Dunia Lain

Dunia Lain
Angin misterius - Episode 56


__ADS_3

Kemudian di tengah jalan mereka berdua pun terpaksa berpisah, Andre pun lanjut pulang bersama Dimas. Karena Andre memohon ke kakaknya untuk pulang bersama Daihan, mereka pun terpaksa berjalan kaki untuk pulang dan melewatkan bus yang seharusnya mengarah ke halte dekat Komplek Perumahan Wasti.


Sesampainya di rumah, saat Andre membuka pintu. Ibu Andre pun langsung terkejut melihat kepulangan mereka yang cukup larut.


"Andre? Dimas? kalian berdua kenapa lama sekali pulang nya? apakah kalian baik baik saja? ibu dengar di Kampus kalian di temukan mayat beberapa mahasiswa" Ujar Ibu Andre cemas.


"Tidak apa apa bu, kami baik baik saja. Lagi pula sekarang kami sudah pulang" Ujar Dimas sambil mengaruk kepalanya meski tidak gatal.


[Selanjutnya laporan cuaca, di perkirakan besok akan merupakan hari yang cukup cerah. Tapi meski begitu masih di harapkan untuk tetap membawa payung ketika bepergian, karena di perkirakan juga akan ada hujan ringan dari pukul 14:00 sampai 16:00. Saya Melani Meigista pamit undur diri dan terima kasih ]


Di tengah pembicaraan mereka, seorang pembawa berita sedang membacakan sebuah laporan cuaca. Karena sedang serius berbicara mereka sama sekali tidak mendengarkan berita tersebut.


Keesokan harinya langit sangat mendung mulai menutupi Komplek Perumahan Wasti, angin kencang pun juga mulai berhenbus tak henti. Sampah plastik pun juga mulai beterbangan.


Jedeerr!!!!


"Hoaaamm... suara apa itu?" Berbeda dari sebelumnya bukannya di bangunkan oleh Dimas atau Ibunya, Andre malah di bangunkan oleh petir keras yang menyambar.


Tok! tok! tok!


"Andre!! cepat bangun nanti kamu terlambat ke kampus lho" Ujar Ibu Andre dari luar kamar.


"Baik bu! aku sudah bangun....."


Saat melihat kasur di atas nya, Andre tidak melihat Dimas di tempat tidur nya.


"Lho kakak di mana? biasanya dia yang paling sering membangunkan aku, kenapa sekarang tidak ada?" Ujar Andre.


"Andre!! cepat mandi nya!! nanti telat!!" Tiba tiba Ibu Andre langsung berteriak meminta Andre untuk segera mandi.


"Baik bu!" Ujar Andre.


Andre pum segera mandi dan mengganti pakaian nya dengan seragam kampus. Saat di meja makan Andre heran mengapa Dimas tidak kelihatan sejak awal.

__ADS_1


"Ibu kakak ada di mana?" Tanya Andre heran.


"Lho? bukannya dia ada di kamar kalian?" Tanya Ibu Andre sambil menuangkan minuman ke gelasnya.


"Tidak, saat aku bangun dia sudah tidak ada" Ujar Andre.


Brukkk!!!


Tiba tiba dari ruang tamu muncul suara pintu yang di tutup dengan keras sampai kedengaran di dapur.


"Suara apa itu?" Tanya Andre heran.


"Astaga anginnya cukup kencang, mungkin kali ini aku akan meminta Ayah mengantar aku dan Andre" Gumam Dimas.


"Dimas? kamu dari mana saja nak? kenapa kamu keluar di waktu seperti ini?" Tanya Ibu Andre heran.


"Tidak apa apa bu, tadi aku hanya keluar sebentar untuk membeli beberapa peralatan menulis" Jawab Dimas.


"Ehhh iya, untungnya aku menemukan toko alat tulis di dekat sini" Ujar Dimas sambil mengusap rambutnya.


"Sudah lah Dimas, lebih baik kami segera mandi. Kemudian nanti kalian akan di antar Ayah kalian ke Kampus" Ujar Ibu Andre.


"Baik bu" Dimas pun segera mandi dan mengganti pakaiannya, tidak lupa pula ia juga juga makan sebelum pergi.


