
"Apa maksudmu Mirai?" Tanya Andre heran.
"Waktu kita masih banyak, saya akan mengatakannya secara panjang saja. Si Gadis Merah sudah pergi. Ia pergi saat kalian kembali ke Gunung Singawari" Ujar Mirai.
Setiap kali Andre bertanya Mirai hanya terus berkata seperti itu dan terus mengulangnya berkali kali. Andre pun heran dengan apa yang di maksud Mirai sebenarnya, tak lama kemudian bel rumah pun langsung berbunyi.
Ding dong ding dong
"Sepertinya mereka sudah datang, kaliam tunggu sebentar ya" Andre pun langsung membuka pintu kamar dan langsung kebawah untuk membuka pintu.
Sementara itu Mirai dan Siluman pohon pun heran dan bingung bagaimana caranya mereka menjelaskan mengenai hal yang akan terjadi pada mereka semua.
"Bagaimana cara kita memberitahu mereka? jika kita berterus terang maka kita akan mengaktifkan kutukan itu" Ujar Mirai.
"Kenapa kalian tidak mengatakan apa yang terjadi? ngomong ngomong siapa Si Gadis Merah?" Tanya Dimas.
"Kamu lupa? mungkin memang benar dia sudah melakukan itu dan membuat mereka lupa. Bagaimana jika kamu menggunakan ilusi mu?" Tanya Siluman Pohon.
"Aku bisa saja melakukan itu, tapi di sini? aku takut orang lain akan menghirup nya" Ujar Mirai.
"Apakah ada cara lain agar ilusi mu bekerja?" Tanya Siluman Pohon.
"Ada cara lain, tapi ini akan cukup berbahaya, saat aku mencakar diri ku sendiri maka darah ku akan menguap dan menghasilkan kabut khusus yang bisa menghasilkan ilusi. Kabut merupakan uap air, jadi kita bisa saja membuat uap air itu menjadi air. Tapi masalahnya adalah jika kita berikan dosis berlebihan maka bisa saja orang itu akan terjebak dalam ilusi ku untuk waktu yang lama" Ujar Mirai sambil menunjuk beberapa area yang ada di lengannya.
"Apakah kata yang kamu berikan itu merupakan kode?" Tanya Daihan.
"Tidak" Jawab Mirai sambil menganguk iya.
Daihan pun bingung seketika, saat ia bertanya ke Mirai, Mirai menjawab tidak. Tapi di saat yang bersama ia juga menganguk iya, Kemudian melihat hal itu Dimas pun langsung paham dengan apa yang di maksud oleh Mirai Sebenarnya.
"Apakah itu lawan kata?" Tanya Dimas.
"Tidak" Jawab Mirai sambil mengangguk iya.
"Apakah maksudmu waktu kita tinggal sedikit lagi dan Si Gadis Merah sudah datang?" Tanya Dimas.
__ADS_1
"Tidak" Jawab Mirai sambil mengangguk iya.
"Gadis Merah? siapa itu?" Tanya Daihan.
"Untuk itu aku tidak bisa memberitahu mu, jangan khawatir jika kata ku berkebalikan aku akan mengangkat tangan kiri ku. Jadi kalian bisa membedakannya" Ujar Mirai. sambil meletakkan tangannya di bawah.
"Baiklah kalian berdua duduk saja di situ ya, aku akan segera kembali" Tak lama kemudian Andre pun langsung masuk ke dalam kamar.
"Apakah Kan Diana dan Ira sudah datang?" Tanya Daihan.
"Iya mereka baru saja sampai, lebih baik kamu bersama mereka berdua saja. Aku dan mereka ingin membicarakan hal penting" Ujar Andre.
"Baiklah, aku akan di luar. Jika kaliam butuh aku cari saja aku di sana" Ujar Daihan.
"Jadi bagaimana Kak? apakah kamu tau apa yang di maksud Mirai?" Tanya Andre.
"Setiap kata yang Mirai ucapkan merupakan lawan dari kata tersebut. Tapi jika Mirai tidak mengangkat tangan kirinya itu berarti ia berbicara biasa, jika ia mengangkat tangan kirinya itu berarti kata sebenarnya berlawanan dengan ucapannya" Ujar Dimas.
