Dunia Lain

Dunia Lain
Lari dari Siluman Angin Gunung - Episode 74


__ADS_3

"Ehh? kenapa kalian diam seperti itu? apakah kalian tidak merindukan aku?" Tanya Siluman Angin Gunung sambil turun perlahan menuju mereka.


Mereka semua pun berusaha menjaga jarak dan mulai mundur secara perlahan. Semakin rendah Siluman Angin Gunung turun, maka semakin menjauh dan waspada juga mereka terhadap Siluman Angin Gunung.


"Kenapa kalian menjauh seperti itu? apakah kalian tidak menyukai kedatangan ku?" Siluman Angin Gunung pun mulai berjalan mendekati mereka semua secara perlahan sambil berbicara hal yang kelihatan basa basi.


Wuusshhh...


Di saat itu juga tiba tiba Siluman Angin Gunung juga ikut menghilang di ikuti dengan angin yang berembus melewati mereka. Menyadari jika Siluman Angin Gunung menghilang, Andre pun semakin waspada dan mengandalkan pendengaran nya untuk mendengar hembusan angin yang muncul.


"Dimana? ada di mana dia? kiri? kanan? atas? bawah? ada di mana dia" Ujar Andre dalam hatinya sambil memejamkan matanya dan mencoba fokus mendengar suara angin yang akan berembus jika Siluman Angin Gunung muncul.


Wuusshhh....


"Di belakang?" Tiba tiba Andre mendengar suara angin yang berembus kasar karena terkena dedaunan dan ranting pohon.


"Ka..mu.. harus mati.."


Saat Andre menoleh, Siluman Angin Gunung sudah berada di belakang Siluman Rakun dan kelihatannya Siluman Angin Gunung ingin membunuh Siluman Rakun. Wajah Siluman Rakun pun mulai ketakutan dan ia hanya bisa terpaku diam dalam keadaan tersebut.


"Sekarang kita harus bagaimana? andai Siluman Rubah ada di sini, maka kita pasti tidak akan kesusahan. Tapi di mana Siluman Rubah dan Siluman Pohon?" Gumam Sinta terheran.


"Eits.. jangan ada yang bergerak, atau akan ku bunuh Siluman ini" Ujar Siluman Angin Gunung sambil meletakkan jarinya yang berhiaskan kuku tajam di wajah Siluman Rakun.


"Tidak ada cara lain, aku harus melakukannya sekarang" Ujar Keiya dalam hatinya.


"Baiklah aku menyerah, tapi jangan lukai Siluman Rakun" Ujar Keiya sambil menancapkan senjata jarum miliknya ke tanah.

__ADS_1


"Apa yang kamu maksud Keiya! kalian semua cepat pergi! biarkan saja aku di sini!" Mendengar Keiya yang menyerah Siluman Rakun pun tak tinggal diam dan langsung berteriak kesal.


"Shhhtttt... jika kamu sedang dalam bahaya, lebih baik kamu diam saja" Kemudian Siluman Angin Gunung pun langsung mencakar wajah Siluman Rakun dengan kukunya yang tajam dan langsung melemparkan Siluman Rakun ke arah Sinta.


"Siluman Rakun? apakah kamu baik baik saja?" Tanya Sinta khawatir.


"Aku baik baik saja, tapi apa yang di lakukan Keiya sama sekali tidak lah benar" Ujar Siluman Rakun.


"Bagus sekali jika kamu menyerah, sekarang pekerjaan ku akan lebih mudah. Cepat berikan senjata mu pada ku, dan akan ku biarkan teman teman mu hidup" Siluman Angin Gunung pun sekarang mulai mendekat ke Keiya dan berniat mengambil senjata Keiya.


"Jangan Keiya!" Teriak Siluman Rakun.


"Diam!!" Tiba tiba Siluman Angin Gunung melempar Siluman Rakun menuju ke sebuah pohon dengan menggunakan hembusan angin yang kuat.


"Baiklah, jadi apakah kamu setuju dengan penawaran ku?" Tanya Siluman Angin Gunung.


"Baiklah silakan saja, yang penting senjata itu ada di tangan ku" Siluman Angin Gunung pun langsung mundur sedikit agar Keiya bisa mengambil Senjatanya.


