DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 69.


__ADS_3

"Mau pergi sama Nak Alex lagi?" Tanya ibu saat melihat Nanda pagi-pagi sudah rapi.


Nanda menggeleng sambil tersenyum. "Enggak, Bu. Aku mau ke kantor. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum hari pernikahan. Apa lagi Pak Andre belum bisa masuk kantor, jadi kerjaan aku lumayan banyak, Bu."


"Kalau boleh tahu, kenapa atasan kamu belum masuk ngantor?" Tanya ibu sedikit penasaran, karena beberapa hari Nanda memang disibukkan pekerjaan kantor karena Andre tidak masuk.


"Istri nya sedang sakit, Bu. Beberapa hari lalu juga baru menjalani transplantasi ginjal." Jawab Nanda.


Ibu langsung menutup mulutnya. "Istrinya Pak Andre sakit separah itu."


"Tapi Alhamdulillah, Bu sudah dapat pendonor." ujar Nanda. Wajahnya berubah sayu saat mengatakan itu. "Ya sudah, Bu aku berangkat dulu."


"Iya, Nak hati-hati di jalan."


Setelah mencium punggung tangan ibunya, Nanda pun keluar dari rumah.


Baru ia akan memanggil ojek langganan nya, sebuah mobil yang tak asing datang dan langsung membuat nya tersenyum.


"Selamat pagi, nyonya Alex. Mau ke kantor?" Tanya Alex yang baru saja turun dari mobil nya.


Nanda menanggapi nya dengan senyuman sambil mengangguk. Ia merasa geli dengan panggilan yang di sebut Alex.


"Baiklah, kalau begitu berangkat bareng aku aja." ajak Alex.


Meski ragu, Nanda pun akhirnya setuju karena ia juga harus segera sampai ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum menjelang hari pernikahannya. Pekerjaan yang lumayan menumpuk karena beberapa hari Andre tidak masuk kantor dan dirinya juga beberapa hari menyiapkan beberapa keperluan pernikahannya bersama Alex.


"Kenapa melamun?" Tanya Alex. Setelah mobil melaju Nanda lebih banyak diam.


"Aku cuma lagi kepikiran sama Kak Adam. Kita belum pernah menemui dia." Jawab Nanda.


"Itu sudah menjadi pilihannya, kita doakan saja semoga dia baik-baik saja."

__ADS_1


Nanda menanggapi nya dengan anggukan pelan.


"Senyum dong, jangan cemberut gitu. Calon pengantin itu harus ceria." Ujar Alex.


"Sedih aja sih, karena cuma Kak Adam satu-satunya saudara aku. Kondisinya yang seperti sekarang gak memungkinkan dia bakal hadir di hari pernikahan kita."


"Iya, aku ngerti apa yang kamu rasain. Tapi kita tidak bisa berbuat apapun."


Nanda mengulum senyum. " Mau kan sepulang dari kantor temani aku menjenguk Kak Adam?"


"Mau dong, apa sih yang enggak buat kamu." Ucap Alex sambil mencubit pipi Nanda dengan gemas.


"Terima kasih."


.


.


.


"Loh Pak Andre udah masuk kantor?" Tanya Nanda sembari menutup pintu ruangan.


Andre yang tengah fokus pada laptop nya, mengalihkan tatapannya pada Nanda yang baru saja masuk.


"Iya," Jawab Andre singkat lalu kembali menatap laptopnya.


"Terus gimana sama Bu Nazhwa, Pak?" Tanya Nanda lagi.


"Nazhwa di rumah orangtuanya, kami memutuskan untuk tinggal di sana selama proses pemulihan Nazhwa." Jawab Andre dengan masih fokus pada laptop nya.


Nanda pun mengangguk pelan lalu mengambil sebuah berkas yang ingin ia ambil di atas meja Andre. Setelah mengambil berkas tersebut, Nanda pun berpamitan keluar. Namun, baru ia berbalik langkah nya terhenti karena Andre memanggil nya. Nanda pun kembali membalik badannya menghadap atasannya itu.

__ADS_1


"Iya Pak, ada apa?" Tanya Nanda.


"Ada yang ingin aku tanyakan pada mu." jawab Andre.


Nanda mengerutkan keningnya sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Andre kemudian ia duduk di kursi tersebut.


"Mau tanya apa ya, Pak?" Tanya Nanda setelah ia duduk.


"Soal pendonor yang sudah mendonorkan ginjalnya buat istri saya. Kamu dan Alex pasti tahu kan siapa orangnya?"


Deg..........


Nanda langsung gugup, ia dan Alex sudah berjanji tidak akan memberi tahu pada Nazhwa maupun Andre tentang siapa pendonor itu.


"Nanda, kamu tahu kan?" Tanya Andre lagi.


"Pak, orang itu tidak ingin di sebutkan identitas nya." Jawab Nanda pada akhirnya.


Andre menghela nafasnya. "Nanda, apa yang dia lakukan itu cukup membahayakan dirinya juga. Mendonorkan ginjal, organ yang paling penting bagi tubuh. Tapi dia melakukan secara cuma-cuma itu cukup sulit di mengerti."


"Tapi orang itu memang ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun, Pak."


"Aku tidak percaya itu, Nanda."


Nanda tergugu, benar-benar bingung saat ini. Di satu sisi ia sudah terlanjur berjanji pada yang mendonorkan ginjalnya untuk Nazhwa. Dan di sisi lain ia juga tidak bisa berbohong pada atasannya yang sudah begitu baik pada nya.


"Nanda, kamu tahu kan orang nya?" Tanya Andre lagi.


Berbeda saat Nanda masih diam, dan tak lama kemudian ia akhirnya mengangguk.


"Iya, Pak saya tahu."

__ADS_1


"Siapa orangnya?"


__ADS_2