DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 16.


__ADS_3

16.


"Apa kamu mau di antar pakai Ambulance?" Tanya dokter Heni.


Saat ini Nazhwa berada di ruangan nya usai melakukan cuci darah beberapa menit yang lalu. Padahal ia meminta pasien nya itu untuk beristirahat di ruang rawat beberapa jam saja tetapi Nazhwa tetap Kekeuh ingin pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah.


"Jangan bercanda, Dok. Dokter Heni tahu sendiri aku matia-matian menyembunyikan penyakit ku ini dari semua orang kecuali Dokter sendiri. Tapi Dokter malah menyuruh ku pulang dengan Ambulance." Ucap Nazhwa sambil tersenyum tipis.


"Lagi pula aku bawa mobil sendiri, Dok." Ucapnya lagi."


"Tapi apa kamu bisa menyetir dalam keadan lemah begini? Atau biar aku antar pulang saja."


"Gak usah, Dok. Aku gak mau ngerepotin. In Shaa Allah, aku bisa kok Dok."


Dokter Heni pun hanya bisa menghela nafas nya dan membiarkan Nazhwa pulang seorang diri dalam keadan lemah. Ia pun mengantar pasien nya itu sampai ke parkiran.


"Hati-hati di jalan, bawa mobil nya pelan-pelan saja. Kalau kamu gak kuat tepi kan saja mobil mu dan segera hubungi aku."


Nazhwa menanggapinya dengan senyuman. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh dokter Heni, Nazhwa pun masuk kedalam mobil nya dan segera meninggalkan pelataran rumah sakit.


Setelah mobil Nazhwa sudah tak terlihat, dokter Heni pun masuk kembali kedalam rumah sakit.


Sepanjang perjalanan pulang Nazhwa melajukan mobil nya dengan pelan seperti apa yang dikatakan oleh dokter Heni.

__ADS_1


Nazhwa berharap semoga dengan melakukan cuci darah secara rutin seperti yang telah di sarankan oleh dokter Heni, penyakit nya bisa berangsur sembuh atau setidaknya membaik agar ia kuat menjalani hari yang penuh kehampaan.


Sungguh, ia tidak pernah menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi dalam hidup nya. Baik itu tentang penyakitnya atau pun tentang rumah tangga nya. Hanya saja ia berharap agar sang maha pencipta mengizinkannya merasakan kebahagian bahtera rumah tangga di sisa akhir hidup nya walaupun hanya sebentar saja meskipun ia tahu kebahagian itu tak akan pernah ia dapatkan dari suaminya.


_______________


Karena tidak ada lagi yang perlu dikerjakan dan meeting pun tidak ada, hari ini Andre pulang kantor lebih awal dari biasanya. Setelah sampai rumah ia mengernyitkan dahinya melihat tidak ada mobil Nazhwa. Arti nya Istrinya itu belum pulang.


Andre pun melangkah masuk kedalam rumah, ia merasa ada sesuatu yang hilang karena biasanya Nazhwa selalu menyambut kepulangannya dan hari ini Istrinya itu tak terlihat hingga ia sampai kedalam kamar.


"Sudah berani keluyuran dia rupanya," Andre tersenyum sinis sembari membuka jas nya lalu melemparkan ke atas tempat tidur. Ternyata Nazhwa tidak sepatuh yang ia kira. Lihat lah, Istri macam apa yang tidak berada di rumah saat suaminya pulang kerja.


Setelah berganti pakaian, Andre naik ke atas ranjang lalu berbaring. Beberapa saat terus menatap langit-langit kamar perlahan mata nya pun terpejam karena tiba-tiba saja merasa ngantuk. Namun, baru beberapa detik terpejam Andre kembali membuka mata nya dan dengan cepat turun dari tempat tidur saat terdengar deru mesin mobil Nazhwa.


''Apa saja yang dia lakukan di luar sana, sehingga pulang dengan tampak kelelahan seperti itu.'' gumam Andre.


