
Keesokan harinya...
Setelah perdebatan singkat, akhirnya Nazhwa pergi bersama sekertaris Nanda seperti yang diperintahkan oleh Andre untuk menemani istrinya itu yang katanya ingin bertemu temannya sebelum pergi kerumah orangtuanya.
Namun, saat mobil yang ditumpangi sekertaris Nanda itu berhenti dihadapan rumah sakit, gadis muda itu mengerutkan keningnya bingung.
"Loh, katanya mau ketemu sama teman Ibu tapi kok kita malah kerumah sakit? Oh atau teman Bu Nazhwa itu lagi sakit ya dan dirawat dirumah sakit ini?" Tanya sekertaris Nanda.
Nazhwa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban yang membuat sekertaris Nanda semakin bingung.
"Oh aku tahu, Ibu pasti mau periksa kandungan, Bu Nazhwa lagi hamil ya?" Tanya sekertaris Nanda lagi sembari tersenyum berharap apa yang dikatakan nya itu benar.
Namun, melihat Nazhwa menggelengkan kepalanya lagi membuat senyum gadis itu memudar dan semakin tidak mengerti kenapa istri dari bos nya ini malah mendatangi rumah sakit.
"Lalu untuk apa kita kerumah sakit, kalau bukan bertemu teman Ibu dan bukan juga untuk periksa kandungan?"
Nazhwa meraih tangan mungil sekertaris Nanda dan menggenggamnya dengan erat. Tatapannya menatap tepat dikedua manik mata sekertaris Nanda yang nampak jelas terlihat kebingungan.
"Apa kamu bisa menjaga rahasia?" Tanya Nazhwa dan sekertaris Nanda reflek menganggukkan kepalanya.
Nazhwa pun menceritakan tentang penyakit yang dideritanya pada sekertaris Nanda, gadis itu hanya bisa menutup mulutnya sembari menggeleng pelan kepalanya. Ia tidak menyangka jika istri bos nya ini sudah lama sakit dan tidak ada satu keluarga nya pun yang tahu.
Setelah menceritakan semuanya Nazhwa memohon pada gadis dihadapannya itu agar tak memberitahu pada siapapun termasuk pada suaminya, Andre.
"Tapi Pak Andre harus tahu, Bu, dia sudah jadi suaminya Bu Nazhwa jadi sudah tanggung jawab Pak Andre untuk...
__ADS_1
" Tidak Nanda, penyakit ini sudah lama ada jauh sebelum aku bertemu Mas Andre. Aku tidak mau membebani suamiku dengan penyakit ku ini." Ujar Nazhwa menyela ucapan sekertaris Nanda. "Dan nanti aku sendiri yang akan memberitahu Mas Andre jika waktunya sudah tepat."
"Tapi Bu, cepat atau lambat Pak Andre juga pasti bakalan tahu, jadi tidak ada bedanya sekarang atau nanti."
"Aku tahu, hanya saja aku tidak bisa memberitahu nya sekarang karena... Ah sudahlah lebih baik sekarang kamu temani aku bertemu Dokter pribadiku, dia pasti sudah menunggu."
Nazhwa mengajak sekertaris Nanda untuk masuk kedalam rumah sakit, dan sekali lagi ia berpesan agar tidak memberitahu siapapun. Dan sekertaris Nanda hanya menanggapinya dengan anggukan.
Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan dan mendapat resep obat dari dokter pribadinya, Nazhwa mengajak sekertaris Nanda untuk pulang namun gadis itu malah mengambil alih tempat duduk Nazhwa dan menatap dokter pribadi Nazhwa itu dengan serius.
"Dok, jika Bu Nazhwa melakukan pengobatan yang teratur bisa sembuh total kan Dok?" Tanya sekertaris Nanda dengan antusias.
Dokter tersenyum," InsyaAllah bisa, yang terutama itu adalah dukungan dari keluarga."
Sekertaris Nanda mengangguk paham kemudian beranjak lalu menarik tangan Nazhwa keluar dari ruangan dokter. Gadis itu mengambil alih resep obat dan menebusnya sementara itu ia meminta Nazhwa untuk menunggu dimobil saja.
