
"Bu, bawa Nazhwa masuk ke dalam." Perintah ayah dengan suara berat nya.
Melihat raut wajah sang suami yang tidak bersahabat, ibu pun beranjak mendorong kursi roda yang di duduki Nazhwa menuju kamar putri nya itu.
Sesekali Nazhwa menoleh melihat Andre yang sudah tertunduk dalam, usai menceritakan semua tentang kecelakaan yang ia alami bersama Shalwa dan berakhir pada amanah sebelum sang kekasih menghembuskan nafas terakhirnya.
Dada ayah seketika bergemuruh setelah mengetahui jika putri bungsunya dinikahi hanyalah karena sebuah amanah bukan atas dasar keinginan menantunya sendiri. Terlebih yang memberi amanah itu adalah putri sulungnya sendiri.
Perasaan ayah begitu campur aduk, amarah yang membuncah beradu dengan kesedihan yang mendalam karena sekian lama nya Nazhwa menderita sakit dan ia sebagai orang tua baru mengetahui hari ini. Namun, ada sedikit kelegaan karena Nazhwa sudah menjalani transplantasi ginjal.
Andre masih menunduk membeku, ia tahu jika ayah mertuanya begitu marah saat ini dan ia sudah siap menerima kemurkaan ayah mertuanya itu.
Marah, benar-benar sangat marah. Itulah yang dirasakan ayah ketika tatapan nya kembali tertuju pada Andre. Ia pikir laki-laki yang datang melamar putri bungsunya kala itu, datang membawa cinta yang tulus untuk Nazhwa nya namun, ternyata tidak sama sekali seperti itu.
Beberapa saat masih belum terdengar kalimat amukan yang sudah siap ia tunggu sejak tadi, Andre pun memberanikan diri mengangkat pandangan menatap ayah mertuanya. Beberapa kali kedua mata nya mengerjap melihat tatapan ayah yang begitu tajam menyoroti nya.
"Ayah, aku tahu aku sudah salah besar karena tidak jujur sejak awal. Tapi aku mohon tolong beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Kesempatan apa yang kamu minta?!" Nada tanya sarkas yang terlontar dari mulut ayah membuat Andre tergugu beberapa saat.
__ADS_1
Andre menghela nafas berat mendengar pertanyaan ayah yang begitu formal, tidak seperti biasanya ayah selalu memanggil nya dengan sebutan 'Nak Andre' Dari sini ia tahu jika Ayah sangat marah padanya.
"Aku ingin mengulang ijab Kabul bersama Nazhwa, Yah. Aku berjanji akan mencintai dan menyayangi Nazhwa dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku berjanji tidak memberikan kesakitan lagi pada Nazhwa selain kebahagiaan dengan cara ku sendiri."
Ayah tersenyum kecut mendengar penuturan menantu nya. Dari sini ia menangkap jika selama ini putri nya di perlakukan dengan tidak baik oleh suaminya.
"Jangan berjanji pada ku, jika janji mu kepada Tuhan saja bisa kau ingkari." ucap ayah begitu dingin.
"Meskipun saat itu kau menikahi Nazhwa atas dasar amanah dari kakaknya. Tapi saat kau mengucap ijab kabul atas nama Nazhwa, kau sudah berjanji pada Tuhan mu untuk melindungi dan mencintai istri mu. Tapi... " Suara ayah tertahan, rasa nya tak sanggup meneruskan kalimat nya.
"Aku sudah membuat kesalahan besar karena tanpa aku sadari telah mempermainkan sesuatu yang sakral. Maka dari itu aku mohon Ayah, berikan aku kesempatan untuk membuka lembaran baru bersama Nazhwa, memulai semua nya dari awal tanpa ada kata amanah lagi di dalam pernikahan ku dan Nazhwa."
Dengan raut wajah yang dingin, ayah menegakkan posisi duduk sembari menatap Andre dengan lekat.
"Ayah memang marah pada mu, sangat marah atas ketidakjujuran mu. Tapi Ayah tidak bisa membuat keputusan apa pun soal rumah tangga putri Ayah. Ayah juga tidak bisa memberikan kesempatan itu pada mu,
Seketika Andre lemas mendengar ucapan ayah mertua nya, ia langsung menatap ayah dengan penuh permohonan.
"Karena Nazhwa lah yang lebih berhak untuk memberikan kesempatan atau tidak pada mu, bukan Ayah. " Sambung ayah yang langsung membuat Andre bernafas lega.
__ADS_1
Andre tadi sempat berpikir jika ayah tak akan memberikan nya kesempatan dan akan meminta nya untuk berpisah dengan Nazhwa.
Andre langsung beringsut duduk bersimpuh di depan ayah, menggenggam tangan yang sudah terdapat kerutan di punggung tangan.
"Terima kasih Ayah. Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan." ujar Andre dan langsung mencium tangan ayah.
Meski marah, ayah tak bisa bertindak sesuai amarah nya. Karena semua sudah terlanjur terjadi dan mungkin memang sudah seperti itu takdir kedua putri nya.
"Ayah tidak memberikan mu kesempatan, tidak juga memberimu dukungan. Kau hanya perlu berjuang dan berusaha sendiri, karena Ayah lihat Nazhwa juga kecewa pada mu." ujar Ayah.
Andre mengangguk, ia tahu jika Nazhwa sangat kecewa pada nya. Jika saja ayah tahu Nazhwa pernah melarikan diri dari nya, entah apa yang akan dikatakan oleh ayah mertua nya ini.
"Berdiri lah, jangan bersimpuh di hadapan Ayah. Sekarang temui Nazhwa dan bicarakan baik-baik dengan nya. Tapi jika Nazhwa lebih memilih mundur maka Ayah tidak bisa membantu apa pun." ucap Ayah.
Andre mengulas senyum meski pun hati seketika gundah karena perkataan ayah mertua nya barusan.
Dengan sedikit tertatih Andre berdiri setelah sebelum nya kembali mencium tangan ayah mertua nya.
Tanpa menunggu lagi, Andre segera mengayun langkah menuju kamar Nazhwa.
__ADS_1