Andre pun kembali naik ke tempat tidur dan memejamkan mata berpura-pura tidur. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Nazhwa saat melihat nya lebih dulu pulang ke rumah.


Suara pintu kamar yang terbuka membuat Andre semakin merapatkan kedua mata nya terpejam.


Nazhwa yang tadi di luar melihat mobil sang suami, dengan cepat ia berjalan masuk ke rumah seolah ia melupakan beberapa saat lalu melakukan cuci darah dan tubuhnya sangat lemah. Dan setelah membuka pintu kamar, ternyata suaminya itu tengah tertidur.


"Mas Andre?" Perlahan Nazhwa melangkah ke arah suaminya itu dan naik ke atas tempat tidur lalu mengambil tangan Andre mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Maaf, Mas aku pulang nya lama. Aku kira cuci darah itu hanya sebentar, tapi ternyata memakan waktu yang cukup lama."


Tadi nya Andre ingin langsung menarik tangannya yang di cium Nazhwa, namun saat mendengar ucapan Istrinya itu ia mengurungkannya dan tetap berpura-pura tidur.


Nazhwa pun turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup Andre pun membuka mata nya. Ia mendudukkan tubuhnya lalu bersandar di kepala ranjang sambil menatap punggung tangannya yang tadi di cium oleh Nazhwa, dan juga mengingat lagi apa yang tadi dikatakan oleh Istrinya itu.


"Cuci darah, siapa yang cuci darah? Atau jangan-jangan teman yang selalu ditemui Nazhwa itu sedang sakit dan hari ini dia menemani teman nya itu cuci darah, apa benar begitu?" Andre memutar bola matanya nampak berpikir soal kebenaran ucapan Nazhwa, dan ia pun menyimpulkan seperti itu.


"Jika itu benar, berarti tanpa sadar aku sudah menuduhnya jika ia keluar rumah pergi menemui laki-laki itu." Andre mengusap wajahnya sambil beristighfar dalam hati.


"Tapi, tumben dia tidak mengajak Nanda. Biasanya setiap ingin pergi menemui teman nya Nazhwa selalu mengajak Nanda?" Satu pertanyaan lagi tiba-tiba saja muncul di benaknya. Andre jadi pusing sendiri di buat nya.


"Apa-apaan ini? Oh ayolah Andre, kau tak perlu memikirkan apa pun tentang Nazhwa. Biarkan dia melakukan apa pun di luar sana itu bukan urusanmu. Kau tidak mencintai dia jadi kau tidak perlu mencampuri apa pun yang dia lakukan. Yah itu benar, Ndre." Andre terus bergumam pada diri nya sendiri, hingga ia tak sadar pintu kamar mandi sudah terbuka dan Nazhwa melangkah ke arah nya.


"Mas sudah bangun?" Suara Nazhwa mengagetkan Andre yang membuat nya seketika emosi.


"Kau pikir apa? Aku duduk sambil tidur, huh!" Andre menyibak selimut lalu turun dari ranjang dan melewati Nazhwa begitu saja keluar dari kamar.


Nazhwa menatap langkah suaminya dengan nanar. Untuk saat ini ia akan membiarkan suaminya itu, mungkin Andre marah karena pulang lebih awal dan tidak mendapati diri nya berada di rumah. Dan nanti ia akan menjelaskan pada suaminya itu setelah tubuhnya merasa lebih baik, yang tentunya di bumbui dengan kalimat bohong.


"Maaf kan aku, Ya Allah. Aku tidak berniat membohongi suami ku, tetapi aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau Mas Andre dan seluruh keluarga tahu tentang penyakit ku, aku tidak mau sampai membebani mereka semua. Aku akan berusaha sekuat mungkin menyembunyikan penyakit ini. Namun, saat nanti aku sudah tidak kuat, aku mohon Ya Allah, berikan aku sedikit saja dapat merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suamiku. Setelah itu aku serahkan semua nya pada-MU, termasuk hidup dan mati ku." ucap Nazhwa bersamaan dengan air mata nya yang lolos begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2