DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 11.


__ADS_3

11.


Saat diperjalan pulang Andre melihat ada penjual ketoprak di pinggir jalan, ia jadi teringat dengan almarhumah Shalwa yang suka sekali makan ketropak. Setiap kali jam istirahat kantor mereka selalu pergi membelinya.


Andre pun menghampiri penjual ketoprak itu.


"Kok berhenti, Mas?" Tanya Nazhwa.


"Aku mau beli ketoprak, kamu mau juga nggak?"


"Mau banget, Mas. Aku udah lama gak makan ketoprak semenjak Kak Shalwa udah gak ada. Dulu, setiap pulang kerja Kak Shalwa selalu membawa ketropak untukku."


Andre tersenyum miring, tentu saja ia tahu soal itu. Karena dulu Shalwa selalu membeli dua porsi ketropak yang kata nya untuk adiknya.


Andre pun turun dari mobil tanpa menanggapi ucapan Nazhwa, dan Nazhwa pun juga turun dari mobil.


Karena pembeli lumayan banyak, Andre dan Nazhwa pun terpaksa mengantri. Sebenarnya bisa saja ia membeli di tempat lain, namun penjual ketoprak ini adalah langganan Shalwa yang kata nya rasanya enak dari pada ketoprak di pedagang lain nya.


Satu persatu pembeli pergi setelah mendapat pesanan ketropak mereka, kini giliran Andre yang memesan.


"Ketropak nya dua, Pak."


"Pak Andre, ya?" Penjual ketoprak itu mengenali Andre, salah satu pelanggannya yang sudah lama tidak pernah datang membeli ketropak lagi.


Andre menjawabnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum pada penjual ketoprak itu.


"Lama gak pernah beli ketoprak lagi, udah ganti boncengan aja nih, Pak." Goda penjual ketoprak itu sambil melirik Nazhwa.


Lagi-lagi Andre hanya tersenyum menanggapi nya.


Sementara Nazhwa menatap penjual ketoprak itu dan Andre bergantian kemudian ia mengulum senyum. Ia tahu yang dimaksud oleh penjual ketoprak itu adalah wanita yang dicintai suaminya.


Beberapa saat menunggu, Nazhwa dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya. Nazhwa menoleh dan ternyata yang menepuk pundaknya itu adalah seorang laki-laki berseragam dokter.


Nazhwa mengerutkan keningnya sambil menatap laki-laki itu yang sepertinya tidak asing.


"Ayo coba tebak siapa?" Ujar laki-laki itu sambil tersenyum.


Nazhwa masih tampak berpikir mencoba mengingat siapa laki-laki itu.

__ADS_1


Andre yang berdiri di samping Nazhwa hanya melirik seolah tak perduli dengan kedatangan laki-laki itu yang sepertinya mengenali Nazhwa.


"Ya ampun Nazhwa masa kamu lupa sih? Aku Adam teman sekelas kamu di SMA dulu. Itu loh cowok yang jadi rebutan disekolah tapi hanya tertarik sama satu cewek yaitu kamu." Ucap nya yang membuat Nazhwa terperangah.


Nazhwa langsung menoleh menatap Andre, namun suaminya itu nampak tak perduli dengan kehadiran Adam teman sekolah nya itu.


"I-ya, aku ingat."


"Lihat Nazhwa, sekarang aku udah jadi dokter seperti yang kamu bilang dulu. Aku harus jadi dokter untuk menyembuhkan cewek-cewek yang patah hati karena ditolak sama aku." Ucap Adam sambil terkekeh.


Nazhwa memaksakan senyum dengan sesekali melirik Andre yang benar-benar seolah tak terganggu.


"Nazhwa, kamu kemana aja selama ini? Setelah lulus SMA aku cari-cari kamu buat daftar masuk kuliah di kampus yang sama, tapi aku pernah ketemu kamu lagi. Kamu kuliah dimana?"


"Setelah lulus SMA Aku nggak kuliah, Dam." jawab Nazhwa yang membuat Adam sedikit terkejut, begitupun Andre yang bertanya-tanya dalam hati kenapa dulu Nazhwa tidak kuliah padahal orangtuanya cukup mampu dan juga ada Shalwa yang bekerja.


"Gak kuliah, kenapa?"


"Gak apa-apa. Oh ya, Dam kenalin ini Mas Andre suami Aku." ujar Nazhwa sambil menunjuk Andre, namun suaminya itu tak merespon dan malah terus memperhatikan penjual ketropak itu membungkus ketoprak pesanannya.


Adam pun melirik Andre dengan tatapan tak biasa, lalu kembali menatap Nazhwa. "Jadi kamu udah nikah?" Wajah ceria Adam seketika berubah sendu.


