
Setelah kejadian itu, semua orang memutuskan untuk kembali ke tempatnya masing masing seakan akan tidak terjadi apa apa. Daihan, Ira dan Diana pun heran mengapa semua makhluk hutan terlihat santai seakan akan tidak terjadi apa apa.
"Mengapa mereka terlihat tidak panik? bukankah ada bahaya di luar sini?" Tanya Daihan heran.
"Tentu saja mereka tidak panik, kebanyakan makhluk halus di sini tidak mengetahui keberadaan nenek tua itu. Yang mereka tau hanyalah jika semua penghalang yang ada di Kota Simangla dan di Gunung Singawari mulai aktif, tapi aku yakin lama kelamaan mereka akan mengetahui segalanya" Ujar Bagas sambil memberikan sebuah tombak ke Arwah Hutan yang ada di dekatnya.
"Apakah yang kamu maksud itu seseorang bernama Farwani?" Tiba tiba ketika Daihan mengucapkan nama Farwani, seluruh desa langsung menjadi sepi dan banyak makhluk halus yang memperhatikan mereka ber 4.
"Hei kamu jaga mulutmu, apa pun yang terjadi jangan sebut nama itu lagi. Jika kamu masih menyebutkan nya lagi, aku tidak akan segan segan membuat mu babak belur" Bagas pun langsung menarik kerah baju Daihan dan memberikannya sebuah ancaman.
"B-baik"
Bagas pun langsung menurunkan Daihan dan segera ke tempat beberapa warga Kota Simangla berlindung, mereka bertiga pun langsung ikut bersama Bagas ke dalam tempat tersebut. Di sana terlihat beberapa orang yang cukup ketakutan, apalagi ada beberapa anak anak yang menangis. Bagas pun langsung berjalan perlahan menuju anak kecil yang menangis tersebut dan mencoba menghiburnya.
Untung nya rencana Bagas untuk menghibur anak tersebut berhasil dan alhasil anak tersebut tidak menangis lagi, tapi masih tetap takut. Melihat keadaan di tempat itu, Daihan pun baru saja paham jika kondisi di tempat itu cukup sangatlah buruk.
"Maaf nak apakah semuanya akan baik baik saja?" Tanya Bu Sika pada Bagas.
"Tenang saja bu, semuanya akan baik baik saja. Lihat saja bu besok pasti semuanya sudah kembali seperti semula" Ujar Bagas sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, syukurlah jika seperti itu" Ujat Bu Sika lega.
Saat Bu Sika mulai menjauh, raut wajah Bagas langsung berubah 180 derajat. Dari yang awalnya tersenyum lebar, menjadi sangat serius. Ira pun paham jika senyum yang Bagas berikan itu tadi adalah palsu.
"Semuanya tidak baik baik saja kan?" Tanya Ira.
"Apakah saat ada Leak yang menyerang kita dan membuat Andre dan lainnya sekarat itu bagus? Apakah saat saat seperti itu bisa di bilang baik baik saja?" Tanya Bagas yang kemudian berjalan ke tempat Andre dan lainnya di baringkan.
"Jadi kenapa kamu berbohong ke wanita itu?" Tanya Ira balik.
__ADS_1
"Apakah kamu tega melihat seseorang menjadi sedih dan ketakutan ketika kamu memberikan sebuah kebenaran yang menyakitkan?" Tanya Bagas.
Ira pun langsung berhasil di buat terdiam dengan perkataan Bagas yang barusan muncul dari kedua mulut dan bibirnya, kemudian Bagas pun langsung membuka pintu ruangan Andre dan lainnya berada dan langsung mengambil dua pasang sebuah pedang yang memiliki bentuk seperti milik Andre.
Bagas pun langsung membawa kedua pedang tersebut ke luar dan meletakkannya ke dalam sebuah sarung pedang agar tidak melukai seseorang. Entah apa alasan ia melakukan hal itu, tapi yang pasti Bagas kelihatan serius kala itu.
"Ngomong ngomong Bagas apakah kamu bisa menjelaskan kenapa Andre sedikit aneh?" Tanya Raihan sambil duduk di samping Bagas.
"Aneh? aneh bagaimana?" Tanya Bagas heran.
