DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 62.


__ADS_3

Beberapa saat termenung seorang diri di ruang tengah. Andre berdiri dari sofa yang di duduki nya seraya menghela nafas panjang. Ia ingin kembali ke kamar dan berharap dalam hati, Nazhwa telah mengenakan gamis nya kembali.


Setelah berada di depan pintu kamar, Andre sedikit menunduk dan mengintip dari lubang kunci untuk memastikan jika Nazhwa tak hanya memakai pakaian dalam seperti beberapa saat lalu. Karena sebagai lelaki normal tak menutup kemungkinan jika ia tidak tergoda melihat tubuh seorang wanita. Terlebih itu adalah istrinya sendiri.


Andre mengulas senyum setelah melihat dari lubang kunci jika Nazhwa sudah mengenakan gamis nya kembali dan terlihat berbaring di tempat tidur sama seperti saat ia tinggalkan untuk mengisi perut.


Andre pun membuka pintu kamar dengan pelan agar tak menganggu Nazhwa yang mungkin saja tertidur.


Setelah menutup kembali pintu kamar, dengan mengendap Andre melangkah menuju kamar mandi.


"Mas...


Langkah Andre terhenti sebelum sampai di depan kamar mandi, ia menoleh ke arah tempat tidur dan mendapati Nazhwa menatap nya dengan sendu.


"Iya, ada apa Nazhwa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Andre, ia hanya menoleh kan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin bicara." Jawab Nazhwa.


Andre pun membalik badannya seraya mengulas senyum. "Kebetulan aku juga ada yang aku bicarakan dengan mu." ujar Andre, ia pun melangkah ke tempat tidur.


Andre mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur, ia dengan sigap membantu Nazhwa saat istrinya itu hendak bangun dan terlihat kesusahan.


"Apa yang ingin Mas Andre bicarakan?" Tanya Nazhwa.


"Kamu saja yang duluan." Ujar Andre.


"Tidak, Mas saja yang duluan." Ucap Nazhwa.


Andre menggeser posisi nya lebih mendekat pada Nazhwa, tangannya terulur meraih tangan Nazhwa kedalam genggamnya.


"Aku tahu semua yang aku perbuat selama ini sama kamu sulit untuk termaafkan. Sikap dingin ku yang terus mengabaikan mu. Juga menutupi semua dari mu yang seharusnya aku beritahukan pada mu."

__ADS_1


Nazhwa masih terdiam dengan wajah yang datar, namun sesekali ia melirik kepada tangannya yang di genggam Andre. Ingin sekali ia menarik tangannya, namun entah kenapa rasanya begitu sulit. Genggam sang suami begitu menenangkan dan membuat nya menghangat.


"Dan teruntuk ucapan ku saat itu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu jika apa yang aku ucapkan sangat berakibat fatal. maka dari itu aku ingin memperbaiki semuanya. Memulai hubungan kita dari awal yang baru dan aku ingin mengulang ijab Kabul."


Kalimat panjang lebar yang di ucapkan Andre membuat Nazhwa membeku. Sesaat ia menoleh menatap wajah teduh sang suami usai mengutarakan kalimat panjang itu.


Mengulang ijab Kabul?


Nazhwa sendiri tidak pernah terpikirkan untuk hal itu, yang ada dalam pikiran nya hanyalah tentang memberi kesempatan atau tidak pada Andre.


"Besok kita akan ke rumah Ayah dan Ibu. Besok aku akan memberi tahu semuanya pada mereka. Sudah cukup selama ini aku menjadi pengecut karena sudah menyembunyikan semuanya tentang Shalwa dari kalian semua. Besok aku...


"Mas tahu apa yang akan terjadi setelah itu?"


Mendadak Nazhwa mengkhawatirkan Andre. Ia masih ingat betul kala sang Ayah di beritahu jika Shalwa bersama seorang laki-laki saat terjadi kecelakaan itu. Namun hingga beberapa bulan laki-laki itu tidak pernah menampakkan diri untuk memberikan penjelasan tentang kecelakaan itu. Ayah marah dan menganggap laki-laki itu adalah pembunuh Shalwa.

__ADS_1


"Aku tahu. Dan aku siap menerima kemurkaan Ayah. Asalkan Ayah tidak minta kita untuk berpisah. Jika pun itu terjadi, aku akan memohon di kaki Ayah." jawab Andre dengan tenang seolah ia baru saja mengatakan hal ringan.


Nazhwa menggeleng pelan kepala nya, ia tidak yakin jika sang Ayah nya nanti tidak mengatakan hal itu. Meminta mereka untuk berpisah, mengingat bagaimana marah nya sang ayah dulu


__ADS_2