Adam mengulum senyum yang nampak dipaksakan, "Kalau gitu selamat ya buat pernikahan kamu. Aku balik kerumah sakit dulu." Ucap nya lalu melangkah ke dekat penjual ketoprak itu.


"Pak, ketropak pesanan saya nanti di ambil sama satpam ya, saya harus buru-buru balik kerumah sakit."


"Baik, Pak."


Adam melirik Andre sebentar lalu akhirnya ia menyebrang jalan menuju rumah sakit yang kebetulan berseberangan jalan dengan penjual ketoprak itu.


Setelah mendapat pesanan dan membayar ketropak nya, Andre langsung saja berjalan ke arah mobil nya tanpa menunggu atau mengucapkan sepatah kata pun pada Zhalwa.


"Mas, tadi itu temen aku." ujar Nazhwa mencoba memecah keheningan.


saat ini mereka sudah berada di perjalanan pulang. Entah kenapa Nazhwa merasa tak tenang melihat Andre diam saja padahal ini bukan yang pertama kali nya, namun rasanya ada yang berbeda.


"Gak usah di jelasin, siapa pun dia aku gak perduli." Ucap Andre datar.


Nazhwa memilih tak menanggapi lagi, Andre benar, percuma ia menjelaskan karena suaminya itu tak akan pernah perduli apa pun tentangnya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah seperti biasa Andre langsung saja turun dari mobil dan masuk kedalam rumah tanpa menunggu Nazhwa.


___________________


Di dalam ruangan di sebuah rumah sakit, dokter Adam duduk tampak melamun mengingat pertemuannya dengan Nazhwa beberapa saat lalu.


Adam adalah laki-laki yang menjadi rebutan disekolah dulu, namun ia bukan buaya darat yang meladeni wanita-wanita yang mengejarnya. Ia hanya tertarik pada satu wanita yaitu Nazhwa, namun sayangnya Nazhwa tak begitu menanggapi.


Hingga di saat mereka lulus dari masa putih-putih abu-abu, Adam kehilangan jejak Nazhwa namun ia tak patah semangat untuk membuktikan pada Nazhwa jika perasaannya tulus dengan bertekad menjadi seorang dokter seperti yang dikatakan Nazhwa walaupun ia tahu saat itu Nazhwa hanya bercanda.


"Aku gak nyangka, setelah pertemua kita kembali ternyata kamu sudah jadi istri orang. Aku jadi merasa perjuangan ku menjadi seorang dokter sia-sia." Adam tersenyum miris. Yeah, ia tak bisa menyalahkan siapa pun untuk ini. Ia tahu saat itu Nazhwa hanya bercanda namun ia tetap gigih ingin menjadi seorang dokter.


Adam kembali melamun, hingga terdengar ketukan di balik pintu ruangan nya membuat nya tersentak kaget.


"Masuk."


Pintu ruangan nya pun terbuka, seorang wanita yang juga seorang dokter masuk ke ruangan nya dan di tangannya ia membawa sebuah amplop.


"Eh, Dokter Heni, ayo silahkan duduk."


"Biasa aja kali, Dam, gak usah formal gitu." Ucap dokter Heni sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Adam. "Aku ganggu, gak?"


"Kebetulan enggak, karena hari ini pasien aku sedikit. Kamu cuma menggangu lamunan ku." Kekehnya yang membuat dokter Heni juga terkekeh.


"Emang kamu lagi lamunin apa sih?" Tanya dokter Heni.


"Aku lagi lamunin nasib aku aja yang miris." Jawab dokter Adam sambil mengulum senyum. "Oh ya itu kamu bawa apa?" Tanya nya kemudian.


"Oh ini, hasil pemeriksaan pasien ku tapi hasil nya sedikit memburuk. Tapi aku salut sama dia, dia kuat banget gak sampai memperlihatkan kalau dia itu lagi sakit. Bahkan keluarganya pun gak ada yang tahu." Jawab dokter Heni.


"Memang nya pasien kamu sakit apa?" Tanya dokter Adam yang membuat dokter Heni mendengus kesal.


"Hehe, iya maaf aku cuma bercanda. Emang nya sudah seberapa parah sakit ginjal yang di derita pasien mu itu?" Tanya dokter Adam lagi.


"Sudah stadium 4, udah ah gak usah bahas itu lagi. Aku kesini mau nebeng pulang di mobil kamu. Tadi pagi aku cuma naik taksi kesini, mobil aku mogok."


"Oke lah Bu Dokter."


"Dasar kamu Dam."

__ADS_1


__ADS_2