"Apakah kamu tidak melihat jika Andre terlihat aneh?" Tanya Daihan kembali.
"Tidak, aku rasa dia baik baik saja. Tapi.. sepertinya dia tidak memiliki niat bertarung" Jawab Bagas sambil menghadap ke Daihan.
"Apakah kamu bisa menjelaskan pengalaman setelah kalian pertama kali di Gunung Singawari ini?" Tanya Daihan.
"Kenapa kamu tau jika kami pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Bagas heran.
"Dimas, kakaknya Andre yang memberitahu ku" Jawab Daihan polos.
"Sepertinya Dimas tidak pandai menjaga rahasia" Kesal Bagas sambil memasang wajah kesal dan kaget di saat yang bersama.
"Jadi.. apakah kamu bisa menceritakan nya?" Tanya Daihan.
"Karena kamu sudah tau banyak, mungkin akan aku ceritakan" Jawab Bagas sambil meletakkan kedua pedang itu di samping nya.
"Sungguh? terima kasih banyak" Jawab Daihan senang.
"Jadi setelah kami keluar dari gunung ini, banyak hal yang terjadi di kota ini dari arwah adik Adith yang berkeliaran. Sampai teror di sekolah kami" Bagas pun menceritakan banyak hal sampai sampai membuat Daihan sangat fokus pada perkataannya saja.
__ADS_1
Semua kejadian ia ceritakan dengan begitu detail, sampai sampai tidak ada yang terlewatkan sedikit pun. Waktu pun berjalan lama dan sampai akhirnya Bagas pun mengakhiri cerita tersebut.
"Begitulah akhirnya. Memang tidak terlalu baik dan kejadian di sana cukup berantakan dan tidak memiliki pola, tapi menurutku saat Andre melihat banyak teman teman kami yang tewas. Ia pun langsung memiliki pikiran bahwa akan lebih baik jika semuanya selamat dari pada mengakhiri kejadian tersebut" Bagas pun langsung kembali mengambil kedua pedang tersebut dan mulai membersihkan pedang tersebut.
"Tidak, sepertinya Andre hanya takut jika ada yang tewas sama seperti sebelumnya. Ia terlalu memikirkan kami, mungkin saja itu alasan dia sangat melarang kami ke sini. Tapi kami tetap keras kepala dan mengikutinya" Ujar Diana setelah mendengar keseluruhan kisah tersebut.
"Iya kamu mungkin ada benarnya juga, tapi aku paham jika maksud dari perbuatannya itu baik. Sama seperti Mino" Jawab Bagas sambil memperhatikan pedang yang ada di tangannya.
Untuk sementara waktu mereka terdiam senyap tak berbicara, tapi kemudian semuanya menjadi lebih baik baik saja ketika Andre sudah kembali sadar dan datang menemui mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Andre.
"Andre? kamu sudah sadar?" Tanya Bagas heran.
"Itu bukan masalah kita kali ini, tapi mengapa kalian bertiga ke sini? aku sudah mengingatkan kalian jangan ke sini" Ujar Andre merah ke Daihan, Ira, dan Diana.
"Sudah ku bilang, kami khawatir dengan diri mu, kamu selalu suka melakukan sesuatu sendirian dan tidak pernah percaya pada teman mu sendiri" Jawab Diana.
"Apa maksud mu?" Tanya Andre terheran heran.
"Kamu tidak ingin kami mati kan? begitu juga kami yang tidak ingin melihat kamu terbaring dingin di tanah" Diana pun semakin banyak bicara dan tidak mengizinkan Andre berbicara sepatah kata pun.
"Tunggu dulu kak Diana, biar ku jelaskan terlebih dahulu" Ujar Andre.
"Cukup! kami tidak ingin mendengar alasan dari mu! kali ini kita semua datang di ke sini dan kita juga akan pulang bersama sama" Jawab Diana sambil memperhatikan Andre.
"Kamu tidak mengerti... Alasan aku tidak membawa kalian ke sini memang hanya untuk melindungi kalian, tapi aku juga memiliki alasan lain" Andre pun langsung duduk di sebuah batu yang dekat dengan dirinya.
To be contiune >>>
__ADS_1