
"dimana ini.?! sepertinya aku berada jauh di dalam hutan" gumam Rio seorang pemuda berumur 19 tahun sembari menatap sekitarnya.
hari saat itu telah beranjak sore dan pemuda tersebut masih kebingungan untuk mencari jalan keluar dari hutan tersebut. Menurut rute pendakian yang ia ambil, seharusnya dalam waktu setengah jam dari pos 2 yang telah ia lewati, dia akan sampai tepat jam 4.
"apa aku salah jalur ya?" pikir Rio sembari memperhatikan peta.
Ia segera berbalik arah dan kembali menyusuri jalur semula yang ia lewati, namun kembali dia mendapati sebuah jurang dalam.
"apakah aku tersesat? sungguh?" ucap Rio sedikit tidak percaya.
samar-samar ia mendengar suara orang berjalan dari arah belakang pemuda tersebut. segera memutar badannya dengan harapan itu adalah pendaki lain sehingga ia dapat menanyakan jalan keluar dari hutan tersebut.
Wajah Rio seketika pucat usai tidak melihat orang di belakangnya, namun anehnya suara langkah kaki tersebut masih terdengar di telinganya.
buku kuduk Rio seketika berdiri usai merasakan hembusan nafas di telinga kanan pemuda tersebut. sontak ia berlari dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun.
"anjer.. mengapa seperti ini, apakah itu kepakan sayap lalat?!" keluh Rio sembari berlari dengan kencang.
__ADS_1
"astagfirullah..!!" teriak Rio seketika.
ia melihat sosok mahkluk tinggi besar dengan bola mata yang berwarna merah. badan mahkluk tersebut berwarna hitam dan di penuhi oleh bulu-bulu panjang yang menutupi kulit mahkluk tersebut.
Rio melihat sosok tersebut menggerkaan jarinya seakan menyuruh Rio untuk mundur.
Rio saat itu tidak dapat bergerak sedikitpun, ia begitu takut, bahkan untuk mengeluarkan suara saja ia tidak sanggup.
mahkluk tersebut terus menyuruh Rio agar bergerak mundur dari tempat tersebut.
Rio melantunkan doa-doa yang ia ketahui sembari memejamkan matanya dan berharap mahkluk tersebut akan hilang saat ia membuka matanya.
melihat tidak ada jalan lain, akhirnya Rui memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah mahkluk yang berdiri menghalangi jalan di depannya.
melihat Rio yang berjalan maju. mahkluk tersebut seketika melompat ke atas pohon laku menghilang dari pandangan Rio.
"hah.. syukurlah" lega Rio mengelus dadanya.
__ADS_1
hari semakin gelap, suasana di dalam hutan tersebut tambah mencekam. Rio mengumpulkan beberapa kayu kering yang berada di sekitarnya untuk membuat perapian .
selepas mengumpulkan kayu. Rio segera mendirikan tenda kecil lalu kemudian menyiapkan makanannya.
"hihihi" Rio merinding ketakutan akibat suara tawa cekikikan yang terdengar menggema di telinganya.
dalam hati Rio, ia begitu yakin bahwa suara tersebut bukanlah manusia.
"si..siapa di sana?" tanya Rio sedikit berteriak.
ia berdiri sembari memegang kayu bakar yang terdapat bara di ujungnya, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Sura tawa tersebut telah tidak lagi terdengar.
Rio kembali melanjutkan kegiatan memasaknya sembari memperhatikan sekitarnya. selesai memasak Rio pun menyantap makanannya sembari memperhatikan peta yang ia letakan di tanah.
"ini aneh, seharusnya tidak ada jalur lain di peta ini, namun mengapa aku bisa berada di tempat ini?" heran Rio seraya mengunyah makanannya.
usai makan, Rio menyeduh segelas kopi dan melantunkan lagu-lagu dari hp nya dengan volume kecil. Rio membakar sebatang rokok dan termenung memikirkan jalan keluar dari hutan tersebut.
__ADS_1
ada rasa penyesalan dalam hatinya, seandainya ia tidak keras kepal dan melakukan pendakian seorang diri mungkin saja masipnya tidak akan seperti ini.