Dunia Lain

Dunia Lain
Bahaya yang menanti ( Bagian 1 ) - Episode 62


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Mirai pun langsung menyembunyikan wujud siluman nya dan mulai mengevakuasi Mahasiwa yang selamat keluar Kampus. Setiap Mahasiswa yang selamat pun langsung di pulangkan begitu pula dengan Andre, Dimas, dan Daihan.


Karena rumah mereka bertiga berada di Komplek Perumahan Wasti, maka mereka pun akan pulang bersama. Begitu pula dengan Mirai dan Siluman Pohon yang ikut pulang bersama Andre untuk membicarakan sesuatu yang penting. Di perjalanan Daihan yang masih belum paham dengan apa yang terjadi pun hanya bisa keheranan.


"Kak Dimas sebenarnya apa yang terjadi di sini? siapa kedua orang itu?" Tanya Daihan bingung.


"Emmm... bagaimana saya memberitahu mu.. ini mungkin akan sedikit rumit" Ujar Dimas sambil kebingungan ingin memberitahukan ke Daihan atau tidak.


"Tidak apa apa Dimas, kamu bisa memberitahu nya. Jika dia membocorkan ini ke publik maka akan ku bunuh" Ujar Mirai yang duduk di samping Andre.


"Untuk Siluman pendengaran nya cukup tajam" Sindir Dimas.


"Aku mendengar itu!" Ujar Mirai sambil menaikkan nada suaranya. Dimas pun langsung menatap takut Mirai.


"Baiklah, jadi semua ini di awali dari saat kami berada di Kota Simangla.... "


Kemudian Dimas pun langsung menceritakan seluruh kejadian yang mereka alami di Gunung Sungawari, tapi Dimas sama sekali tidak menceritakan kejadian di Sekolah lama Andre yang berada di Kota Simangla. Salah satu alasannya karena ia tidak tahu dan tidak pernah di beritahu kejadian tersebut oleh Andre maupun kedua orang tuanya.


"Jadi seperti itu ceritanya, tapi kenapa Andre tidak seberani yang kamu ceritakan tadi?" Tanya Daihan heran.


"Entahlah, seharusnya dia bisa menebas makhluk aneh yang ada di Kampus dalam sekejap. Tapi dia tidak melakukan itu, malahan saat kami melawan makhluk merayap itu Andre justru terlihat lemah tidak seperti sebelumnya" Ujar Dimas dengan nada yang bercampur antara perasaan heran dan khawatir.


Kemudian Daihan pun hanya bisa terdiam, ia heran mengapa Andre yang awalnya cukup berani melawan Farwani, Sangkarawang, dan beberapa makhluk dan siluman lainnya menjadi cukup lemah ketika di Kampus. Selama di perjalanan semua orang tampak diam dan membisu di tempat.


Tapi satu satunya yang aneh di sana adalah angin yang berembus dari tadi pagi sampai kini belum selesai berembus. Bukannya semakin pelan berembus makah angin tersebut semakin kencang dan mulai membuat semua orang tidak berani keluar rumah.


"Kenapa angin ini masih berembus sejak tadi pagi? terlebih lagi ini anginnya semakin kencang. Apakah angin ini pertanda sesuatu?" Tanya Andre heran.


"Itulah masalah kita saat ini, tapi aku tidak bisa mengatakan banyak hal mengenai ini. Kamu akan tau saat kita ke tempat yang seharusnya" Ujar Mirai serius.

__ADS_1


Lama kelamaan setiap penumpang bus mulai turun satu persatu, bus yang awalnya ramai pun mulai menjadi sepi dan hanya menyisakan mereka semua.


"Ehhhh.... Siluman Rubah" Kemudian Andre pun langsung memanggil Siluman Rubah untuk mengajak nya untuk berbicara.


"Panggil saya Mirai saja, lagi pula itu nama yang di berikan oleh seseorang yang aku sayangi" Ujar Siluman Rubah.


"Baik, Mirai. Ngomong ngomong di mana Siluman Pohon? aku tidak melihatnya di bus" Ujar Andre sambil memperhatikan sekeliling bus.


"Dia ada di atas bus, aku sudah memintanya untuk masuk saja. Tapi dia masih keras kepala dan lebih memilih di atas bus" Ujar Mirai.


"Di atas bus? untuk ada dia di sana?" Tanya Andre heran.