Saat Keiya mengulurkan tangan kanan nya, senjata jarum yang awalnya menancap ke tanah pun mulai masuk kedalam tanah. Dan mulai keluar kembali ke genggaman tangan Keiya. Saat Keiya sudah mendapatkan senjatanya kembali, ia pun langsung berjalan perlahan menuju Siluman Angin Gunung dan berencana memberikannya.


"Jika Keiya memberikan senjata itu maka tamat sudah" Gumam Siluman Rakun yang pasrah dengan apa yang ada di depannya.


"Kamu sangat ingin mendapatkan senjata ini kan?" Tanya Keiya sambil berjalan perlahan menuju Siluman Angin Gunung.


"Memangnya kenapa? aku hanya ingin mendapatkan senjata ini karena akan merepotkan jika kalian bisa melawan ku" Ujar Siluman Angin Gunung sombong dengan kekuatan yang di miliknya.


"Kalo seperti itu... Terima ini!" Keiya pun langsung mempercepat pergerakan nya dan di saat itu juga, jarum milik Keiya membelah menjadi 2 bagian dengan benang yang mengikat antara keduanya.

__ADS_1


Keiya pun langsung melemparkan jarumnya ke belakang Siluman Angin Gunung dan segera berlari ke belakang juga untuk mengambil jarumnya kembali. Saat sudah mendapatkan jarumnya kembali, Keiya pun langsung menyilangkan benangnya sampai mengikat leher Siluman Angin Gunung.


"Terima ini!" Keiya pun langsung menendang Siluman Angin Gunung ke depan dan karena leher Siluman Angin Gunung tertahan benang Keiya, maka leher Siluman Angin Gunung pun terpotong rapi dan terpisah dari tubuhnya.


"Kalian semua cepat pergi dan lari! Siluman Rakun cepat buat kita semua tidak terlihat!" Ujar Keiya yang langsung menjauh dari sana.


Keiya pun langsung berlari mendekati Siluman Rakun agar bisa ikur tidak terlihat dan langsung menjauh dari sana. Saat Keiya dan lainnya sudah jauh dari sana, terlihat tubuh Siluman Angin Gunung mulai mengeluarkan asap hitam dan langsung menutupi tubuhnya.


Teryata asap itu bukankah sembarang asap hitam yang muncul. Menang kepala nya langsung menghilang di ikuti asap yang menyelimuti kepalanya, tapi berbeda dengan kepalanya, tubuh Siluman Angin Gunung malah mulai menumbuhkan kepala baru sambil di ikuti oleh asap hitam yang menyelimuti nya.


"Da..sar... Tidak akan aku maaf kan!" Suara dari Siluman Angin Gunung pun mulai muncul dan sampai bisa di dengar dari jarak yang jauh sekali pun.


Suara yang di sebabkan oleh Siluman Angin Gunung itu pun langsung membuat ranting pohon dan semua dedaunan di sana mulai bergesekan sehingga membuat suasana yang cukup mencekan. Apalagi di saat itu juga angin yang sudah berembus sejak awal hari itu mulai lebih kencang dan mengerikan.


"Sepertinya Siluman Angin Gunung sudah menyembuhkan dirinya. Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Sinta sambil masih tetap berlari dalam keadaan tidak terlihat.


"Sudah kita nanti saja membahas itu, sekarang lari saja dulu. Jika kita tertangkap, bisa di pastikan nyawa kita akan terancam" Jawab Siluman Rakun.


Sementara itu, kembali ke tempat Siluman Angin Gunung berada. Terlihat banyak pohon yang kehilangan daunnya dan mulai botak akibat tertiup oleh angin yang bertiup mengelilingi Siluman Angin Gunung.


"Dasar anak anak nakal itu! kali ini akan ku pastikan mereka semua mati tidak tersisa. Beraninya anak itu memenggal kepala ku ini, tidak akan aku maafkan!!!" Ujar Siluman Angin Gunung kesal di ikuti oleh angin kencang yang berembus mengikutinya.


Angin yang berembus kencang akibat Siluman Angin Gunung itu pun sampai sampai datang dan berembus di tempat Diana, Daihan, Ira dan Aduh yang kakinya terluka berada. Yaitu di desa tempat Roh Hutan tinggal.


"Angin ini... apakah ini Siluman Angin Gunung?" Tanya Adith tergerak heran.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2