
Sementara itu di tempat Andre berada, Andre masih terus berusaha untuk melepaskan permata Merah yang terletak di punggung Sangkarawang. Terlihat wajah nya yang kesulitan untuk mencabut permata itu.
"Susah... sekali!" Ujar Andre sambil terus menarik sebisanya.
Dimas yang melihat Andre pun langsung segera menghampiri adiknya itu dan membantu Andre menarik permata merah milik Sangkarawang. Selagi mereka sibuk menarik, Diana dan semua yang ikut bertarung melawan Sangkarawang pun tetap menyerbu tanpa ampun.
Alhasil Sangkarawang tidak bisa beregenerasi dengan cepat. Tapi meski begitu, bagian yang tidak di serang masih bisa beregenerasi. Sehingga mereka tidak boleh berhenti.
Boooomm!!
Tiba tiba tangan Sangkarawang langsung tumbuh dengan cepat. Dan lebih anehnya, ia bisa mengetahui letak targetnya.
"Ahhh!!" Ujar Andre yang berusaha menyeimbangkan diri.
"Bagaimana bisa dia bergerak!?" Tanya Dimas keheranan.
"Matanya... sudah beregenerasi? tapi bagaimana bisa? perkiraan ku dia perlu waktu 10 menit jika di serang terus menerus, tapi ini belum 10 menit. Bagaimana cara dia bisa beregenerasi secepat itu?" Ujar Andre teheran heran dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, Andre melihat banyak luka yang langsung sembuh dalam sekejap. Tapi Yang aneh adalah luka itu sembuh seracara bertahap. Dari kaki sampai tangan, semuanya berurutan.
"Pantas saja. Dia mengerahkan semua kekuatan regenerasi nya di mata kanan dan tangan dominan nya, jadi tidak heran dia bisa sembuh secepat itu" Ujar Andre yang baru menyadari hal tersebut.
Andre yang melihat jika Sangkarawang bisa menegetahui letak lawannya pun menyadari jika mata milik Sangkarawang sudah beregenerasi kembali dan karena ia sudah bisa bergerak. Selain itu Sangkarawang pun juga bisa dengan mudah meyerang semuanya kembali.
"Kalian terlalu lama!" Tiba tiba Bagas datang dan langsung menancapkan kedua pendang miliknya di sekeliling permata dan langsung berusaha mencongkel paksa keluar permata merah tersebut.
Aarrrrghhhhh!!
Sangkarawang pun langsung mengeliak kesakitan dan terus bergerak karena mengetahui jika permata miliknya akan di cabut secara paksa.
"Dia terlalu banyak bergerak. Kalian berdua lumpuhkan dia dulu" Ujar Bagas yang masih berusaha untuk mencongkel paksa permata tersebut.
Andre dan Dimas pun turun dari punggung Sangkarawang dan bersiap menyerang bersama Diana dan lainnya agat bisa mengecoh perhatian Sangkarawang.
"Kita harus menyerang Sangkarawang. Tidak perlu membunuhnya, kita hanya perlu membuatnya tidak bergerak Ujar Dimas.
__ADS_1
"Tapi bagaimana caranya? dia terlalu banyak bergerak" Ujar Daihan.
"Kalian lukai saja dia sebisa kalian" Jawab Andre.
Akhirnya mereka semua pun langsung menyerang secara membabi buta ke arah Sangkarawang. Tapi semua serangan mereka sangat tidaj sepadan dengan yang di miliki Sangkarang saat ini.
"Ayo... sedikit lagi" Ujar Bagas yang masih berusaha untuk mencongkel permata merah tersebut.
Craaakk...
"Berhasil!" Ujar Bagas senang dalam hatinya.
Arrrgghhhhh!!
Sangkarawang pun langsung terjatuh lemas. Bagas pun langsung segera turun dan menuju ke arah Andre berada. Bisa di lihat bahwa Sangkarawang mulai kelelahan. Itu bisa di lihat dari nafas nya yang sudah mulai sedikit lebih berat dan terengah engah.
" Ku rasa dia sudah lelah. Dengan ini kita bisa lebih mudah menyerangnya" Ujar Andre yang juga sama lelahnya.
Tapi ternyata meski sudah kelelahan, Sangkarawang masih bisa bertahan dan masih tetap terus bertarung tanpa henti. Andre dan dan Dimas yang sudah terus memberikan serangan pun tidak sanggup memberikan serangan lagi.
