tertidur.
"Kau tahu Mas, kenapa aku meminta mu untuk menyentuh ku? Itu bukan hanya karena orangtua kita yang menginginkan cucu dari kita. Namun juga karena aku ingin anakku nanti menjadi pengganti ku untuk menemani dan menghibur Ayah dan Ibu jika aku sudah pergi menyusul Kak Shalwa. Tapi, rasa nya sangat sulit untuk mendapat kan itu dari mu, Mas. Jangankan untuk menyentuh ku, melihat ku saja Mas seperti enggan. Aku tidak tahu apa dan dimana letak kesalahan ku sehingga Mas melakukan itu pada ku."
Dan juga saat ia berpura-pura tidur ketika menunggu Nazhwa pulang yang kata nya pergi bertemu teman nya.
"Maaf, Mas aku pulang nya lama. Aku kira cuci darah itu hanya sebentar, tapi ternyata memakan waktu yang cukup lama."
__ADS_1
Serta apa yang di ucapkan oleh almarhumah Shalwa, kekasihnnya, di dalam mimpi nya.
"Cobalah bersabar ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, percayalah Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya. Dunia kita sudah berbeda, Andre, dan aku menitipkan seseorang yang sangat aku sayangi melebihi kamu bahkan diri ku sendiri. Tapi kenapa kamu selalu membuat nya bersedih? Apa kamu tahu? Di sini aku pun turut merasakan kesedihannya. Aku juga menangis di saat dia menitihkan air mata nya karena sikap mu. Jika kamu tidak bisa membuat nya bahagia, maka jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku akan menjemputnya. Kamu akan hidup dalam penyesalan karena kehilangan orang yang mencintai mu untuk yang kedua kalinya."
Andre mengusap wajah nya yang sudah basah karena air mata. Benar-benar menyesali perbuatan nya yang sudah mengacuhkan Nazhwa selama menjadi Istri nya.
Ia juga mengingat perkataan Nazhwa kemarin saat ia sudah memutuskan untuk belajar mencintai Istri nya itu.
"Aku mencintai mu, Mas. Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat mu waktu itu. Saat Mas datang kepada orangtua ku, meminta ku untuk menjadi Istri Mas."
Air mata Andre semakin deras mengalir menuruni pipi nya. Ia terisak dan tubuh nya bergetar. Rasa ketakutan menerpa diri nya saat ini, takut akan di tinggalkan oleh orang yang mencintai nya untuk kedua kali nya.
__ADS_1
Di samping nya, Sekertaris Nanda menatap iba pada atasan nya itu. Nanda membiarkan Andre sejenak, dan beberapa saat kemudian setelah mengingat sesuatu yang kemungkinan Nazhwa saat ini berada di rumah sakit, Sekertaris Nanda pun memberanikan diri menyentuh pundak atasan nya itu yang bergetar.
"Pak Andre, kita coba ke rumah sakit sekarang, mungkin saja Bu Nazhwa ada di sana." ucap nya.
Andre dengan cepat mengusap air mata nya mendengar ucapan Sekertaris nya itu. Setelah Nanda memberi tahu rumah sakit mana yang selalu di datangi oleh istri nya, Andre pun langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah sakit tersebut. Andre tak memperdulikan lagi rasa trauma nya saat mengalami kecelakaan bersama Shalwa dulu. Yang ada dalam fikiran nya saat ini adalah segera bertemu Nazhwa dan menjelaskan semua nya. Ia tidak ingin Nazhwa berlarut salah paham pada nya, dalam hati ia berdoa semoga nanti Nazhwa akan menerima alasan nya dulu menikahi nya adalah karena amanah dari almarhumah Shalwa, kekasihnnya yang juga adalah kakak Nazhwa sendiri.
...__________...
Sementara itu di rumah sakit, Nazhwa telah berada di dalam ruangan tempat nya akan menjalani perawatan. Ia berbaring di atas ranjang pasien, mata nya terpejam namun ia tidak tertidur. Jarum infus sudah tertancap di punggung tangan nya, dan Nazhwa juga di pakai kan oksigen karena beberapa saat lalu ia tiba-tiba mengalami sesak nafas, belum lagi kondisi tubuh nya yang memang juga lemah.
"Aku tahu kamu tidak tidur, kamu hanya mencoba menenangkan diri di sini."
__ADS_1
Suara laki-laki yang begitu familiar terdengar di telinga Nazhwa, namun ia sangat enggan untuk membuka mata. Hingga ia merasakan usapan di punggung tangan nya, dan perlahan ia pun membuka mata nya.