
"Iya, aku tadi memiliki sebuah benih khusus yang berbentuk seperti topeng arwah hutan. Tapi kini benih itu sudah hilang" Ujar Ira.
Tiba tiba pembicaraan mereka di potong oleh sangkarawang yang semakin di luar kendali. Sangkarawang dengan sabitnya pun langsung menghancurkan dinding kawah secara perlahan lahan dan banyak batu yang berjatuhan.
"Semua cepat menghindar!" Ujar Adith.
Adith pun langsung melompat dari satu batu ke batu lainnya agar bisa mencari posisi yang cocok agar bisa menyerang Sangkarawang dengan mudah. Tapi sayangnya, kaki Aduh belum terlalu sembuh. Sehingga membuat tulang kaki nya sedikit retak.
Kreekkk!!...
"Akhh... sial... seharusnya aku tidak memaksakan diri" Ujar Adith sambil jatuh ke bawah.
Dengan cepat Mino pun langsung mengendalikan salah satu batu di sana dan membuat Adith terjatuh ke batu yang ia kendalikan. Beruntung karena Mino, Adith bisa mendarat dengan aman dan nyaman tanpa luka tambahan.
"Adith apakah kamu baik baik saja?" Tanya Andre.
"Tidak terlalu, sepertinya kaki ku terluka lagi" Ujar Adith.
"Lebih baik kamu pergi saja. Jika tidak kamu akan terluka lebih parah lagi" Ujar Diana.
Tak lama kemudian batu yang di duduki Adith kembali melayang. Dan saat Adith menoleh ke arah Mino dan Geisha, ia paham bahwa mereka beruda akan membantunya agar bisa tetap bertarung.
"Apakah kamu masih bisa berdiri Aduh?" Tanya Andre.
"Bisa... dan aku juga masih bisa bertarung" Ujar Adith.
Kemudian batu yang di duduki oleh Adith pun kembali melayang. Adith pun mulai berdiri dan mulai bersiap kembali Bertarung. Melihat temannya yang pantang menyerah, Andre dan lainnya pun langsung juga tidak mau kalah dan kembali bertarung.
__ADS_1
"Baiklah kali ini, aku harus mencari titik butanya" Ujar Andre dalam hatinya.
Kemudian ia pun tersadar jika mata Sangkarawang itu terlihat terus bergerak tanpa henti dan juga dengan kecepatan dan gerakan yang tidak wajar. Seakan akan melihat semua yang ada, dengan itu pun Andre menyadari bagaimana cara membuat titik buta yang besar.
"Bagas! lakukan itu pada nya!" Ujar Andre sambil menunjuk ke arah mata Sangkarawang.
Kemudian Bagas pun langsung menancapkan kedua pedang miliknya ke mata Sangkarawang. Dan alhasil, kini Sangkarawang menggeliak kesakitan dan di saat itu juga Dimas, Andre, Adith, dan Daihan memotong bagian tubuh Sangkarawang semampu mereka. Dan kini Sangkarawang sudah terkapar tidak berdaya. Di hitung dari luka yang banyak, bagi Sangkarawang itu akan sangat susah untuk menyembuhkan semua lukanya dalam waktu yang cepat.
"Bagus jika perkiraan ku benar, maka cara terakhir hanya terus menyerangnya sampai ia sendiri tidak mampu beregenerasi lagi" Ujar Andre.
Kemudian mereka semua pun langsung menyerbu Sangkarawang tanpa henti dan tidak membiarkan Sangkarawang berhasil menyembuhkan dirinya. Di sekeliling Sangkarawang pun juga muncul banyak asap hitam yang menandakan ia berusaha beregenerasi lagi. Dan cara Andre benar. Sangkarawang tidak memiliki sedetik pun waktu untuk beregenerasi sepenuhnya.
"Akhirnya kita berhasil, sekarang hanya perlu mencari tahu di mana titik paling lemahnya" Ujar Andre.
Mengingat kristal merah yang di miliki Sangkarawang, Andre pun segera mencari kristal merah itu ke seluruh tubuh Sangkarawang. Dan ternyata permata itu ada di tengah punggungnya Sangkarawang. Melihat kesempatan itu, Andre pun segera ke sana untuk mencopot permata itu dari punggung Sangkarawang, berharap itu bisa mengalahkan Sangkarawang.