Saat sedang menggantikan Andre dan Dimas bertarung, Bagas kembali teringat benda yang Ira hilangkan. Ia pun langsung mengingat sebuah topeng yang ia temukan dan nasib baik, ia masih menyimpan benda itu.
"Heii!! kamu cepat tangkap ini!!" Ujar Bagas sambil melempar benih yang berbentuk topeng itu.
Sangkarawang yang melihat itu pun tak tinggal diam. Ia pun langsung menangkap benih itu dan memakannya. Bagas pun segera berusaha memotong rahang Sangkarawang, tapi setelah di potong, ternyata hasilnya percuma saja. Sangkarawang sudah menelannya.
"Dia menelan nya. Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Bagas kesal.
"Kita sudah tidak memiliki harapan lagi. Di dalam tubuh makhluk itu, benih itu tidak akan bisa bertahan lama" Ujat Ira.
Tiba tiba mata Sangkarawang yang sudah bulat hampir keluar itu langsung keluar dan memunculkan banyak darah. Apalagi dengan mulutnya yang terus terbuka, membuatnya sedikit kebih seram dari sebelumnya.
"Hoekk! bau busuk apa ini?" Tanya Andre sambil menutup hidungnya.
"Lihat!" Tiba tiba Diana menunjuk kearah wajah Sangkarawang yang tiba tiba tumbuh bunga bangkai. Bukan hanya satu tapi ada lima buah yang tumbuh. Mereka pun juga semakin heran ketika Sangkarawang semakin lemas dan tidak berdaya.
__ADS_1
"Ada apa dengan dia?" Tanya Andre keheranan.
"Benihnya!" Ujar Ira.
"Benih?" Tanya Andre keheranan.
"Sama seperti mitos biji yang tumbuh dalam perut, benih itu kini sedang tumbuh dan mulai menggantikan tubuh Sangkarawang. Tapi karena keadaan tertentu benih itu tidak bisa tumbuh dengan cepat. Lagi pula mayat tidak memiliki asam lambung, jadi kemungkinan tumbuhnya masih ada" Ujar Ira.
"Jadi kita harus bagaimana?" Tanya Bagas.
"Kita harus melemahkan pocong itu, sebenarnya kita bisa membiarkannya. Tapi jika kita melemahkan nya, maka benih itu pasti bisa tumbuh lebih cepat" Jawab Ira.
Tapi yang di katakan oleh Ira ternyata tidak semudah kelihatannya. Karena Sangkarawang terlihat lebih liar dari sebelumnya. Sehingga akan berbahaya jika ada yang mendekatinya. Tapi mereka tidak memiliki pilihan lain lagi, mereka pun langsung mencoba melukai Sangkarawang. Meski agak susah, setidaknya mereka sudah bisa membuat pertumbuhan benih itu semakin lebih cepat.
Arggghhhh!!!
Tiba tiba Sangkarawang langsung memunculkan sabitnya dan langsung berniat untuk menebas mereka semua. Beruntung Dimas menyadari hal itu dan langsung meminta mereka semua untuk menunduk.
"Semuanya menunduk!" Ujar Dimas.
Sringg!...
"Tadi itu nyaris saja" Ujar Diana.
Lama kelamaan gerakan Sangkarawang semakin melambat dan terus lambat. Selain itu, terlihat tubuhnya mulai di tumbuhi banyak tanaman dan juga tangannya mulai menjadi tanah. Meski sudah seperti itu, Andre dan lainnya tetap waspada dan masih menyiapkan senjata mereka. Selain itu mereka juga mundur perlahan seiring Sangkarawang mendekati mereka.
Bruuukk!..
Tangan Sangkarawang pun langsung lepas dan kini tinggal tubuhnya saja yang tersisa. Gerakannya juga semakin kaku dan tubuhnya akhirnya berubah menjadi tanah sepenuhnya dan langsung hancur lebur. Dengan hancurnya tubuh Sangkarawang, akhirnya kisah Sangkarawang pun berakhir, tapi kisah mereka semua belum.
"Akhirnya selesai juga" Ujar Daihan lega.
"Tidak... kita harus segera membantu Keiya dan lainnya, mereka pasti kesusahan dalam menghadapi nenek tua itu" Ujar Adith.
Perjuangan Andre dan kawan kawannya masih belum berakhir, setelah berhasil mengalahkan Sangkarawang. Mereka kini harus melawan akar dari kejadian ini yaitu Farwani.
__ADS_1
To be contiune >>>