
"Nak Alex, Nanda nya mana?" Tanya ibu yang melihat hanya Alex seorang diri yang turun dari mobil.
"Nanda nya ketiduran, Bu. Boleh aku gendong Nanda masuk ke dalam?"
Ayah dan ibu saling bertatapan, bukan nya tidak boleh tapi karena tidak mau merepotkan calon menantu mereka yang sudah sangat baik membantu mendapatkan hak ayah atas kecelakaan kerja yang di alami nya dulu.
"Nanda nya di bangun kan saja ,Nak Alex. Tidak usah di gendong. Duh tuh anak kok pake ketiduran segala sih? Bikin repot aja." Ucap ibu sambil sedikit mendumel.
Alex tersenyum. "Sama sekali tidak merepotkan kok, Bu," Ujar Alex. "Malah rejeki buat aku." Sambung nya dalam hati.
"Biar aku gendong Nanda aja ya? Ke dalam." Ucapnya lagi.
Ibu dan ayah kembali saling menatap beberapa saat lalu serentak mengangguk pelan sebagai persetujuan mereka.
Tersenyum lebar sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya, Alex lalu membuka pintu mobil di samping Nanda. Sejenak ia menatap wajah calon istrinya yang masih tertidur pulas, lalu melepas sabuk pengaman yang terpasang ditubuh mungil itu.
Ayah dan ibu menggeleng-geleng kepala saat Alex sudah menggendong Nanda dan melangkah masuk ke dalam rumah, putri mereka benar-benar merepotkan calon suaminya.
Ayah dan ibu pun mengekor di belakang tubuh kekar calon menantu nya.
__ADS_1
"Nak Alex, kamar Nanda di sana." Tunjuk ibu ke arah kanan, karena Alex berjalan ke arah kiri menuju dapur.
Alex terkekeh lalu membalik badan dan melangkah ke arah yang ditunjuk calon ibu mertua nya.
Setelah membaringkan tubuh Nanda di atas tempat tidur, Alex menegakkan badannya sembari menyeka keringat di keningnya. Meski memiliki tubuh mungil ternyata Nanda cukup berat juga.
Alex mengulum senyum ketika melihat ke arah pintu dan ternyata kedua calon mertua nya tidak mengikuti nya.
Cup...
Satu kecupan mendarat di kening Nanda. Alex telah mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Setelah berpamitan pada ayah dan ibunya Nanda, Alex pun bergegas pulang. Masih ada beberapa hal lagi yang harus ia pernah persiapkan untuk pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi.
.
.
.
__ADS_1
Plak...
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanan Andre. Papa nya begitu murka setelah mendengar pengakuan putra nya.
"Jika Papa yang menjadi Ayah nya Nazhwa, Papa gak akan memberikan kesempatan apapun pada mu!"
Papa benar-benar marah, terlebih saat Andre mengatakan ingin mengulang ijab kabul karena pernah mengatakan akan menceraikan Nazhwa setelah enam bulan pernikahan mereka.
"Pa, sudah Pa. Andre kan sudah mengakui kesalahannya dan Andre mau memperbaiki semuanya." Mama memeluk lengan suaminya agar tak menampar putra nya lagi.
"Kamu beruntung, Andre. Karena Nazhwa dan Ayah nya masih mau memberikan kesempatan untuk kamu!" Sarkas papa sembari menunjuk putra nya.
Andre hanya diam membeku tanpa berani menjawab. Ya, ia sangat beruntung karena ayah mertuanya tak memberikan tamparan seperti yang papa nya lakukan.
Beberapa saat ruangan itu pun hening.
"Papa malu berhadapan dengan Ayahnya Nazhwa setelah apa yang kamu lakukan terhadap Putri mereka."
"Aku mohon, Pa kali ini saja bantu Andre.''
__ADS_1
"Cihhh, baru sekarang kamu menyesal. Jika saja Papa tahu sejak awal alasan kamu menikahi Nazhwa, Papa tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi. Kamu hanya membuat anak gadis orang tersiksa batinnya." tukas Papa dengan sinis.