DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 18.


__ADS_3

18.


Seorang wanita berpakaian serba putih tengah duduk di sebuah bangku panjang yang berada di tengah-tengah taman bunga serta banyak nya kupu-kupu yang terbang mengitari bunga-bunga itu. Wajahnya bersinar terang sembari tersenyum hangat pada Andre yang berdiri tak jauh dari bangku panjang yang di dudukinya itu.


"Shalwa, apa itu kamu? Aku sangat merindukan mu."


Andre mencoba mendekati sosok kekasih yang sangat dirindukannya itu, namun saat ia melangkah sebuah kilat berwarna putih tiba-tiba menyambar menghalau langkah nya yang membuat Andre seketika mundur dan kembali berdiri di tempat nya semula.


"Aku sangat merindukan mu, Shalwa. Kenapa kamu pergi? Aku tidak bisa hidup tanpa kamu."


Andre menatap sosok wanita itu dengan penuh permohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Cobalah bersabar ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, percayalah Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya. Dunia kita sudah berbeda, Andre, dan aku menitipkan seseorang yang sangat aku sayangi melebihi kamu bahkan diri ku sendiri. Tapi kenapa kamu selalu membuat nya bersedih? Apa kamu tahu? Di sini aku pun turut merasakan kesedihannya. Aku juga menangis di saat dia menitihkan air mata nya karena sikap mu. Jika kamu tidak bisa membuat nya bahagia, maka jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku akan menjemputnya. Kamu akan hidup dalam penyesalan karena kehilangan orang yang mencintai mu untuk yang kedua kalinya."


Sosok wanita itu perlahan menghilang seiring cahaya putih yang menyinarinya semakin terang.


"Shalwa, aku mohon jangan pergi lagi!"


Andre berteriak histeris saat sosok kekasih nya itu sudah tak terlihat lagi. Ia berlari ke arah bangku panjang itu dan tidak ada siapa pun lagi di sana.


Andre berlari kesana kemari mencari sosok kekasih nya sambil terus meneriaki nama kekasih nya itu, namun tak dapat ia temukan hingga ia jatuh tersungkur karena sudah kelelahan sambil tersedu-sedu diatas tanah yang ditumbuhi rumput-rumput hijau yang tipis menutupi seluruh permukaan tanah.


Di tempat lain, Nazhwa terus mengikuti sosok wanita yang mirip seperti Kakaknya sampai ia tidak sadar saat ini ia sudah berada di dalam sebuah ruangan yang berwarna serba putih. Nazhwa mengedarkan pandangannya mengitari tempat yang asing di mata nya, lalu tatapannya teralihkan kepada sosok wanita yang duduk dengan anggun nya di atas sebuah singgasana yang juga berwarna putih, namun di hiasi dengan berbagai macam bunga-bunga yang berwarna warni.


"Kak Shalwa?" Panggil Nazhwa lirih dengan tatapan menelisik sosok wanita yang duduk di atas singgasana itu.


Sosok wanita itu tersenyum pada Nazhwa.


Nazhwa mencoba melangkah ke arah sosok wanita itu, namun sosok wanita itu meminta nya untuk berhenti melangkah ke arah nya dan tetap diam di tempat nya berdiri.

__ADS_1


"Tidak sekarang, Nazhwa. Terus lah berjuang selagi kau mampu, terus lah berjuang untuk meraih kebahagian mu. Karena bahagia mu adalah bahagia ku juga. Begitu pun dengan kesedihan mu, aku juga bisa merasakan kesedihan mu di sini. Tapi, di saat nanti kau sudah merasa tidak kuat lagi karena tidak bisa meraih bahagia itu, panggil lah nama ku."


Sebuah kabut tebal berwarna putih yang entah dari mana datang nya tiba-tiba menyelimuti ruangan itu sehingga Nazhwa tidak bisa melihat apa pun.


"Kak, Kak Shalwa di mana? Aku tidak bisa melihat apa pun, aku takut, Kak."


Nazhwa berteriak memanggil nama Kakaknya, hingga kabut putih nan tebal itu perlahan menghilang. Namun, sosok wanita di atas singgasana itu sudah tidak ada lagi. Yang membuat Nazhwa merasa takut sendirian berada di dalam ruangan itu.


Beberapa saat kemudian dari arah sudut ruangan muncul sebuah titik cahaya berwarna yang perlahan membesar seolah membelah dinding.


"Pulang lah, Nazhwa. Belum saat nya kamu berada di tempat ini."


