
"Pak Andre, jadi bagaimana? Kita harus mencari Bu Nazhwa kemana lagi?" tanya sekertaris Nanda.
Andre hanya bisa menggeleng lemah, "Entah lah, Nanda, aku juga tidak tahu. Sebaiknya kamu pulang saja, biar saya sendiri yang mencari Nazhwa." ucap Andre dengan lirih.
"Enggak, Pak. Aku pulang pun nanti bakalan gak tenang, izinkan aku ikut mencari Bu Nazhwa ya Pak." mohon sekertaris Nanda sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Andre.
Andre menatap sekertaris nya dengan harus lalu akhirnya ia mengangguk pelan menyetujui permintaan sekertaris Nanda. Karena bagaimanapun juga ia tidak bisa sendirian mencari Nazhwa, ia tetap akan membutuhkan bantuan orang lain nanti nya.
"Pak, apa kita lapor polisi saja untuk meminta bantuan mencari Bu Nazhwa." saran sekertaris Nanda yang membuat Andre tersenyum kecut.
"Tidak Nanda. Aku tahu Nazhwa tidak akan pergi jauh. Dia hanya sedang menghindar dari ku." ucap Andre lirih sambil menggeleng pelan kepala nya.
"Pak, maaf jika saya lancang. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bu Nazhwa tiba-tiba pergi setelah mendengar apa yang di katakan Tuan Alex?"
__ADS_1
"Itu semua karena salah saya sendiri, Nanda. Saya sudah menyembunyikan semuanya dari Nazhwa, seharusnya sejak awal saya mengatakan semuanya pada Nazhwa." tatapan Andre sendu dan lurus menatap ke depan. Saat ini ia dan sekertaris nya sedang duduk di kursi yang tersedia di luar rumah sakit.
"Selama ini Nazhwa berusaha mencari laki-laki yang bersama almarhumah kakak nya saat mengalami kecelakaan. Dan apa kau tahu? Laki-laki itu adalah aku." ucap Andre menjeda kalimat nya sebentar, "Saya adalah kekasih dari almarhumah kakak nya Nazhwa, dan..." Andre menjeda kalimat nya sambil menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. "Dan sebenarnya saya menikahi Nazhwa adalah karena amanah dari kakak nya sendiri di saat akan menghembuskan nafasnya terakhir nya." ucap nya, lalu mengusap cairan bening di sudut matanya yang tiba-tiba saja menetes.
"Nazhwa marah karena sudah tahu saya lah laki-laki yang bersama kakaknya yang selama ini ia cari, dan saya tidak tahu bagaimana nanti jika Nazhwa juga tahu sebenarnya saya menikahi dia hanya karena amanah dari kakaknya. Mungkin Nazhwa akan langsung meninggalkan saya." ucap Andre lagi.
"Padahal, saya baru akan memulai kehidupan rumah tangga kami yang sesungguhnya. Saya akan baru mulai belajar mencintai Nazhwa, tapi entah kenapa kejadian nya malah seperti ini."
Sekertaris Nanda hanya bisa diam menyimak semua yang di ceritakan Andre. Pantas saja selama ini ia memperhatikan jika Andre tampak biasa saja pada Nazhwa, karena memang atasannya itu ternyata menikahi istrinya bukan atas dasar karena cinta. Tapi karena amanah seseorang.
Andre mengusap wajahnya, ia lalu berdiri dari tempat duduknya begitupun dengan sekertaris Nanda.
"Apa harus kita mendatangi rumah sakit satu persatu? Karena aku yakin Nazhwa pasti ada di antara salah satu rumah sakit di kota ini." ucap Andre yang langsung di angguki oleh sekertaris Nanda.
__ADS_1
..._______________...
Di ruangan dokter Adam, entah beberapa belas menit dokter Heni duduk termenung di kursi yang berhadapan dengan dokter Adam.
Sementara dokter Adam sebenarnya tahu apa yang sedang di pikiran oleh dokter Heni, hanya saja ia enggan untuk bertanya. Biarlah nanti teman nya ini yang akan menceritakan sendiri pada nya.
"Pasien aku kabur, Dam, dan anehnya satu pun kamera CCTV gak ada yang menangkap gambar nya." ucap dokter hewan Heni nampak sedikit frustasi, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Nazhwa saat ini. Terlebih keadaan pasien nya itu tidak baik-baik saja.
"Mungkin dia sudah pulang. "Jawab Adam terlihat acuh, sambil memainkan ponselnya.
"Enggak, Dam, dia sama sekali tidak mengajukan rujukan pulang. Lagi pula dia gak bisa pulang begitu saja tanpa izin dari aku." ujar dokter Heni sedikit ngotot.
"Ya berarti benar yang kamu bilang tadi kalau pasien kamu itu kabur." ucap Adam lagi dengan masih terus memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kamu tuh, Dam, bukan nya bantuin aku kasih solusi. Malah ngomong nya santai bener, kamu gak tahu aja gimana keadaan dia sekarang. Jujur ya, udah beberapa tahun aku yang nanganin dia, buat aku benar-benar simpatik sama dia." ujar dokter Heni perlahan melemah.
Adam menghela nafasnya sembari meletakkan ponselnya, ia tahu dan benar-benar tahu bagaimana keadaan pasien temannya itu saat ini.