
13.
"Hanya sedetik untuk berpikir tentang kamu saat pagi tiba, namun mulai hari ini senyuman di wajahku akan berlangsung hingga sepanjang hari dan tentunya tanpa bayang-bayang mu lagi. Selamat pagi."
Dengan gaya yang berbeda dari biasanya Adam masuk kedalam mobil dan seperti biasa ia akan berangkat ke rumah sakit. Hari ini ia sudah meninggalkan satu kebisaannya sebelum berangkat. Yaitu menatap foto Nazhwa seolah itu adalah penyemangatnya.
Yah, sejak semalam Adam sudah memutuskan untuk move on dari Nazhwa dan memulai hari tanpa memikirkan wanita itu lagi. Pertemuannya dengan Nazhwa kemarin sudah cukup menyadarkannya bahwa kita jangan terlalu berharap kepada sesama manusia. Jika apa yang sudah kita rancang jauh-jauh hari tak sesuai dengan apa yang kita harapakan maka jangan lah menyalahkan siapa pun kecuali diri mu sendiri.
Berharaplah kepada sang pencipta semata, mintalah dan memohonlah pada nya untuk setiap yang kita inginkan agar terkabul sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Jalanan ibu kota tak lekang dari keramaian kendaraan yang berlalu lalang. Namun, hari ini tak terjadi kemacetan yang menyebabkan Adam terlambat tiba dirumah sakit seperti yang ia alami di hari hari kemarin.
"Lihatlah, Dam, alam pun seolah ikut bahagia atas kewarasanmu." Adam berbicara pada diri nya sendiri sambil terkekeh lalu turun dari mobil nya.
Ia melangkah masuk kedalam rumah sakit dengan begitu riang nya seolah tak memiliki beban hidup sebelum nya.
"Dam, tunggu."
Teriakan dokter Heni menghentikan langkah Adam, ia langsung menoleh ke asal suara.
"Ada apa?" Tanya Adam setelah dokter Heni sudah berada di hadapannya.
"Dam, ponsel ku mati, sementara sekarang aku harus telephone pasien ku itu untuk mengingatkannya jika hari ini jadwal kontrol nya. Dia sering lupa soalnya."
__ADS_1
"Lalu?"
"Yah aku mau pinjam ponsel kamu, Dam."
"Baiklah," Adam pun merogoh saku celananya mengambil ponsel lalu memberikannya pada dokter Heni. "Kamu pakai saja dulu, nanti kalau sudah selesai langsung antarkan ke ruanganku."
Dokter Heni hanya mengangguk sambil mengetik digit angka nomor yang hendak di telephone nya.
Adam pun pergi ke ruangannya bersamaan dengan tersambungnya panggilan dokter Heni pada pasien nya itu.
"Assalamu alaikum,"
"Waalaikum salam."
"Nazhwa, ini aku Dokter Heni. Ponsel ku mati jadi aku pakai ponsel temanku. Aku cuma mau mengingatkan kalau hari ini jadwal kontrol kamu."
"Baiklah, aku tunggu."
Sambungan telephone pun terputus, dokter Heni pun pergi ke ruangan Adam untuk mengembalikan ponsel nya.
Sementara itu Nazhwa yang baru saja menyimpan ponsel nya di atas nakas setelah habis mendapatkan telephone dari dokter pribadi nya, ia langsung menghampiri Andre yang sedang memasang dasi di depan cermin.
Nazhwa langsung mengambil alih memasang dasi suami nya, Andre hanya diam saja karena tidak ingin berdebat sepagi ini.
__ADS_1
Wajah mereka sangat berdekatan dan Andre mengerutkan keningnya saat mempethatikan wajah Nazhwa terlihat putih kepucatan. Dan Andre tahu itu bukan lah karena bedak yang Nazhwa pakai karena ia tahu jika Istrinya ini belum mandi.
Andre mencoba mengingat-ingat lagi, entah sudah berapa kali ia mendapati wajah Nazhwa yang nampak pucat, dan kali ini ia bisa melihat nya dengan jelas karena jarak mereka terlalu dekat.
"Kalau lagi tidak enak badan tidak usah memasak, pesan saja dari luar. Untuk makan siang ku nanti biar Nanda yang memesan nya." Ujar Andre yang membuat Istrinya itu langsung mengangkat wajah menatap nya.