Suara yang entah dari mana asal nya membuat Nazhwa tanpa berpikir panjang segera berlari kedalam cahaya yang kini berubah menjadi pusaran. Dan setelah Nazhwa masuk ke dalam sana, pusaran itu perlahan tertutup dan cahaya putih itu pun menghilang.


______________


Nazhwa terbangung sambil berteriak memanggil nama Kakaknya, baru saja ia bermimpi bertemu almarhumah Kakaknya itu.


Bersamaan dengan itu, Andre pun terbangung dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia juga baru saja memimpikan almarhumah kekasih nya.


Andre dan Nazhwa sama-sama terkejut lalu saling melirik sejenak sambil mengatur nafas mereka masing-masing kemudian serentak mengusap wajah mereka yang di penuhi keringat.


Secara bersamaan Andre dan Nazhwa turun dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi. Mereka berdua pun juga secara bersamaan sampai di depan pintu kamar mandi.


"Kamu saja duluan." Andre dengan cepat menarik tangannya yang bersentuhan dengan tangan Nazhwa saat meraih gagang pintu kamar mandi.


"Tidak, Mas saja yang duluan." Nazhwa juga menarik tangannya yang sudah memegang gagang pintu, lalu mundur perlahan dan mempersilahkan Andre untuk lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa berpikir panjang, Andre pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi itu tertutup Nazhwa menoleh melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Nazhwa pun melangkah ke arah lemari dan mengambil mukenah serta sajadah kemudian keluar dari kamar nya menuju kamar tamu.

__ADS_1


Setelah berada di dalam kamar tamu Nazhwa meletakkan mukenah dan sajadah nya di atas tempat tidur lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksana shalat malam.


Andre pun saat ini juga membersihkan diri dan juga ingin melaksanakan shalat malam. Saat keluar dari dalam kamar mandi ia mengernyit melihat sudah tidak ada Nazhwa di dalam kamar. Andre pun langsung saja mengganti piyama tidur nya dengan setelan kokoh, ia membentangkan sajadah dan memulai shalat malam nya.


Begitu pun Nazhwa yang berada di kamar tamu juga sedang melaksanakan shalat malam.


Setelah selesai shalat baik Nazhwa atau pun Andre yang berada di dalam kamar yang berbeda sama-sama menengadahkan kedua tangan mereka.


"Ya Allah, ampuni aku atas sikap ku selama ini terhadap Nazhwa. Wanita yang aku peristri karena amanah seseorang yang sangat aku cintai. Ya Allah, jika apa yang sedang terjadi dalam hidup ku adalah beberapa barisan kisah yang sudah Engkau tuliskan di dalam buku takdir. Aku akan mencoba ikhlas dan menerima nya. Ya Allah, aku mohon bantu aku untuk keluar dari keterpurukan ini atas kepergian Shalwa. Kuatkan dan tegarkan hati ku untuk bisa menerima semua kenyataan ini Ya Allah. Benar apa yang di katakan Shalwa,


Andre memejamkan mata mengingat apa yang di katakan Shalwa di dalam mimpi nya.


'Cobalah bersabar ketika suatu hal yang sangat kamu sayangi hilang, percayalah Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah dari sebelumnya.'


Di dalam kamar tamu, Nazhwa pun melakukan hal yang sama. Mengangkat kedua tangan menengadah.


"Ya Allah, aku iklas menerima apa yang sedang terjadi dalam hidup ku. Aku yakin semua ini hanya lah sedikit ujian dari-Mu agar aku menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Benar apa yang dikatakan Kak Shalwa,


Sama seperti yang dilakukan Andre, Nazhwa pun juga memejamkan mata mengingat ucapan almarhumah Kakaknya di dalam mimpi nya.


'Terus lah berjuang selagi kau mampu, terus lah berjuang untuk meraih kebahagian mu.'


"Jika kebahagian ku juga adalah kebahagian Kak Shalwa, aku berjanji akan berusaha meraih bahagia itu sekuat yang aku bisa demi Kak Shalwa."


Di dalam kamar yang berbeda, namun di waktu yang sama,


"YA ALLAH, AKU IKHLAS MENERIMA SEGALA KETENTUAN TAKDIR-MU. HANYA SAJA HAMBA MEMOHON AGAR ENGKAU LAPANGKAN HATI INI UNTUK MENERIMA SEMUA YANG TELAH TERJADI."


Nazhwa dan Andre menyapu wajah dengan kedua telapak tangan usai memohon dalam doa kepada sang maha pencipta yang mampu membolak-balikan hati manusia.

__ADS_1


__ADS_2