DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 6.


__ADS_3

6.


Setelah selesai memasak dan menata makanan di meja makan, Nazhwa pergi ke kamar untuk mandi. Ia mengedarkan pandangannya mencari Andre namun ternyata suaminya itu berada di balkon kamar.


Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi dan berpakaian, ia menghampiri suaminya di balkon.


"Siap-siap yuk Mas, sebentar lagi azan magrib." Ajak Nazhwa namun tatapannya mengikuti arah pandang Andre yang menatap langit yang perlahan menggelap.


"Hem." Andre menjawabnya dengan deheman.


Karena Andre tak kunjung beranjak dari tempat duduknya, Nazhwa pun duduk disamping suaminya itu dengan masih menatap kearah langit.


"Langit senja sangat indah dipandang, namun lama-kelamaan dia membuat kita merindukan seseorang yang sudah pergi meninggalkan kita."


Tanpa sadar Andre mengangguk membenarkan perkataan Nazhwa.


"Mas, sebenarnya aku punya kakak perempuan, tapi dia sudah tenang dialam nya yang baru. Dia meninggal ditempat saat kecelakaan. Orang-orang yang membawanya kerumah sakit bilang saat itu kakak ku bersama seorang laki-laki didalam mobil, tapi hingga saat ini kami belum pernah bertemu dengannya. Ayah juga tidak mau bertemu dengan laki-laki itu karena Ayah menganggap dialah penyebab kakakku meninggal. Tapi aku berusaha mencari keberadaan nya aku sangat ingin bertemu dengan laki-laki itu untuk menanyakan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, dan apakah kakakku berpesan sesuatu sebelum dia meninggal, tapi sayangnya aku tidak tahu laki-laki itu dimana dan harus mencarinya kemana. Aku sama sekali tidak punya petunjuk untuk menemukannya."


Kalimat panjang lebar yang baru saja diucapkan Nazhwa membuat Andre terhenyak. Ternyata selama ini Nazhwa berusaha mencari keberadaannya yang dianggap ayahnya sebagai penyebab kematian Shalwa.


Andre membenarkan posisi duduknya seolah tak nyaman, perkataan Nazhwa yang membicarakan tentang kematian Shalwa membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


"Aku turut berduka, semoga Kakakmu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah." ucap Andre lalu berdiri. "Ya sudah ayo kita bersiap sebentar lagi masuk waktu magrib." Sambungnya lalu melangkah masuk ke kamar dengan diikuti Nazhwa dibelakangnya.


Beberapa saat kemudian azan magrib pun berkumandang, Andre dan Nazhwa menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim yang tak pernah mereka lewatkan secara berjamaah selama satu bulan pernikahan mereka.

__ADS_1


Setelah selesai shalat Nazhwa mengajak suaminya itu untuk makan malam.


"Kamu makan duluan aja, aku ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Andre lalu beranjak dari atas sajadah.


"Ya udah kalau gitu aku tungguin Mas aja." jawab Nazhwa kemudian melepas mukenah nya. Rambut panjangnya tergerai begitu saja dan terlihat masih sedikit lembab karena tadi ia sempat mandi setelah selesai memasak, lalu ia mengambil jilbabnya dan memakainya.


Andre sedikit tertegun melihat keindahan rambut Nazhwa yang panjang dan hitam pekat, berbeda dengan Shalwa yang rambutnya hanya sebatas bahu dan berwarna pirang.


Tak ingin terbuai Andre segera mengalihkan tatapannya dari Nazhwa. "Terserah kamu aja, kalau kamu kelaparan nungguin aku, aku gak tanggung jawab ya." ucapnya lalu keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.


Nazhwa hanya tersenyum sambil menatap langkah suaminya hingga hilang dibalik pintu kamar, ia bergegas merapikan sajadah nya lalu menyusul Andre diruang kerjanya.


"Loh ngapain kesini?" tanya Andre dengan raut terkejut karena tiba-tiba saja Nazhwa masuk ke ruang kerjanya, sebuah pigura kecil yang ia ambil dari laci dengan cepat ia sembunyikan dibalik tubuhnya.