"Jika seperti ini terus, maka kita harus mencari cara lain agar bisa menyerang dia dari jarak dekat" Ujar Sinta yang terus membuat angin yang terus meniup Farwani agar bisa terkena serangan yang mereka lancarkan.
"Siluman Rubah, apakah kamu bisa membakar saja nenek tua itu?" Tanya Sinta.
"Baik" Jawab Siluman Rubah.
Saat Siluman Rakun mengetahui jika mereka akan membakar Farwani, ia langsung memegang tangan Siluman Rubah dan memperingati mereka bahwa rencana itu sangat berbahaya.
"Tidak, jika nenek itu berhasil terbakar, maka apinya akan tertiup angin dan membesar. Itu akan sangat berbahaya. Lagi pula akan sangat sulit untuk melemparkan bola api, nenek itu pasti akan terbakar" Ujar Siluman Rakun yang langsung menghentikan Siluman Rubah.
"Jadi kita harus bagaimana? waktu kita hanya 18 menit dan ku rasa ini sudah berkurang" Ujar Sinta.
__ADS_1
"Jangan serang nenek itu, serang altar nya. Otomatis dia pasti akan melindungi altar itu bagaimana pun caranya, tapi jika bisa kita harus membunuhnya secepatnya. Jika kita tidak melakukan itu, maka percuma saja" Ujar Siluman Rakun.
Di mulai dari Siluman Rubah yang mencoba membakar altar batu yang di tancapkan tongkat milik Farwani, lama kelamaan semua orang langsung menyerang altar itu juga. Farwani yang melihat itu pun hanya biasa saja dan percaya jika altar itu tidak akan bisa rusak.
"Cihh.. mereka cukup bodoh, altar itu tidak akan bisa rusak. Kecuali jika altar itu di serang dengan senjata yang pernah menggunakan altar Itu" Ujar Farwani.
Krek!
Tiba tiba terlihat retakan yang cukup kecil. Meski ukurannya kecil, jika di biarkan pasti akan menjadi besar dan lama kelamaan akan menghancurkan altar itu. Farwani yang melihat itu pun langsung keheranan karena ia menyadari jika ada sesuatu yang ia lupakan.
"Retak? tapi bagaimana bisa?" Ujar Farwani keheranan.
"Senjata... senjata apa yang sudah pernah di beri kekuatan oleh altar itu? Ckkk... sepertinya aku tidak memiliki cara lain selain mencari tahu" Ujar Farwani sambil mulai melemparkan beberapa batu.
Akhirnya setelah beberapa kali menghindar, Farwani pun langsung mulai melancarkan serangan. Meski hanya dengan melemparkan batu besar dengan kekuatan nya, Farwani sepertinya bisa mengganggu semua yang menyerang altar tersebut.
"Baiklah sekarang terima saja batu besar ini! dasar serangga pengganggu!" Farwani pun langsung melemparkan 3 buah batu besar sekaligus.
Bukannya jatuh menimpa banyak orang, ketiga batu itu malah melayang begitu saja dan tidak mengenai siapapun. Farwani yang sudah cukup yakin akan menang pun langsung terkejut dan kesal, karena tidak percaya dengan yang ia lihat, ia pun langsung melemparkan lenih banyak batu, tapi hasilnya nihil.
"Bagaimana bati itu bisa melayang!?" Ujar Farwani sambil melempar lebih banyak batu lagi.
Tapi sama seperti sebelumnya, batu batu yang di lempar Farwani terus melayang dan tidak jatuh menimpa siapapun. Farwani yang melihat itu pun langsung semakin kesal. Tapi meski sudah sangat kesal, ia tetap berusaha tidak mengamuk. Karena ia tahu bahwa jika ia terlalu mengamuk, maka nanti nasibnya akan sama seperti Siluman Angin Gunung.
"Tidak akan ku biarkan!" Ujar Geisha yang sudah menjaga agar semua batu itu tetap melayang.
To be Contiune >>>
__ADS_1