
"Baiklah, sekarang kita hanya perlu ke bangunan tua sebelumnya dan segera mengakhiri ini semua" Ujar Andre yang sudah tidak ingin temannya menghilang di hadapannya lagi.
"Ku rasa tidak perlu" Ujar Daihan.
"Apa!?" Tanya Andre heran.
"Apakah itu bangunan yang kamu maksud?" Tanya Daihan sambil menunjuk sebuah bangunan tua yang kelihatannya sudah sedikit hancur.
"Iya, memang itu bangunannya. Kabar baiknya kalian sebelumnya sudah merusak pintu masuknya, jadi tidak perlu repot repot membuat keributan" Ujar Siluman Rakun.
"Dia mengatakan itu seolah olah semuanya baik baik saja" Ujar Ira dalam hatinya.
"Baiklah, tidak ada waktu untuk berbasa basi lagi. Ayo kita pergi sekarang" Ujar Dimas.
Suasana terlihat sangat sunyi, bukan ini terlalu sunyi. Tidak ada perangkap, pengalihan atau hal hal lainnya yang akan membuat mereka semua menjadi terlambat. Kesunyian ini pun langsung membuat mereka semua sedikit merasa aneh.
"Ku rasa ada yang tidak beres, apa ini hanya telinga ku yang salah atau memang di sini cukup mencurigakan?" Ujar Diana.
"Lebih baik kita terus maju saja. Seharusnya jalan ini akan membawa kita ke kawah gunung" Ujar Andre.
"Ahhh... akhirnya kalian datang juga, aku sudah sangat merindukan kalian. Dan aku tidak akan melupakan apa yang sudah kalian lakukan pada ku sebelumnya. Terus lah berjalan dan mari kita berbicara sebentar, jika kalian bisa selamat dari semua hadiah yang ku siapkan ini. Sampai jumpa dan bertahanlah"
"Tidak salah lagi, ini memang nenek tua itu. Tapi hadiah apa yang ia maksud sebenarnya?" Tanya Bagas heran.
Nyuu~~
Tiba tiba Bagas mendengar sebuah suara yang menurutnya familiar, karena tidak percaya ia pun langsung berbalik ke belakang dengan segera dan ternyata bukan lah Arwah Hutan yang ia lihat, melainkan seekor makhluk yang memiliki bentuk tubuh yang menyerupai dengan sebuah boneka kayu yang cukup mengemaskan bagi Bagas.
"Kamu makhluk apa?" Tanya Bagas sambil menggendong makhluk imut tersebut.
__ADS_1
Tiba tiba saja makhluk itu langsung menggigit tangan Bagas dengan keras. Karena gigitan yang keras itu, Bagas pun terpaksa melempar makhluk tersebut dan sedikit kesal.
"Kenapa kamu menggigit ku?" Tanya Bagas kesal.
Tiba tiba wajah makhluk tersebut yang awalnya lucu langsung berubah menjadi seperti boneka yang terbakar. Wajah boneka itu yang awalnya bagaikan boneka perempuan yang cantik seketika berubah menjadi boneka yang kehilangan mata mulut dan rambutnya.
Awalnya memang menakutkan. Tapi suasana tersebut semakin menakutkan ketika dari arah depan dan belakang mereka muncul boneka yang sama dan juga memiliki keadaan yang sama, yaitu terbakar dan tanpa mata atau pun mulut.
"Sial sepertinya kita akan terlambat lagi" Ujar Andre kesal.
Akhirnya mereka pun langsung melawan semua makhluk tersebut. Memang tubuh mereka itu kecil, tapi kekuatan dan jumlah mereka tidak sebanding dengan Andre dan teman temannya. Alhasil mereka pun harus bertahan melawan serbuan semua makhluk kecil tersebut.
"Ada berapa banyak mereka semua? kenapa tidak ada habisnya?" Diana kelihatannya sudah sangat kelelahan karena melawan semua makhluk tersebut.
