
Malam hari...
Nazhwa yang baru saja menyimpan mukenah nya usai shalat Isya bersama sang suami, tersentak kaget saat tiba-tiba kedua tangan kekar melingkar di perut nya dari belakang. Sontak ia mengelus dada, namun terbit sebuah senyuman di wajah nya.
"Mas, bikin kaget aja sih!"
"Maaf, kamu sih cantik banget apa lagi kalau gak pakai hijab gini." Sebelah tangan Andre terangkat membelai rambut panjang Nazhwa yang dibiarkan terurai.
"Ya ampun Mas, kemana aja sih selama ini?"
Andre menarik tangan nya lalu memutar tubuh Nazhwa berhadapa dengan nya. "Maaf, aku terlambat menyadari nya. Aku baru sadar dengan semua yang telah terjadi mungkin sudah menjadi garis takdir kisah ku. Maaf kan aku yang tidak bisa menerima keadaan dan menyakiti mu berulang kali." Jari jemari nya ia tuntun membelai wajah istri nya yang sudah merona. Berakhir pada dagu dan menarik nya agar Nazhwa menatap nya.
"Tidak perlu menyesali apa pun, Mas. Yang telah terjadi biarlah menjadi pelajaran untuk kita agar di kemudian hari kita bisa lebih bijak dalam menghadapi masalah, ataupun cobaan yang di berikan kepada kita."
__ADS_1
Andre mengulas senyum, penyesalan terbesar dalam hidup nya jika ia benar-benar menceraikan gadis sebaik Nazhwa.
"Terima kasih untuk semua nya. Aku tidak akan berjanji apa pun, karena aku sendiri tidak bisa menjamin bisa menepati janji ku. Tapi aku akan membuktikan nya dengan perbuatan, mencintai dan menyayangi mu dengan cara ku. Terima kasih karena sudah mencintai ku. Jika aku boleh jujur, aku sangat berterima kasih pada Shalwa yang telah memilihkan istri terbaik untuk ku, dan bodoh nya aku hampir saja menyia-nyiakan nya."
Nazhwa tersenyum mendengar nama kakak nya di sebut. Saat masih hidup sang kakak selalu lebih mementingkan diri nya tanpa perduli rasa lelah di tubuh setelah seharian bekerja. Shalwa selalu mengutamakan diri nya dari apa pun dan selalu memastikan ia bahagia.
"Mas percaya tidak? Kak Shalwa pernah bilang pada ku, apa pun milik nya juga akan menjadi milik ku."
Andre mengangguk pelan karena pada kenyataan nya apa yang di katakan Nazhwa itu benar. Dulu beberapa kali ia membelikan gelang untuk Shalwa, namun keesokan hari nya Shalwa sudah tak mengenakan gelang itu lagi. Bila di tanya Shalwa menjawab telah memberikan gelang itu pada adik nya, dan Shalwa juga mengatakan bahwa apa pun milik nya juga akan menjadi milik adik nya.
Andre tersenyum, sekali lagi kata-kata Shalwa terbukti. Apa pun milik nya juga akan menjadi milik adik nya.
"Sebenar nya dulu Kak Shalwa sering bercerita tentang kekasih nya pada ku, hanya saja Kak Shalwa tidak pernah menyebutkan nama nya."
__ADS_1
"Oh ya? Memang nya Shalwa sering bercerita apa tentang ku?"
"Banyak sekali, dan Kak Shalwa terlihat sangat bahagia saat bercerita tentang kekasih nya itu." Jawab Nazhwa sambil tersenyum. Ia tidak menyangka jika sosok laki-laki yang dulu sering di ceritakan oleh almarhumah kakak nya itu kini telah menjadi suami nya.
Beberapa saat kamar itu hening, baik Nazhwa mau pun Andre sama-sama terdiam dengan saling menatap, hingga Andre tiba-tiba teringat dengan misi nya malam ini.
Andre pun menarik pinggang istri nya lebih mendekat sehingga tidak ada cela sedikit pun di antara mereka berdua. Kemudian Andre sedikit mencondongkan kepalanya mendekat ke telinga Nazhwa.
"Sayang, malam ini aku menginginkan mu. Mari kita lakukan malam pertama kita yang sudah sangat lama terlewatkan." Bisik nya pelan di telinga Nazhwa.
Kedua pipi Nazhwa seketika bersemu mendengar bisikan suami nya yang begitu menggelitik. Dan beberapa saat kemudian ia pun mengangguk pelan yang langsung membuat Andre sumringah.
"Mas, ini adalah yang pertama, jadi aku harap Mas tidak lupa peringatan Dokter Heni."
__ADS_1
Andre mengangguk, dan tanpa mengucapkan apa pun lagi ia langsung menggendong tubuh Nazhwa dan membawa nya menuju tempat tidur.
Setelah membaringkan tubuh istri nya di atas tempat tidur, satu kecupan singkat mendarat di kening Nazhwa. Andre tersenyum kala melihat pipi Nazhwa yang sudah merona, terlihat sangat menggemaskan.