DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 7.


__ADS_3

7.


Nazhwa yang awalnya ingin menunduk mengambil pigura itu mengurungkan niatnya setelah berpikir mungkin saja dibaliknya adalah foto seorang wanita. Ia menegakkan kembali tubuhnya lalu tersenyum pada Andre.


"Aku tunggu diruang makan ya, Mas tapi jangan lama." ucap Nazhwa lalu keluar dari ruang kerja suaminya itu.


Nazhwa tersenyum getir sepanjang langkahnya menuju ruang makan, ia berusaha untuk tidak perduli dengan foto siapa dibalik pigura itu namun dalam hati ia penasaran dengan bagaimana sosok wanita yang dicintainya suaminya.


Namun sejauh ini Nazhwa masih tidak mengerti kenapa Andre justru memperistri dirinya jika ada wanita lain yang dicintainya, kenapa justru membawanya ke dalam hubungan sakral dan kemudian tidak dianggap seperti istri.


Belum menemui titik terang mencari sosok laki-laki yang dikatakan warga ada bersama almarhumah kakaknya didalam satu mobil saat terjadinya kecelakaan itu, kini ditambah lagi dengan dirinya yang sebulan lalu tiba-tiba saja dilamar oleh laki-laki yang sama sekali tidak dikenali nya, namun laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu hingga saat ini sama sekali belum pernah menyentuhnya, membuat Nazhwa sampai memijit kepalanya sendiri yang tiba-tiba terasa berdenyut.


Sementara itu Andre dengan cepat mengambil foto Shalwa setelah Nazhwa keluar dari ruangannya, dan memasukkan ke dalam laci. Ia mengelus dadanya karena hari ini masih diberikan keberuntungan Nazhwa tidak melihat foto itu, lalu setelah itu ia pun bergegas ke ruang makan.


"Kamu kenapa? Sakit kepala? Cepat makan setelah itu minum obat, jangan sampai kamu sakit yang nantinya hanya akan merepotkan aku saja." ucap Andre setelah duduk di kursinya.


Nazhwa menegakkan kepalanya yang sedari tadi ia pijit sambil menunggu kedatangan Andre.


"Separah apapun sakitku, InshaAllah aku tidak akan merepotkan Mas Andre." ujarnya lalu berdiri, seperti biasanya Nazhwa selalu menyajikan makanan ke dalam piring Andre meskipun suaminya itu sudah sering mengatakan tidak perlu.


Namun, hal itu tetap Nazhwa lakukan sebagai salah satu usaha kecilnya untuk mendapatkan hati Andre. Dan kini Andre pun membiarkan apa yang dilakukan istrinya itu, dia sudah bosan berdebat dengan Nazhwa hanya karena masalah sepele seperti itu.


"Mau tambah lagi nasi atau lauknya, Mas?"

__ADS_1


"Sudah, itu sudah cukup." Andre menarik piringnya, memulai makan tanpa menunggu Nazhwa juga mengambil makanan.


"Mas, besok pagi aku izin ya keluar mau ketemu teman." Bohong Nazhwa, ia ingin pergi kerumah sakit bertemu dokter pribadinya untuk berkonsultasi keluhan yang dirasakannya namun ia tahan untuk tidak mengeluh di hadapan Andre.


"Terserah." Jawab Andre singkat.


Nazhwa hanya bisa tersenyum getir mendengar jawaban suaminya. Yah, sebenarnya tanpa meminta izin pun Andre tidak akan pernah mempermasalahkan dirinya akan pergi kemanapun dan akan pulang jam berapa.


Namun, tetap saja dia tidak ingin seenaknya saja seperti itu. Sejak kecil kedua orangtuanya sudah mengajarinya tata krama terlebih saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri yang harus meminta izin pada suami saat akan keluar rumah.


"Dan juga sekalian aku mau mampir kerumah orangtuaku." sambung Nazhwa yang membuat Andre hampir tersedak.


