DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 23.


__ADS_3

Menjelang sore hari, Andre dan sekertaris Nanda bersiap-siap untuk berangkat ke Hotel di mana mereka akan mengadakan pertemuan dengan beberapa klien penting.


Sepanjang perjalanan ia tampak tak fokus sambil terus melirik ke arah ponselnya yang mana itu menarik perhatian sekertaris Nanda yang duduk di samping nya.


Sebelum berangkat tadi ia juga sempat beberapa kali menghubungi nomor Nazhwa tetapi tidak terjawab juga yang membuat menjadi khawatir saja.


Jika saja meeting kali ini tidak sangat penting untuk perkembangan perusaan nya, mungkin ia akan membatalkan dan membuat janji di lain waktu atau setidaknya menyuruh sekertaris Nanda pergi menemani Nazhwa di rumah nya.


Apa yang dilakukan Nazhwa di rumah, sehingga sampai sore hari masih tak menjawab panggilan nya?


"Dari tadi aku perhatikan Pak Andre seperti nya tidak fokus menyetir. Kalau boleh biar saya saja yang menggantikan Pak Andre menyetir, dan Pak Andre bisa beristirahat di belakang mungkin Bapak kelelahan jadi tidak fokus menyetir, bahaya juga kalau seperti itu Pak." ujar sekertaris Nanda mengingatkan.


Andre menoleh sebentar menatap sekertaris nya itu, "Tidak, Nanda. Aku sama sekali tidak merasa kelelahan. Aku hanya terpirkirkan Nazhwa, sejak siang tadi sampai sekarang dia tidak menjawab panggilan ku. Apa dia pergi bertemu teman nya lagi dan lupa membawa ponselnya? Ujar Andre sembari menerka.


Sekertaris Nanda diam tampak berpikir mencerna ucapan Andre.


Jika yang di pikirkan Andre adalah, Nazhwa pergi bertemu teman nya dan tidak membawa ponsel. Lain hal nya dengan sekertaris Nanda, ia justru khawatir terjadi sesuatu pada Nazhwa. Apa lagi istri atasa nya itu sedang sakit dan beberapa waktu lalu dokter menyarankan untuk cuci darah yang arti nya penyakit Nazhwa semakin memburuk.


"Aku akan mencoba menghubungi Bu Nazhwa." ucap sekertaris Nanda setelah beberapa saat terdiam. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas nya.


Andre mengangguk menyetujui usulan sekertaris nya itu.

__ADS_1


Sekertaris Nanda pun mencoba menghubungi Nazhwa, panggilan tersambung namun tidak terjawab. Ia mencoba nya sekali lagi namun hasil nya tetap saja sama. Hingga beberapa kali sekertaris Nanda terus mencoba menghubungi Nazhwa dan hasil nya tetap saja sama.


Sekertaris Nanda benar-benar khawatir, bagaimana jika memang terjadi sesuatu pada Nazhwa seorang diri.


"Bagaimana, apa ada jawaban?" tanya Andre.


"Tidak terjawab, Pak. Padahal saya sudah mencoba nya berulang kali." jawab sekertaris Nanda. "Pak, apa sebaiknya Pak Andre pulang saja dan meeting nya di tunda dulu. Saya khawatir terjadi sesuatu pada Bu Nazu." ucap nya memberi saran.


Andre nampak berpikir sejenak, lalu beberapa saat kemudian menggeleng pelan kepala nya. "Kamu tahu sendiri pertemuan ini sangat penting, jadi bagaimana bisa saya pulang. Itu sama saja saya mempertaruhkan perkembangan perusahaan. Kalau ada apa-apa dengan perusahaan, kalian para karyawan juga yang akan terkena imbas nya. Sudah lah, mungkin Nazhwa memang sedang keluar pergi bertemu temannya dan dia lupa membawa ponsel nya." Ucap Andre. Ia mencoba menekan sedikit ego nya mengatas namakan perusahaan. Padahal sebenarnya ia juga merasa khawatir kenapa Nazhwa tidak menjawab panggilan nya.