Saat ingin ke Kampus mereka di antar oleh ayah mereka karena angin cukup berembus kencang dan tak henti hentinya membuat banyak sampah beterbangan.


"Kakak, bukannya itu Kak Ira dan Kak Diana?"


"Iya itu memang mereka, mungkin mereka sedang kesulitan. Ayah apakah kita boleh memberikan mereka berdua tumpangan?" Tanya Dimas ketika melihat Ira dan Diana sedang kesulitan karena angin kencang tersebut.


"Kan Ira, Kak Diana apakah kalian ingin menumpang?" Tanya Andre sambil mengeluarkan kepalanya keluar jendela.


"Andre jangan keluarkan kepalamu berbahaya" Ujar Dimas sambil menarik baju Andre.

__ADS_1


"Benarkah? baik terima kasih, ahhh!!" Sesudah berterima kasih tiba tiba ada plastik yang terbang dan mengenai wajah Ira.


Diana pun dengan segera melepaskan plastik itu dan kemudian membawa Ira masuk ke dalam mobil, di perjalanan semua tampak diam dan tidak membicarakan apapun, suasana pun juga semakin canggung dan itu pun terus terjadi sampai mereka sampai di Kampus.


"Baiklah semuanya, kini kita sudah sampai" Ujar Ayah Andre.


Andre, Dimas, Ira dan Diana pun segera turun dari mobil. Di luar kampus tampak sepi, tidak ada yang ingin keluar karena angin kencang tersebut.


"Oh iya, jika tidak salah hari ini kita semua mengikuti mapel kuliah bahasa inggris kan? artinya kita semua nanti satu ruangan kelas dong" Ujar Andre riang


"Maaf tapi... aku dan Dimas hari mengikuti mapel kuliah akuntansi" Ujar Diana.


"Jadi hari ini hanya aku, kan Ira dan Daihan saja yang satu ruangan kelas? ngomong ngomong di mana Daihan?" Tanya Andre.


"Emm jika tidak tidak salah saat kami ingin pergi ke kampus, dia mengatakan jika dia sudah di kelas. Katanya dia sengaja pergi lebih awal karena langit sedang mendung saat itu" Ujar Daina sambil memeriksa Hp nya.


Kemudian Andre dan Ira pun pergi ke Kelas mereka bersama sama. Seperti yang sudah di katakan Diana, Daihan memang sudah berada di Kelas dan sedang melihat HP nya. Andre pun langsung duduk di tempat duduk yang dekat dengan jendela agat bisa melihat pemandangan Luar Kampus. Sementara itu di Atap Kampus ada sesosok perempuan yang rambutnya di tiup oleh angin yang kencang sedang berdiri tepat di ujung Atap Kampus dan sedang memperhatikan Mahasiswa yang mulai berdatangan.


"Woaaahhh... mereka semua, semuanya ada di sini. Aku tidak sabar melihat wajah mereka ketika tenggelam dalam mayat teman teman mereka sendiri, membayangkan nya saja sudah membuat ku bersemangat. Memotong anggota tubuh mereka, mendengarkan teriakan teriakan ketakutan mereka. Aku tidak akan membiarkan ada yang hidup"


Sementara itu di kelas Andre dan Daihan sedang membicarakan mengenai poster untuk club jurnalis nantinya. Tiba tiba Daihan pun merasa mendengar sesuatu yang aneh, karena merasa aneh dengan suara itu Daihan pun segera bertanya ke Andre mengenai suara yang ia dengar.


"Andre, apakah kamu mendengar sesuatu?" Tanya Daihan heran.


"Entahlah, mungkin itu hanya perasaan mu saja" Ujar Andre.


"Sungguh aku tidak berbohong, aku sungguh mendengar suara seseorang" Ujar Daihan gigih.


Treeeenggg!!! Brang!


Kemudian suara Pagar Kampus yang tertutup pun berbunyi dan begitu pula dengan bel kampus yang juga ikut berbunyi. Semua mahasiswa yang ada di lorong maupun di luar kelas pun kembali masuk ke dalam kelas mereka masing masing. Begitu pula dengan seluruh guru juga ikut masuk ke ruang kelas untuk mengajar


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2