DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 66.


__ADS_3

"Ingat Andre, kesempatan itu tidak datang dua kali. Jadi Papa mohon pergunakan kesempatan yang sudah diberikan sebaik mungkin. Jika kamu membuat kesalahan lagi, Papa tidak akan membantu mu lagi." Peringatan Papa dengan raut wajah yang datar.


"Iya, Pa." Jawab Andre sambil mengangguk pelan melihat papa nya dari kaca spion di depan nya. Saat ini ia dan kedua orangtuanya sedang menuju ke rumah Nazhwa.


Beberapa saat lalu Andre memohon pada papa nya agar mau datang ke rumah Nazhwa untuk melakukan ijab Kabul ulang, meski awalnya papa tidak mau karena merasa malu berhadapan dengan orangtuanya Nazhwa. Namun, akhirnya papa setuju karena ia juga tidak ingin kehilangan menantu sebaik Nazhwa.


Di samping Andre juga sudah ada seorang penghulu.


Lebih dari tiga puluh menit berkendara, mobil Andre pun telah terparkir di pelataran rumah Nazhwa.


Ayah nya Nazhwa yang kebetulan sedang duduk di teras menikmati secangkir kopi, langsung beranjak menghampiri besan nya. Meski merasa kecewa dan marah pada menantu nya, namun ayah tetap menyambut dengan hangat kedua besan nya.


Papa langsung memeluk ayahnya Nazhwa dengan erat sembari mengusap-usap pelan punggung besan nya itu. Dan ayah pun melakukan hal yang sama.


"Maaf kan kebodohan putra kami. Kami pikir Nazhwa adalah kekasih nya Andre yang selalu ia ceritakan." Ujar Papa.


Dulu Andre memang selalu bercerita pada orang tuanya tentang kekasih nya, namun Andre tidak menyebutkan namanya.


Saat Andre mengatakan ingin melamar seorang gadis, papa dan mama mengira gadis itu adalah kekasih yang sering di ceritakan Andre. Namun, ternyata gadis itu adalah yang seharusnya menjadi adik ipar Andre, tetapi terpaksa Andre nikahi karena amanah dari kekasihnya sebelum meninggal.

__ADS_1


"Sudah tidak perlu dibahas lagi. Saya memang marah dan kecewa tapi saya juga senang karena Andre sudah mengakui dan mau bersungguh-sungguh untuk memperbaiki pernikahannya dengan Nazhwa." Ujar Ayah sembari mengurai pelukan besan nya.


"Ayo, mari masuk." Ajak ayah lalu tersenyum pada laki-laki paruh baya yang berdiri di samping Andre yang ia yakini adalah seorang penghulu.


Setelah berada di dalam rumah, ayah bergegas memberitahu istrinya untuk menyuruh Nazhwa bersiap-siap.


.


.


.


Beberapa saat terus menatap dirinya di depan cermin, tiba-tiba ia teringat dengan almarhum sang kakak yang katanya telah menitipkan nya pada Andre.


"Segitu sayangnya Kak Shalwa pada ku sampai-sampai harus meminta laki-laki yang Kakak cintai untuk menikahi aku."


Nazhwa tersenyum kecut, jika dipikir Andre tidak bersalah apapun karena Andre hanya sedang menjalankan amanah. Salah nya karena Andre tidak pernah jujur dan mengatakan semuanya.


"Mas Andre memang berjanji untuk memperbaiki pernikahan kami dan akan belajar mencintai ku. Tapi aku tahu selamanya di hati Mas Andre ada nama Kak Shalwa." Nazhwa mengulas senyum sambil mengusap cairan di sudut matanya.

__ADS_1


Seharusnya ia bahagia hari ini, karena mulai hari ini pernikahan yang sesungguhnya akan ia jalani bersama laki-laki pertama yang telah membuat nya jatuh hati saat pertemuan pertama.


"Sudah siap, Nak?" Tanya ibu yang baru saja masuk ke kamar.


Nazhwa pun menoleh menatap ibunya. "Iya, Bu." Jawab nya sambil tersenyum tipis.


"Kita keluar sekarang ya. Gak mau pakai kursi roda nya?" Tanya ibu.


Nazhwa menggeleng pelan. "Gak usah, Bu. Aku bisa kok jalan pelan-pelan aja. Kalau pakai kursi roda terus takut nya kaku." Ucap Nazhwa lalu terkekeh kecil.


Ibu pun tersenyum lalu merangkul lengan Putri bungsu nya itu. "Semoga mulai hari dan seterusnya rumah tangga mu selalu di limpahkan kebahagiaan ya Nak. Di sana Shalwa juga pasti bahagia melihat kamu bahagia." Ujar ibu, ia tersenyum namun matanya berkaca-kaca mengingat almarhumah putri sulungnya.


"Setelah ini, kita ziarah ke makam Kak Shalwa sama-sama ya, Bu."


Di ruang tamu, beberapa orang tetangga juga turut di undang oleh ayah untuk menyaksikan ijab kabul ulang yang akan dilakukan Andre. Ayah bersyukur karena tetangga yang ia undang tak banyak bertanya dan sepertinya sudah memahami apa yang terjadi, mereka antusias datang saat ayah mengundang mereka untuk datang.


Andre juga sudah duduk berhadapan dengan penghulu, di sisi kirinya papa dan mama duduk berdampingan.


Andre langsung mengangkat pandangan saat Nazhwa datang bersama ibu mertuanya. Dada seketika berdebar kala Nazhwa sudah duduk di sampingnya. Berbeda saat dulu ia terpaksa menikahi Nazhwa, ia tak merasakan desiran apapun di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2