"Keadaan kami berdua sedang buruk, mungkin dia hanya ingin berjaga jaga" Ujar Mirai.


Mendengar hal itu, Andre pun langsung heran mengenai apa yang sedang terjadi kepada Mirai dan Siluman Pohon sampai mereka harus menemuinya secara diam diam tampa memberikan pemberitahuan terlebih dahulu. Tapi karena ragu Andre pun tidak menanyakan hal itu dan hanya duduk diam di bus sampai bus itu berhenti di Halte dekat Komplek Perumahan Wasti.


Saat turun dari bus, Andre hampir saja terjatuh karena tiupan angin yang berasal dari samping kirinya. Beruntung Dimas langsung menangkap Andre dan segera membantunya berjalan di tengah Angin yang mengerikan itu. Taman Komplek yang awalnya ramai dengan anak anak pun langsung menjadi sepi dan di penuhi sampah sampah yang beterbangan.


"Andre kenapa kamu membawa teman teman mu?" Tanya Ibu Andre heran.


"Ehhh jadi begini bu, karena angin yang kencang mereka tidak bisa pulang. Jadi apakah mereka boleh menginap di sini sampai angin nya reda?" Tanya Andre ke ibunya.


"Ohh baguslah jika seperti itu, Ibu dan ayah akan mengantarkan nenek mu ke rumah bibi mu yang ada di luar kota dulu ya. Mungkin ibu akan pulang minggu depan jadi jaga rumah sampai ibu kembali ya" Ujar Ibu Andre sambil memakai sebuah jaket.


"Baik bu terima kasih" Ujar Andre sambil tersenyum.


Mereka semua pun langsung masuk ke kamar milik Andre dan Dimas untuk mendiskusikan mengenai apa yang terjadi dan mengapa Mirai dan Siluman Pohon datang menemui mereka.


"Kalian semua duduk dulu, saya akan membuka jendela untuk Siluman Pohon terlebih dahulu, di sini dia tidak bisa menyembunyikan wujud silumannya. Jadi aku memintanya menunggu di luar" Ujar Mirai.

__ADS_1


"Kenapa kamu lama sekali membuka jendelanya? di luar anginnya semakin memburuk" Ujar Siluman Pohon.


Tringg!!!! Tringg!!!


"Ehh maaf telepon ku berdering" Ujar Andre.


"Dari siapa?" Tanya Daihan.


"Dari kak Diana, semuanya kalian bicara lah terlebih dahulu. Aku akan ke ruang tamu sebentar" Ujar Andre.


"Baiklah tapi cepat ya, ini merupakan pembicaraan yang penting jadi jangan lama lama" Ujar Mirai.


"Baik" Jawab Andre.


Kemudian Andre pun langsung membuka pintu kamar dan segera ke ruang tamu, karena suasana sudah sepi, maka Andre pun mulai menjawab panggilan dari Diana.


"Halo kak Diana, ada apa? apakah semunya baik baik saja?" Tanya Andre.


"Halo Andre! bolehkah aku dan Ira ke rumah mu! tidak lama setelah bus meninggalkan komplek tiba tiba busnya berhenti karena angin kencang!" Ujar Diana yang berbicara sambil berteriak karena di sana suara dari angin itu sangat kencang dan membuat suara Diana menjadi sedikit samar samar.


"Baik kak, hati hati ya" Ujar Andre.


Kemudian panggilan pum langsung di akhiri. Karena panggilan itu sudah berakhir, maka Andre pun langsung segera pergi ke kamarnya dan langsung duduk di samping kasurnya.


"Jadi bagaimana apa yang Diana katakan?" Tanya Dimas.


"Kak Diana mengatakan jika tidak lama setelah bus meninggalkan komplek ini, tiba tiba busnya berhenti karena angin kencang. Jadi Diana akan ke rumah kita untuk berteduh" Ujar Andre.


"Baiklah sekarang waktu kita masih banyak, jadi saya akan mengatakannya secara panjang saja Si Gadis Merah sudah pergi. Ia pergi saat kalian kembali ke Gunung Singawari" Ujar Mirai sambil menggambar seorang perempuan di buku gambar milik Andre.

__ADS_1


Andre pun heran dengan apa yang di katakan oleh Mirai sebenarnya, tapi ia langsung berpikir jika itu merupakan sebuah kode dari Mirai. Tapi kenapa Mirai tidak mengatakan itu secara langsung?


To be contiune >>>


__ADS_2