'Tapi jika memang Nazhwa pergi bertemu teman nya, kenapa dia tidak izin. Biasa nya dia selalu izin setiap mau keluar walaupun aku selalu mengabaikan nya.' Ucap Andre dalam hati.


Sekertaris Nanda pun terdiam, ia tak mungkin mendebat atasannya ini. Namun dalam hati ia merutuki Andre yang menurutnya lebih mementingkan property dari pada Istriya sendiri.


Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat mereka akan bertemu dengan klien baik Andre mau pun sekertaris Nanda terus bertanya-tanya dalam hati tentang Nazhwa yang tidak menjawab panggilan telephone mereka.


Sesampai nya di sebuah hotel bintang lima tersebut, Andre dan sekertaris Nanda langsung menuju ruangan di mana para klien nya sudah menunggu di sana.


Setelah berada di ruangan itu, Andre dan Sekertaris Nanda di sambut dengan hangat oleh para klien nya, terkecuali seorang pria yang kira-kira seumuran dengan Andre menatap Andre dengan sinis lalu berpindah menatap sekertaris Nanda yang berdiri di samping Andre.


'Wow, setelah Sekertaris yang di pacari nya meninggal, ternyata dia sekarang punya sekertaris baru yang lebih muda dan cantik.' ucap laki-laki itu dalam hati.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Pak Andre." seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu klien Andre hari ini mempersilahkan Andre duduk, kemudian di susul dengan sekertaris Nanda yang juga duduk di samping atasannya itu.


Tatapan Andre bertemu dengan tatapan laki-laki yang duduk berhadapan dengan nya. Andre masih ingat betul dengan laki-laki itu, dia adalah Alex, laki-laki brengsek yang dulu selalu menggoda Shalwa bahkan nyaris pernah hampir melecehkan Shalwa di ruangan meeting di kantor nya saat Shalwa lebih dulu datang ke ruang meeting tersebut. Beruntung saat itu salah satu OB lewat di depan ruang meeting dan mendengar teriakan Shalwa yang meminta tolong dan OB itu pun langsung melapor pada nya.


"Sekertaris mu kali ini lebih cantik dan muda ya Pak Andre. Ternyata secepat itu Pak Andre move on dengan...


" Maaf, Tuan Alex yang terhormat. Di sini kita hanya akan membahas apa yang seharus nya kita bahas, bukan membahas hal yang sudah lama berlalu." sela Andre dengan penuh penekanan.


Sekertaris Nanda menatap Andre dan laki-laki yang bernama Alex itu bergantian, dengan tatapan penuh tanya terlebih ia melihat Andre menatap laki-laki yang bernama Alex itu dengan tatapan permusuhan.


Para klien lain nya hanya bisa terdiam tanpa berani menimpali. Mereka sangat tahu bagaimana karakter Andre dan Alex yang sama-sama tidak suka di campuri urusan nya.


"Baiklah Pak Andre, tapi setelah meeting selesai saya ingin menawarkan kerja sama yang lebih menguntungkan." ucap Alex lalu berpindah menatap sekertaris Nanda dengan tatapan yang membuat sekertaris Nanda bergidik ngeri.


"Saya sama sekali tidak tertarik dengan tawaran mu itu." ucap Andre dengan angkuh nya, tentu ia paham maksud ucapan Alex. Dari tatapan nya Andre tahu jika Alex menginginkan sekertaris Nanda sama seperti dulu pada Shalwa.


"Owh, rupa nya Pak Andre ingin bersenang-senang sendiri ya? Aku dengar Pak Andre sudah menikah, apa Istri Pak Andre tidak curiga dengan, " Alex melirik ke arah sekertaris Andre.


Dan kali ini sekertaris Nanda pun mengerti maksud ucapan laki-laki yang bernama Alex itu.


"Maaf Tuan Alex, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran buruk Tuan. Karena saya dan Istri Pak Andre berteman dengan baik, bahkan kami sudah seperti Kakak dan Adik." ucap sekertaris Nanda menegaskan.

__ADS_1


"Owhh, permainan yang sangat cerdik, rapi dan elegant. Siapa pun akan tertipu." ucap Alex lalu tertawa, ia seolah berniat menjatuhkan harga diri Andre di hadapan para klien.


__ADS_2