"Entahlah, tapi kita harus segera pergi dari sini. Jika tidak waktu yang kita miliki akan semakin sedikit" Ujat Bagas yang langsung berusaha berlari, meski harus sambil menghindar dan menyerah semua makhluk tersebut.
Tiba tiba dari belakang muncul sebuah kabut yang mulai mendekati mereka dan melihat semua makhluk yang berada di dekat kabut itu langsung terjatuh dan tidak bergerak, Andre dan teman temannya pun langsung berpikir jika kabut itu sangat berbahaya.
"Kabut apa itu?" Tanya Daihan.
"Entahlah, tapi terus berlari sebisa kalian dan tetap lawan semua makhluk yang ada di depan kalian. Jangan berbalik dan tetap fokus" Ujar Bagas.
Mereka pun langsung berlari secepat yang mereka bisa. Tapi sayangnya kabut itu sudah bisa mendekati mereka dan secara langsung Sinta langsung mengipaskan semua kabut itu dengan menggunakan senjatanya.
"Bagus Sinta, sekarang kita akan bisa menghindar dari kabut itu" Ujar Siluman Rakun memuji Sinta.
Tapi sepertinya usaha Sinta tidak membuahkan hasil sama sekali. Kabut itu langsung muncul lagi dan kali ini berada di depan dan belakang mereka, sebenarnya dari mana asal semua kabut itu dan siapa yang memunculkan nya?
"Sial kita terjebak, Sinta apakah kamu bisa mengipas kabut itu lagi?" Tanya Bagas.
__ADS_1
"Ku rasa aku bisa, tapi apakah akan berhasil" Tanya Sinta ragu.
"Sudah lakukan saja" Ujar Bagas.
Kemudian Sinta pun langsung mengibaskan kipas miliknya. Tapi sayangnya hal itu kelihatan tidak berhasil, tidak ada satu kabut pun yang tertiup. Semua kabut itu terus saja maju dan maju sampai sampai membuat mereka semua terpojok.
Bahkan sebelum semua kabut itu mengenai mereka, mereka pun langsung merasakan lemas yang sangat berat dan langsung membuat mereka terjatuh dan mulai menutup mata mereka. Sesaat sebelum Dimas menutup matanya, ia melihat ada 2 benda berwarna putih yang kelihatannya memandangi mereka. Dan kemudian mata Dimas pun lansung tertutup sepenuhnya setelah beberapa saat.
"Akhirnya kita menemukan mereka, sekarang cepat kamu bawa mereka semua" Ujar salah satu benda putih yang Dimas lihat.
Meski matanya kini sudah tertutup, tapi samar samar ia bisa mendengar beberapa kata yang di ucapkan oleh kedua benda putih tersebut dan kemudian Dimas pun sudah tidak sadarkan diri untuk sepenuhnya.
Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri, tapi saat terbangun ia sudah mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang kelihatannya familiar. Saat melihat semua benda yang terdapat di sana, Dimas pun menyadari jika ia sudah berada di gubuk tua tempat ia tinggal bersama Asih dulunya.
"Tunggu, ini bukannya gubuk yang aku dan nenek jadikan tempat tinggal. Tapi bagaimana caranya aku bisa sampai berada di sini?" Tanya Dimas heran.
Kemudian Dimas pun memutuskan untuk berkeliling sebentar dan berusaha mencari tahu apakah itu memang gubuk yang ia jadikan tempat tinggal bersama Asih sebelumnya. Dari barang barang bahkan sampai senjatanya, tidak ada yang berubah. Seakan akan itu merupakan tempat yang sama.
Jederr!
"Suara petir?" Tiba tiba cuaca langsung berubah dan membuat suasana di sana semakin aneh.
Bukkk!!
Tiba tiba pintu di sana terbuka keras, diikuti suara petir dan angin yang kencang, membuat Dimas ingat dia ada di mana dan kapan saat itu.
"Ini... aku ingat ini di mana, ini adalah kali pertama aku berada di sini" Ujar Dimas sambil berdiri kaku dengan wajah tidak percaya nya.
To be contiune >>>
__ADS_1