Dunia Lain

Dunia Lain
Sebuah harga - Episode 90


__ADS_3

Tiba lahar di bawah mereka mulai sedikit beriak dan terkadang menyembur ke arah yang tidak pasti. Karena itu, Mino dan Geisha harus sangat memperhatikan arah batu yang mereka kendalikan.


"Apa apaan ini? kenapa Gunung ini bergetar?" Tanya Bagas heran.


"Dia ingin meledakkan Gunung ini" Ujar Siluman Rakun.


Bagas pun hanya bisa tercengang dan tetap fokus untuk mencari pijakan yang sesuai dalam penyerangan nya. Farwani pun langsung di buat pusing karena ia tidak bisa mengetahui di mana letak pasti Andre dan lainnya berada.


"Hei nenek tua aku di sini!" Ujar Siluman Rubah sambil melompat dan melemparkan beberapa bola api.


Farwani pun hanya bisa menghindar satu serangan itu. Tapi dari serangan yang di luncurkan oleh Siluman Rubah tadi, Farwani terlihat agak sedikit lama merespon tapi masih bisa menghindar. Itu artinya cara ini terbukti efektif untuk menyerang Farwani.


"Jadi kalian ingin bermain kotor hah! baik jika itu yang kalian mau!" Farwani pun langsung menyerang secara tidak beraturan dan serangan itu ada yang hampir mengenai mereka semua.


Tapi meski begitu, ada beberapa serangan yang tidak mengenai siapapun. Tapi tetap saja itu sangat berbahaya. Dan terlihat pula hanya pijakan yang di tempati Farwani yang masih bertahan dan tersambung ke bagian paling bawah kawah sehingga tidak jatuh.


"Dia menyerang terlalu ganas, jika seperti ini kita tidak akan bisa mengalahkan nya" Ujar Andre.


Semuanya tampak terpojok, apalagi dengan keadaan Gunung Singawari yang seakan akan ingin meledak, membuat keadaan semakin menegangkan. Akhirnya mereka semua pun memutuskan ke pijakan milik Farwani dan menyerang secara bersamaan agar bisa menyelesaikan itu dengan cepat.


"Kalian ingin menyerang ku di sini? sungguh lucu" Ujar Farwani yang melihat semuanya kecuali Mino dan Geisha berada di pijakan miliknya.


Akhirnya terjadi pertarungan jarak dekat antara Farwani dengan Andre dan kawan kawannya. Karena area berdiri yang kecil, Farwani hanya bisa menunduk dan menangkis serangan dengan tongkat miliknya. Memang Farwani masih bisa memberikan lebih banyak serangan, tapi karena di serang oleh Andre dan kawan kawannya secara terus menerus, Farwani tidak bisa menyerang dengan kekuatan penuhnya.


"Mereka cepat sekali. Jika seperti ini terus, maka aku bisa mati terkena lahar saat gunung ini meletus" Ujar Farwani.


Tiba tiba karena kelelahan, secara tidak sengaja Geisha dan Mino menjatuhkan beberapa batu ke lahar. Karena hal itu, Andre dan lainnya jadi teralihkan selama beberapa saat. Farwani pun mengambil kesempatan dan menyerang sebanyak yang ia bisa.

__ADS_1


"Terima ini!" Ujar Farwani.


Kali ini bukan serangan ledakan atau semacamnya yang Farwani lakukan. Tapi ia membuat suara yang membuat beberapa dari mereka lemas dan afa yang kehilangan kesadaran. Selagi banyak dari mereka yang menutup telinga, Farwani pun langsung menyerang mereka dari jarak dekat dan berencana menceburkan mereka ke dalam lahar. Beruntung Mino dan Geisha dengan segera menyelamatkan mereka yang hampir menyentuh lahar dengan membuat beberapa batu pijakan.


"Jadi tinggal kalian berdua yang bertahan hah, baiklah dengan ini akan ku tuntaskan dendam ku!" Farwani pun langsung menyerang Andre dan Dimas yang masih sedikit lemas.


"Akan sulit menyerangnya jika seperti ini, aku harus menghancurkan tongkat itu" Gumam Andre.


