
Beberapa jam telah berlalu, Nazhwa juga sudah di pindahkan ke ruang rawat intensif. Andre begitu setia menemani sang istri sembari terus menggenggam telapak tangan Nazhwa yang masih terasa dingin, tanpa memperdulikan diri nya sendiri yang sudah terlihat berantakan.
"Pak Andre, ini sudah sore tapi Bapak belum makan apa pun sejak siang. Ini makanan untuk Pak Andre."
Sekertaris Nanda meletakkan bungkusan yang berisi makanan di atas meja, karena atasan nya itu tak merespon sedikit pun, Nanda melangkah mendekati ranjang di mana Nazhwa terbaring belum sadarkan diri.
"Pak Andre harus makan, jangan sampai Bapak juga sakit. Kalau Pak Andre sakit nanti siapa yang akan menguatkan Bu Nazhwa."
Namun, Andre masih setia menggenggam tangan sang istri dengan terus menatap wajah pucat Nazhwa, seolah tak mendengar ucapan Nanda yang sudah berdiri di samping nya.
"Jangan seperti ini, Pak. Bu Nazhwa tidak akan suka melihat Pak Andre seperti ini. Bapak tahu sendiri bagaimana perduli nya Bu Nazhwa selama ini pada Pak Andre padahal Bu Nazhwa sedang sakit parah tanpa kita ketahui."
Satu tetes cairan bening berhasil lolos dari sudut mata Andre, kilas balik tentang semua perlakuan Nazhwa selama ini pada nya seolah berputar di depan mata. Bagaimana Nazhwa selalu memperhatikannya meski ia terus bersikap dingin dan cuek. Bagaimana Nazhwa mengurus segala kebutuhannya, namun ia seolah tak perduli. Di balik itu semua ia tidak tahu jika sang istri sedang berjuang dengan penyakit yang bisa membahayakan nyawanya sendiri, namun terus berusaha untuk terlihat kuat di depan nya.
__ADS_1
Andre tergugu, betapa buruknya ia selama ini memperlakukan Nazhwa tanpa memikirkan perasaan sang istri. Andai waktu dapat di putar, ia akan belajar menerima Nazhwa sejak awal tanpa harus terus mengabaikan istri nya lantaran menikahi hanya karena amanah.
"Maafkan aku, Nazhwa. Maaf." Hanya kata maaf yang mampu terucap dari bibir nya yang bergetar seiring air mata yang kembali mengalir semakin deras. Lidah nya keluh dan suara nya tercekat di tenggorokan. Ia tahu, kata maaf saja tidak akan mampu mengubah apa pun. Jika saja sejak awal ia tahu jika Nazhwa sedang sakit, mungkin saat itu ia akan mengusahakan pengobatan terbaik meski cinta itu sama sekali tidak ada di hati nya. Namun, semua nya sudah terlanjur terjadi, menyesal pun tidak ada arti nya lagi. Kini kondisi Nazhwa sudah benar-benar kritis. Harapan satu-satunya agar Nazhwa bisa sembuh adalah dengan transplantasi ginjal.
Andre pun mengusap air mata nya, lalu menoleh menatap sekertaris Nanda yang berdiri di samping nya.
"Tolong kamu carikan orang yang bisa mendonorkan ginjal nya untuk Nazhwa, saya akan berikan berapa pun yang orang itu mau." ucap Andre dengan sedikit terisak.
Sekertaris Nanda mengangguk dengan antusias tanpa mampu berucap, sungguh ia sangat terharu atas perjuangan Andre saat ini. Seiring langkah keluar dari ruangan tersebut dalam hati ia berdoa semoga ia bisa segera mendapatkan donor ginjal untuk Nazhwa.
..._______________...
Kabar sekertaris Nanda yang sedang mencari donor ginjal untuk Nazhwa begitu cepat sampai ke telinga Alex. Tentu ia tak akan tinggal diam membiarkan gadis pujaan nya bergerak sendirian, dengan sigap Alex memerintah pada anak buah nya untuk menyebarluaskan pencarian donor ginjal itu, bahkan Alex menambahkan hadiah yang lebih besar bagi orang yang bersedia mendonorkan ginjal nya untuk Nazhwa.
__ADS_1
"Cari muka sekali dia, apa dia merasa sudah paling berkuasa dengan melakukan hal seperti ini." sekertaris Nanda menatap sinis pada poster yang terpasang di tembok jalanan.
Namun, Nanda tak akan berpangku tangan begitu saja meski pun sudah mendapatkan bantuan dari Alex tanpa ia atau pun Andre yang meminta. Nanda tetap berusaha dengan usahanya sendiri untuk mencari orang yang mau mendonorkan ginjal nya.
Sementara Adam saat ini sedang di tawan oleh para anak buah Alex, sebenarnya bisa saja mereka menjebloskan Adam ke dalam penjara atas tuduhan penculikan, namun hukuman seperti itu sangat ringan menurut Alex.
Di hadapan Alex, Adam yang di dudukkan di sebuah kursi dengan tubuh yang terikat dan mulut yang di bekap kain. Tidak bisa berkutik sedikit pun, namun ia bisa mendengar semua yang dibicarakan Alex dengan anak buah nya tentang pencarian donor ginjal untuk Nazhwa. Ada rasa penyesalan karena sudah gelap mata ingin menyembunyikan Nazhwa dari suami nya demi mendapatkan cinta nya yang belum tergapai.
Alex menatap laki-laki yang berseragam dokter itu dengan datar tanpa ekpresi. Ingin sekali ia menyiksa laki-laki itu, namun setelah tahu bahwa Adam adalah kakak sepupu dari sekertaris Nanda, ia mengurungkan niat nya itu dan hanya membiarkan nya seharian duduk dengan tubuh terikat tanpa makan dan minum.
Beberapa saat lalu ia memaksa Adam untuk mengaku tentang apa alasan nya ingin membawa Nazhwa, meski awal nya Adam tidak mau mengakui namun Adam akhirnya mengaku setelah Alex mengancam akan menyakiti Nanda adik sepupu nya, dan tentu Alex tidak serius melakukan itu ia hanya menggeretak Adam untuk mengaku.
Dan ternyata tujuan Adam tidak jauh berbeda dengan nya yang sama-sama ingin mendapatkan orang yang di cintai, namun berbeda dengan Alex. Ia sendiri belum yakin dengan perasaan nya pada sekertaris Nanda apakah itu cinta atau bukan, namun rasa ingin memiliki itu sangat kuat.
__ADS_1