Nazhwa tersenyum, "Bekal Mas sudah siap." Ucap Nazhwa sambil menunjuk ke arah sofa yang terdapat sebuah kotak makan yang berdekatan dengan tas kerja suami nya.
"Huh?" Andre sedikit terkejut, kapan Nazhwa membuat bekal untuk nya, setahunya tadi Nazhwa masih berbaring di atas tempat tidur sampai ia selesai mandi. Karena itu lah ia berpikir Nazhwa sedang tidak enak badan apa lagi wajahnya yang nampak pucat.
"Tadi aku menyiapkannya saat Mas sedang mandi." Ujar Nazhwa yang seolah tahu keterkejutan Andre.
Setelah selesai memasangkan dasi suami nya itu, Nazhwa pun berjalan ke arah sofa mengambil tas kerja dan kotak makan untuk Andre.
"Oh ya, Mas, nanti aku mau pergi ketemu temen aku ya." Izin Nazhwa seraya memberikan kotak makan dan tas kerja milik Andre.
Nazhwa tetap meminta izin meski tahu Andre tidak akan mempermasalahkan ke mana pun ia ingin pergi. Dan lihatlah suami nya itu sama sekali tak menanggapi kalimat izin nya, Andre langsung saja keluar dari kamar setelah mengambil kotak makan dan tas kerja nya dari tangan Nazhwa tanpa mengucapka sepatah kata pun, setidaknya berpamitan atau membiarkannya mencium tangan seperti yang dilakukan pasangan suami istri pada umum nya ketika sang suami hendak berangkat bekerja. Istri mencium punggung tangan suami nya, begitu pun suami mengecup kening Istrinya seraya melantunkan kalimat mesra sebelum berangkat bekerja.
Andai, yah lagi-lagi Nazhwa hanya bisa berandai Andre dapat melakukan itu semua. Nazhwa tersenyum miris pada diri nya sendiri. Kadang-kadang ia berpikir untuk apa dijadikan istri jika hanya untuk di perlakukan seperti ini.
Setelah mendengar deru mesin mobil Andre yang sudah meninggalkan pelataran rumah, Nazhwa pun segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini akan dilakukan pemeriksaan lagi tentang perkembangan penyakitnya, namun Nazhwa tahu jika hasil nya pasti tidak akan memuaskan karena ia sendiri dapat merasakan berbagai sensasi keluhan yang ia rasakan di tubuhnya. Namun ia juga bangga pada diri nya sendiri karena bisa menahan keluhan yang ditimbulkan oleh penyakitnya itu dan tidak sampai memperlihatkan kepada siapa pun jika ia sedang sakit. Termasuk kepada Andre sekali pun yang tidak hanya tinggal di bawah satu atap, tetapi juga tidur di atas ranjang yang sama.
Setelah selesai bersiap, Nazhwa mengambil catatan medis nya yang ia sembunyikan di atas lemari karena takut sewaktu-waktu Andre menemukan nya jika ia menyimpan di dalam lemari. Setelah itu Nazhwa pun bergegas berangkat ke rumah sakit. Tak lupa juga ia mengirim pesan pada sekertaris Nanda, memberitahu sekertaris suami nya itu jika hari ini ia akan pergi ke rumah sakit untuk kontrol. Seperti yang pernah dikatakan sekertaris Nanda jika ia harus selalu memberitahu nya setiap kali ingin pergi ke rumah sakit. Yah, anggap saja itu adalah sogokan agar sekertaris Nanda tidak memberitahu pada Andre tentang penyakitnya. Nazhwa juga tidak mengerti kenapa gadis itu begitu baik pada nya, bahkan rajin melaporkan tentang apa pun yang dilakukan Andre.
__ADS_1
Nazhwa terkekeh, ia jadi merasa memiliki mata-mata pribadi untuk mengintai suami nya meski Nazhwa tahu Andre tidak akan berbuat hal yang macam-macam di luar sana. Hanya saja ia tidak mengerti kenapa suami nya itu bersikap dingin dan cuek pada nya. Bahkan terkesan tidak perduli sama sekali.
Tak lama kemudian, Nazhwa pun telah sampai dirumah sakit.