Saat Farwani mengarahkan tongkat nya ke arah Andre, dengan sigap Andre pun langsung menarik tongkat itu. Melihat tongkat miliknya yang di curi, Farwani pun langsung berusaha menyerang Andre.


"Kembalikan!" Ujar Farwani sambil berlari mendekati Andre.


Andre pun langsung melempar tongkat itu masuk ke dalam lahar dan secara ajaib, lahar di sekeliling mereka mulai surut dan kembali ke keadaan normal.


"Andre kamu berhasil" Ujar Geisha senang.


"Matilah kamu! dasar keturunan Asih!!" Farwani pun berlari menuju Andre yang lengah.


"Andre awas!" Ujar Dimas.


Dimas yang melihat Andre yang akan di jadikan target sasaran pun langsung segera berlari juga dan mendorong Andre ke arah yang aman. Tapi harga dari itu adalah Dimas lah yang harus terdorong dan jatuh ke dalam lahar bersama Farwani waktu pun langsung terasa lambat bagi Dimas dan di saat itu pula ia melihat semua yang terjadi dalam hidupnya.


"Semua ini... apakah ini ingatan sebelum kematian? Andre, Ayah, Ibu, Nenek... maaf jika aku tidak bisa bersama kalian lagi. Maaf Andre, aku tidak bisa bersama kamu di moment beharga mu yang selanjutnya. Aku cukup.. puas dengan semua perjalanan ini" Ujar Dimas sambil menutup matanya dan tersenyum.


Andre yang melihat hal itu dengan mata kepalanya pun langsung hanya bisa teduduk dan melihat saja. Tiba tiba, karena pertarungan mereka yang besar itu, kawah gunung pun mulai hancur secara perlahan.


"Andre cepat! kita harus pergi dari sini!" Ujar Siluman Rubah yang sudah sadar kembali.

__ADS_1


Tapi sayangnya, Andre tidak menjawab dan hanya diam tak bergerak. Mata Andre masih di penuhi rasa kaget dan tidak percaya akan kejadian yang menimpanya barusan.


"Tidak.. tidak..! tidak! tidak!! tidak!! ini bukan kenyataan!" Ujar Andre histeris.


Melihat Andre yang tidak menjawab, Siluman Rubah pun langsung berlari dan menarik tangan Andre, tapi sayangnya entah mengapa Andre memberontak dan tidak ingin pergi dari tempat itu.


"Andre!! cepat pergi! tempat ini akan runtuh!!" Ujar Siluman Rubah yang bersusah payah menarik tangan Andre.


"Biarkan, lebih baik aku juga ikut mati! -"


Plakk!...


"Dimas mengorbankan nyawanya untuk mu, dan akan kamu sia siakan pengorbanan itu!?" Ujar Siluman Rubah menyadarkan Andre dari kesedihannya.


Kemudian Siluman Rubah pun dengan segera membawa Andre pergi dari sana. Dan bekas pertarungan mereka pun langsung hancur secara perlahan. Di luar kawah, mereka di sambut oleh semua orang yang sebelumnya di tempat pengungsian dan juga Diana yang sudah di obati.


"Mereka berhasil!" Ujar Bu Sika yang senang semua mantan muridnya selamat dari kejadian itu, tidak semua.


"Di mana Dimas?" Tanya Diana yang menyadari jika Dinas sudah tidak ada.


Andre pun hanya bisa menangis dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Bukan hanya Andre, semuanya juga tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Siluman Rubah yang melihat semua kesedihan itu pun langsung berbisik ke Diana bahwa Dimas sudah pergi meninggalkan mereka.


"Apa?.." Diana pun langsung terdiam sebentar.


"Ada apa? di mana Dimas?" Tanya Bu Sika.


Beberapa saat kemudian, Diana pun langsung berbisik ke Bu Sika mengenai kematian Dinas dan bisikan itu pun diantarkan satu orang ke orang lain sampai semua mengetahui hal tersebut. Suara sorak yang awalnya membuat ramai pun kini lenyap dalam kesunyian duka. Hujan pun mulai turun sekaan akan langit menangis melihat pengorbanan Dimas.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2