Setelah menebus obat sekertaris Nanda bergegas menghampiri Nazhwa yang menunggu dimobil.
Nazhwa tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Iapun melajukan mobilnya menuju perusahaan suaminya.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil Nazhwa sudah terparkir rapi di pelataran kantor. Sekali lagi ia memperingati sekertaris Nanda untuk tidak memberitahu pada Andre tentang penyakitnya, sebelum turun dari mobil. Dua wanita berbeda generasi itu berjalan beriringan menuju ruangan Andre. Para karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua terlihat heran melihat sekertaris Nanda nampak akrab dengan istri CEO mereka.
Sesampainya didepan pintu ruangan Andre, sekertaris Nanda berpamitan untuk ke ruangannya juga sementara Nazhwa langsung masuk ke ruangan suaminya itu.
"Mas... " Panggil Nazhwa sambil berjalan masuk.
Andre hanya melirik lalu kembali fokus pada benda lipatnya.
"Mas jadikan mau ikut kerumah Ayah dan Ibu?" Tanya Nazhwa.
"Jadi." Jawab Andre singkat.
"Tapi kelihatannya Mas sibuk sekali, biar aku pergi sendiri aja ya, Mas. Ayah dan Ibu pasti ngerti kok kalau Mas sibuk."
__ADS_1
Andre menutup laptopnya, kemudian mengarahkan tatapannya pada Nazhwa. "Jangan membuat aku terlihat buruk dihadapan mereka, aku tahu hubungan kita tidak sehat tapi jangan perlihatkan itu dihadapan siapapun apalagi dihadapan keluarga!" Tukas Andre, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Mas, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya...
" Sudah jangan membantah, sekarang ayo kita berangkat." Andre berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Nazhwa yang masih duduk termangu disofa.
Satu helaan nafas berat terhembuskan sebelum ia juga keluar menyusul suaminya itu.
Sepanjang perjalanan Nazhwa mengalihkan tatapannya pada jalanan di sampingnya, untuk hari ini saja ia ingin menikmati harinya tanpa memikirkan rumah tangga yang ia sendiri tidak tahu bagaimana nasib kedepannya. Akankah ia sanggup bertahan dengan sikap suaminya yang benar-benar tidak pernah perduli padanya, atau tetap bertahan untuk mendapatkan cinta suaminya.
Menjalani pernikahan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Hal tersebut memerlukan banyak persiapan, baik secara fisik maupun mental. Baik secara materi atau pikiran.
Semuanya diperlukan untuk menghasilkan rumah tangga yang baik dan dapat berjalan dengan sangat lancar.
Saling percaya dan saling cinta menjadi satu di antara kunci yang akan menyatukan pasangan selamanya. Perasaan cinta akan benar-benar dapat dibuktikan melalui sebuah pernikahan.
Selain itu, motivasi dari diri sendiri untuk selalu setia dan cinta terhadap pasangan menjadi cara untuk melanggengkan hubungan.
Yah itu semua benar, Nazhwa memejamkan matanya sembari merasakan terpaan angin yang mengenai wajahnya dari jendela yang ia buka sedikit. Deru nafasnya bercampur dengan angin itu.
Jika ditanya apakah ia mencintai laki-laki yang tengah mengemudi disampingnya itu, maka jawabannya adalah iya. Nazhwa sudah mencintai Andre sejak pandang pertama saat laki-laki itu datang melamarnya.
Namun, lagi dan lagi yang membuatnya tidak mengerti bagaimana Andre bisa datang meminangnya jika tidak mencintainya. Sungguh ini adalah teka-teki yang sangat sulit nazhwa pecahkan.
"Kita sudah sampai."
Mendengar itu Nazhwa pun dengan cepat membuka matanya lalu menoleh menatap Andre.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Andre dengan ketus.
Nazhwa menggelengkan kepalanya lalu turun dari mobil, begitupun dengan Andre, ia mengikuti langkah Nazhwa melangkah kehadapan sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana namun nan asri.
Andre menatap rumah itu dengan lekat, dari dulu ingin sekali berkunjung kerumah itu namun Shalwa tidak pernah memberinya izin. Dan lihat sekarang, takde berkata lain justru ia datang kerumah itu untuk meminang wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya.
__ADS_1