DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 61.


__ADS_3

Di sebuah butik.


Duduk di sofa yang cukup empuk menurut Alex, dengan menyilang kaki nya sambil sambil memainkan ponsel, menunggu Nanda yang sedang mencoba gaun pengantin di dalam ruang ganti.


Beberapa menit menunggu, Alex langsung mengangkat pandangan saat samar-samar menangkap dari ekor matanya sosok yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


Kedua mata hitam Alex menatap tak berkedip tubuh mungil yang terbalut gaun pengantin berwarna putih. Sangat pas terlihat di tubuh mungil nan putih itu.


Beberapa saat Alex tersadar dari kekagumannya, ia lantas berdiri sembari menyimpan ponsel di balik saku jas.


Dengan langkah pelan menghampiri sang calon istri.


Benar-benar menganggumkan di pandang mata, Alex tak pernah mengira gadis sesederhana Nanda memiliki kecantikan setara keturunan sultan. Di balik kemeja berlengan panjang dan celana bahan panjang yang setiap hari dikenakan Nanda sebagai sekertaris, ternyata menyembunyikan kulit putih dan mulus tanpa belang sedikit pun. Terlihat jelas ketika mengenakan gaun pengantin yang panjang tergerai di lantai, dengan bagian atas hanya menutupi sebatas dada.


Ketika Alex sudah berdiri di hadapan nya, Nanda langsung menunduk malu karena ini adalah pertama kali bagian tubuh nya yang selalu tertutup dengan pakaian kerja, terlihat oleh laki-laki.


Membuat Alex merasa gemas dengan calon istri nya ini.


Ouhhh... Batin Alex menjerit, bisakah pernikahan di langsungkan hari ini juga.


"Bagaimana, Tuan Alex? Apakah Tuan menyukai gaun ini? Jika tidak, kami masih memiliki beberapa gaun lagi."


Ck. Alex berdecak kala lamunan liar nya terbuyar oleh pertanyaan pegawai butik yang berdiri di samping calon istri nya.


Pegawai butik itu langsung menunduk saat Alex melempar tatapan horor.

__ADS_1


"Saya sangat suka dengan gaun ini." Ucap Alex yang langsung membuat pegawai butik itu mengangkat pandangan kembali, tersenyum sumringah.


.


.


.


Setelah membantu Nazhwa berbaring di tempat tidur, Andre bergegas keluar dari kamar menuju dapur. Kini giliran nya untuk mengisi perut yang sejak pagi kosong belum terisi apa pun.


Karena sudah merasa sangat lapar, terpaksa Andre menyeduh mie instan untuk mengganjal perut sembari memesan makanan.


Duduk seorang diri di ruang makan setelah menyantap mie instan yang ia masak dadakan. Andre teringat ucapan Nazhwa beberapa saat yang lalu.


Dan benar saja, tak lama setelah menyantap mie instan perut nya terasa perih. Andre lantas tersenyum, ternyata benar telat makan itu bikin sakit dan rasa nya tidak enak.


Dengan masih mengulas senyum meski perut nya terasa perih, Andre beranjak dari ruang makan dan kembali ke kamar.


Baru membuka pintu, Andre terkejut di ambang pintu melihat Nazhwa yang tengah duduk di atas tempat tidur dengan tangan meraba bekas jahitan di punggung bagian bawah nya. Namun, bukan itu yang membuat Andre terkejut. Tetapi Nazhwa yang saat ini hanya mengenakan tank top, dan sama sekali tidak menyadari keberadaan nya di ambang pintu.


Buru-buru Andre menutup kembali pintu kamar, ia tahu Nazhwa pasti akan marah karena ia melihat tubuh yang selalu tertutup gamis yang belum pernah di sentuh nya. Terlebih beberapa saat lalu Nazhwa sudah mengingatkan tentang ucapan nya dulu yang secara tidak langsung telah menjatuhkan talak.


Andre mengayun langkah menuju ruang tengah, di sana ia duduk berpindah-pindah posisi dan tempat sambil memikirkan kata talak yang di maksud Nazhwa. Jika ia ingin memperbaiki hubungan nya dengan Nazhwa, itu arti nya ia juga harus melakukan ijab kabul ulang.


.

__ADS_1


.


.


Kembali ke Alex dan Nanda.


Usai fitting baju pengantin, dan beberapa saat lalu juga telah membeli cincin pernikahan. Kini mereka berdua berada di sebuah restoran bintang lima yang terletak di pusat ibukota.


Nanda menggeleng pelan kepalanya melihat banyak nya menu makanan yang terhidang di meja, padahal mereka hanya berdua.


"Kau tidak akan kenyang jika hanya terus menatap makanan tanpa memakan nya." Ujar Alex yang langsung membuat Nanda terkesiap.


"Apa mau aku suapi?" Goda Alex sambil mengedipkan sebelah mata nya.


"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa makan sendiri."


Jawaban Nanda membuat Alex berdecak.


"Hei, aku ini calon suami mu."


Nanda tergugu, rencana pernikahan yang sangat dadakan membuat nya belum terbiasa dan bingung bersikap pada Alex.


"Maaf." Kalimat itu spontan terucap dari bibir mungil Nanda. "Saya harus panggil apa?" Tanya nya dengan hati-hati, dengan hanya melirik Alex lalu kembali menunduk.


"Honey!" Jawab Alex tanpa bisa di tawar lagi.

__ADS_1


__ADS_2