"Mau ngapain?" tanya Andre sedikit khawatir, tentu saja ia tidak ingin sampai Nazhwa bercerita pada orangtuanya tentang rumah tangga yang dijalani putrinya saat ini. Cukup sudah ayah mertuanya itu menganggap dirinya sebagai dalang kematian Shalwa meski tidak tahu siapa laki-laki itu sebenarnya, dan Andre tidak mau ayah mertuanya itu semakin membencinya jika tahu bagaimana kehidupan Nazhwa selama bersamanya.


Dan kali ini Andre benar-benar tersedak mendengarnya.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Mas... " Nazhwa dengan cepat memberikan air minum pada suaminya.


"Kapan kamu mau kerumah ayah dan ibu?" Tanya Andre setelah meminum sesetengah nya air yang diberikan Nazhwa.


Nazhwa mengerutkan keningnya sembari duduk ditempatnya semula.

__ADS_1


"Ya besok setelah aku bertemu dengan temanku." Jawab Nazhwa.


"Baiklah besok biar aku antar kamu bertemu dengan temanmu setelah itu kita bersama-sama kerumah Ayah dan Ibu."


Nazhwa tersenyum, apa yang didengarnya barusan bagai sebuah keajaiban. Sejak kapan suaminya ini ingin pergi bersamanya? Bukankah selama ini Andre tidak pernah perduli kemanapun ia pergi. Namun, Nazhwa tentu ia tak ingin Andre mengantarkannya pergi bertemu temannya karena jika tidak Andre akan mengetahui tentang penyakitnya.


"Aku senang karena Mas mau ikut kerumah Ayah dan Ibu, tapi untuk bertemu temanku biar aku pergi sendiri. Nanti setelah itu aku baru menghubungi Mas."


Kini giliran Andre yang tersenyum, namun senyumannya terlihat sinis menatap Nazhwa seolah istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku tidak perduli temanmu itu laki-laki atau perempuan, dan memang temanmu atau bukan. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir seperti itu aku mengantarmu. Lagipula aku juga punya seseorang yang aku cintai." Tukas Andre, menarik sudut bibirnya.


Nazhwa menatap Andre dengan tatapan yang sulit diartikan, terbuat dari apa hati suaminya ini sehingga dengan mudah mengatakan hal itu. Tak punya kah sedikit perasaan atau setidaknya kalimat yang pantas diucapkan pada istrinya sendiri.


Nazhwa tak lagi bersuara ia lebih memilih diam dan segera menghabiskan makanannya lalu setelah itu meminum obat yang harus rutin dikonsumsi agar mengurangi gejala dari penyakitnya.


Setelah selesai makan Andre langsung menuju kamar sementara Nazhwa membereskan bekas makan mereka. Sejenak Nazhwa duduk diruang makan itu sambil menelaah lagi kisah rumah tangga yang dijalaninya. Ini bukanlah surga impiannya. Ia yang dulu selalu berharap seorang pangeran sholehah yang datang meminangnya, namun yang ia dapat justru seorang laki-laki asing yang kini hanya memberikannya banyak tanggungan beban.


Andre memang memberikan segala fasilitas yang tanpa terkecuali, bahkan membebaskan dirinya mau pergi ke mana saja. Namun hanya satu yang selalu mengganjal dihatinya hingga saat ini, Andre tidak pernah mau menyentuhnya padahal itu adalah ladang pahala didalam pernikahan dan halal bagi mereka berdua yang sudah resmi menjadi suami istri.


Tak ingin memperburuk kondisi kesehatannya sendiri Nazhwa memilih beranjak dari ruang makan dan melupakan sejenak kisah rumah tanggannya. Ia ingin beristirahat dan juga harus meminum obatnya yang ia simpan didalam kamar. Ah kenapa tidak menyimpannya ditempat lain saja, didapur misalnya tempat yang tidak mungkin dijangkau oleh Andre.


Sesampainya didalam kamar, Nazhwa mendapaati suaminya sudah tertidur dan seperti biasa sebuah guling berada ditengah tempat tidur sebagai pembatas dirinya dan Andre. Nazhwa tersenyum miris melihatnya.

__ADS_1


"Lihatnya saja, Mas. Setinggi apapun tembok yang kau bangun sebagai pembatas diantara kita, aku yakin pasti bisa meruntuhkannya." Ujar Nazhwa lalu mengambil obatnya kemudian keluar dari kamar.


__ADS_2