DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 17.


__ADS_3





"Pasien kamu sudah pulang?" Tanya Adam, saat ini ia berada di ruangan dokter Heni usai memeriksa para pasien nya.


"Iya," Jawab dokter Heni sambil mengangguk.


"Padahal tadi aku pengen ketemu pasien mu itu, tapi karena hari ini pasien ku juga banyak aku jadi tidak punya kesempatan." Ujar Adam.


"Kan bisa di lain waktu, dalam seminggu ia akan cuci darah dua kali. Tapi untuk apa kamu ingin menemui pasien ku?" Tanya dokter Heni.


"Ya gak apa apa, pengen jadi temen ngobrol nya aja. Siapa tahu dia mau berbagi cerita dibalik alasan dia yang tidak mau memberitahu keluarga nya tentang penyakit nya itu."


"Jangan harap kamu, Dam. Sama aku aja yang sudah lama menanganinya, dia gak pernah mau cerita."

__ADS_1


"Aku jadi semakin penasaran apa alasan dia, ini jadi seperti sebuah misi untuk ku." Ucap Adam tersenyum sambil menaik turunkan sebelah alis nya.


"Aku saranin jangan kepo soal pasien ku deh, Dam. Aku khawatir kamu bakal naksir dia cantik soal nya." Ujar dokter Heni. Ia sedari tadi meladeni celotehan Adam sambil memeriksa catatan medis beberapa pasien nya yang lain. Dan hanya catatan medis milik Nazhwa yang sangat memprihatinkan.


"Oh ya? Wah kalau begitu aku jadi semakin semangat nih buat jadi temen ngobrol pasien mu itu."


"Aku saranin sebaiknya jangan deh, Dam. Kamu lupa aku pernah bilang kalau dia itu sudah punya suami." Ujar dokter Heni memperingati.


"Ya elah, miris banget sih." Senyum Adam seketika sirna. Ia jadi teringat dengan Nazhwa yang ternyata sudah memiliki suami, padahal sejak lama ia mencari Nazhwa untuk mengungkapkan perasaannya.


"Sabar, Dam. Meskipun dunia ini tak selebar daun kelor tapi aku yakin kamu akan menemukan tambatan hati kamu, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Atau kalau kamu mau cepat ya tinggal bawa pulang aja salah satu perawat di sini, kan banyak yang masih single."


"Ya udahlah sama kamu aja." Goda Adam.


_______________


Malam ini Nazhwa tidak memasak untuk makan malam karena merasakan tubuhnya benar-benar lemah, namun sejak sore ia sudah memesan makanan dari luar, dan setelah datang ia langsung menatanya di meja makan.


Andre sedikit penasaran kenapa malam ini Nazhwa tidak memasak dan hanya memesan makanan dari luar, namun ia merasa enggan untuk bertanya. Biasanya Istrinya itu sangat antusias untuk memasak, dan malam ini Andre makan hanya sedikit karena makanan yang di pesan Nazhwa itu tidak pas di lidahnya. Apa lagi saat melihat wajah Nazhwa yang berbeda dari biasanya. Entah kenapa ia merasa tidak suka melihat Nazhwa berdandan, membuat ia benar-benar tidak mood. Andre lebih suka melihat Nazhwa tanpa riasan di wajah nya.

__ADS_1


"Mas, tumben makannya tidak habis?" Nazhwa mengernyit bingung melihat piring Andre yang masih penuh dengan makanan tidak seperti biasanya yang selalu habis.


"Kenyang." Jawab Andre singkat lalu beranjak dari ruang makan menuju ruang kerjanya.


Kesempatan ini digunakan Nazhwa untuk segera meminum obatnya yang simpan didalam saku celana.


Setelah membereskan meja makan, Nazhwa pergi ke kamar untuk tidur nya. Sebenarnya ia ingin menghampiri Andre yang berada di ruang kerjanya, namun karena tubuhnya yang benar-benar terasa lemas ia lebih memilih untuk tidur dan berharap semoga esok pagi saat terbangung tubuhnya terasa lebih baik.


Setelah berada didalam kamar Nazhwa berdiri di sisi ranjang sambil menatap tempat tidur yang beralaskan sprei putih. Kata orang, sepasang pengantin baru akan menodai sprei putih itu dengan noda berwarna merah hasil dari penyatuan pertama mereka. Dan saat itu lah seorang wanita berubah status menjadi istrinya yang sesungguhnya. Nazhwa tersenyum kecut mengejek diri nya sendiri karena sampai saat ini ia belum merasakan yang namanya malam pertama.


Bukan karena nafsu, ia meminta untuk di sentuh. Tetapi karena hal yang tidak bisa ia jelaskan pada suaminya. Yang jelas ia hanya ingin akan ada yang menggantikan diri nya menjadi penghibur ayah dan ibunya jika suatu saat nanti ia benar-benar pergi menyusul Kakaknya.


Perlahan Nazhwa naik ke atas tempat tidur, ia membaringkan tubuhnya lalu mulai memejamkan mata. Bisa kah ia berharap ini semua hanya lah mimpi, dan di saat esok pagi ia terjaga semua nya kembali seperti dulu. Hidup sehat tanpa penyakit, menjalani hari-hari yang indah bersama ayah ibu dan Kakaknya. Terutama berada dalam ikatan pernikahan yang bukan lah impiannya.


Setelah beberapa saat berada di ruang kerjanya sambil menatap foto almarhumah Shalwa yang ia lakukan hampir setiap malam, Andre pun keluar dari ruangan nya itu karena sudah merasa ngantuk.


Saat melewati ruang makan ia sudah tak melihat Nazhwa lagi di sana yang telah merusak mood nya karena makanan yang tidak pas di lidahnya belum lagi riasan wajah Nazhwa yang ia tidak suka melihat Istrinya itu berdandan. Karena menurutnya Nazhwa sudah cantik tanpa harus merias wajahnya seperti itu.


Setelah berada di dalam kamar, Andre mendapati ternyata Nazhwa telah tidur. Ia pun naik ke atas tempat dan berbaring. Sejenak ia menoleh menatap Nazhwa yang sudah tertidur pulas, lalu ia memiringkan tubuhnya membelakangi Nazhwa.

__ADS_1


Sebagai lelaki normal, bohong jika ia tidak memiliki keinginan untuk menyentuh Istrinya itu. Namun ia juga tidak ingin menjadi lelaki brengsek yang setelah mendapatkan apa yang diinginkannya ia akan meninggalkan saat nanti tiba waktu yang sudah ia tentukan untuk menceraikan Nazhwa.


Andre pun segera memejamkan mata untuk menghalau segala pemikiran dan keinginan yang bisa membuat nya benar-benar menjadi laki-laki brengsek.


__ADS_2