"Artinya waktu kita sudah sedikit dan Si Gadis Merah sudah kembali?" Tanya Antre heran.
"Iya, tapi siapa itu Si Gadis Merah?" Tanya Dimas.
"Tidak" Ujar Mirai sambil mengangkat tangan kirinya.
"Farwani masih hidup? tapi bagaimana? bukankah kita melihat dia meledakkan dirinya di kawah gunung?" Tanya Dimas heran.
"Entahlah, tapi yang tidak pasti ia pergi dengan umurnya yang semakin tua. Entah apa yang menghancurkan nya seperti itu, tapi dengan umurnya yang menua itu membuat nya semakin mudah di kalahkan" Jawab Mirai sambil mengangkat tangan kirinya.
"Tapi yang pasti ia datang dengan umurnya yang semakin muda. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tapi dengan umurnya yang semakin muda itu membuatnya semakin mudah di kalahkan" Ujar Dimas menerjemahkan kata kata Mirai.
"Semakin muda? jadi bagaimana keadaan Kota Simangla? sekarang?" Tanya Andre.
"Kamu sudah melihatnya di ilusi ku di halte bus" Ujar Mirai.
Mendengar hal itu Andre pun langsung terkejut bukan main sebab yang ia lihat saat berada di halte bis beberapa hari yang lalu adalah keadaan Kota Simangla yang kelihatan sudah hampir hangus terbakar di lahap si jago merah.
__ADS_1
Andre pun langsung teringat semua orang yang ada di Kota Simangla dan juga tidak lupa dengan teman temannya yaitu Adith, Sinta, Keiya, Bagas dan Kurniawan.
"Apakah mereka baik baik saja? apakah Adith dan lainnya selamat?" Tanya Andre panik.
"Mereka semua tidak di kurung di Tambang Tua di Dunia Lain Gunung Singawari" Ujar Mirai sambil mengangkat tangan kirinya.
Dimas pun hanya bisa terdiam sambil menatap ke bawah. Sementara itu Daihan sedang di bawah bersama Ira dan Diana karena Andre memintanya ke sana agat tidak mengganggu percakapan mereka.
"Daihan? kenapa kamu ke sini?" Tanya Ira.
"Andre tadi meminta ku untuk menunggu ke sini" Ujar Daihan.
"Apakah dia baik baik saja?" Tanya Ira khawatir.
"Sudah jangan khawatirkan hal itu, aku sempat berada di sana dan kelihatannya akan ada masalah besar yang akan datang" Ujar Daihan.
Ira dan Diana pun langsung terdiam, keheningan pun tak bisa di hindari. Di ruang tamu hanya ada keheningan dan suara angin kencang yang menemani mereka, begitu pula di kamar Dimas pun hanya bisa terdiam seperti Andre.
"Jadi apakah kalian ingin ikut bersama kami melawan dia? kekuatan kami para penghuni gunung tidak cukup untuk melawannya, mengingat kamu dan teman teman mu lah yang telah menyelamatkan kami. Aku pikir kita bisa mengalahkannya jika bersama sama" Ujar Mirai.
"Mirai! jaga ucapan mu, jika kamu salah berucap kamu bisa saja tamat" Ujar Siluman Pohon.
"Jadi bagaimana Andre? kamu ikut?" Tanya Mirai.
"Baiklah, aku ikut. Demi teman teman ku, demi semua orang, demi kalian" Jawab Andre.
Kemudian Andre dan Dimas beserta Mirai dan Siluman Pohon pun langsung turun ke bawah dan bersiap untuk pergi ke Kota Simangla.
"Andre? kamu ingin ke mana?" Tanya Daihan.
"Aku akan ke Kota Simangla. Diahan, Ira, Kan Diana apakah kalian bisa menjaga rumah sampai kami kembali?" Tanya Andre.
"Tidak kami ingin ikut dengan mu, kami tidak ingin jika kamu dalam bahaya" Ujar Daihan.
"Apakah kamu sudah gila! ini perjalanan yang berbahaya! aku tidak ingin kalian mati di sana!"
__ADS_1
"Begitu juga kami, kami tidak ingin saat kamu kembali kami hanya bisa melihat mayatmu yang tak bernyawa" Ujar Diana.
To be contiune >>>