"Kan aku mau nungguin Mas, ya enaknya nungguin disini sambil temenin Mas. Siapa tahu kan Mas butuh sesuatu jadi enak bisa langsung suruh aku aja." jawab Nazhwa sembari mendudukkan tubuhnya disofa yang tak jauh dari meja kerja Andre.


"Mas, katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan tapi kenapa kok malah diam aja. Nanti makanannya keburu dingin gak enak loh." ujar Nazhwa memasang tatapan curiga.


"Y-ya udah kalau kamu makan dulu sana, nanti aku bisa hangetin sendiri." Tutur Andre sedikit gagap.


Nazhwa tak menanggapi, ia malah berbaring disofa sambil terus memperhatikan suaminya itu yang terlihat mencurigakan. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang ada di belakang suaminya itu.


Sementara Andre benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang ia seolah mati kutu, jika ia berdiri tentu Nazhwa akan melihat apa yang sedang dipegangnya dibalik tubuh, ia tidak ingin Nazhwa sampai tahu jika setiap ia datang ke ruang kerjanya bukan untuk mengerjakan pekerjaannya melainkan hanya untuk menatap foto almarhumah Shalwa kekasihnya.


Andre memikirkan cara bagaimana agar Nazhwa tidak melihat foto itu, tak lama kemudian ia terpikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Nazhwa, tiba-tiba aku haus, bisa tolong ambilkan air minum?"


Nazhwa pun bangun dari sofa yang membuat Andre merasa lega karena Nazhwa akan keluar dari ruangannya untuk mengambil air minum sementara itu ia bisa mengembalikan foto Shalwa didalam laci tanpa terlihat oleh istrinya itu.


Namun, Nazhwa bukannya keluar dari ruang kerja Andre tetapi malah mendekati suaminya itu yang membuat Andre sedikit gelagapan.


"Kok malah kesini, aku kan suruh kamu ambil air minum?"


"Mas gak lihat, dimeja Mas ada segelas air.'' ujar Nazhwa sembari mengambil segelas air itu lalu memberikannya pada Andre.


Andre semakin gugup, ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil air yang disodorkan Nazhwa sementara sebelah tangannya lagi masih berada di belakang memegang bingkai foto Shalwa. Andre pun langsung meminum segelas air itu hingga tandas yang membuat Nazhwa mengerutkan keningnya.


"Ya udah, ayo sekarang kita makan tapi kamu keluar duluan aku mau membereskan ini dulu." ucap Andre sembari meletakkan gelas yang sudah kosong itu diatas meja.


"Membereskan apa? Meja Mas rapi kok gak berantakan." ujar Nazhwa.


"Bisa gak sih kamu itu kalau dibilangin sama suami nurut aja gak usah bawel!"


Meski masih merasa penasaran dengan apa yang disembunyikan suaminya itu dibalik tubuhnya, Nazhwa pun akhirnya keluar dari ruang kerja Andre karena tidak ingin mendapat cap istri pembangkang. Sudah cukup dirinya hanya menjadi bak boneka yang tak pernah disentuh, ia juga tidak mau mendapat gelar yang semua istri tidak inginkan.


Nazhwa pun telah sampai diruang makan, ia duduk dengan manis sambil menunggu Andre namun hingga melewati lima belas menit suaminya itu tak kunjung keluar juga dari ruang kerjanya yang membuat Nazhwa akhirnya kembali beranjak dari ruang makan untuk memanggil suaminya itu.


Nazhwa terpaku didepan pintu ruangan Andre yang sedikit terbuka, dapat ia lihat Andre sedang menatap sebuah pigura kecil yang tidak ia ketahui foto siapa yang tertempel di pigura itu.


Nazhwa pun masuk ke ruang kerja Andre tanpa disadari suaminya itu.

__ADS_1


"Mas..." panggil Nazhwa.


Andre yang terkejut tanpa sengaja menjatuhkan bingkai itu yang beruntungnya dengan posisi terbalik.


__ADS_2