
"Tunggu apakah kalian tau nomor ini milik siapa?" Tanya Daihan heran.
"Entah lah, tapi mungkin akan lebih baik jika kita pulang saja" Kemudian karena merasa tidak nyaman, Andre pun langsung mengajak semuanya untuk pulang bersama.
"Iya kurasa itu merupakan ide yang bagus, lagi pula di sini juga sudah mulai berkabut" Jawab Ira.
Saat di tengah jalan Andre dan lainnya tiba tiba terjebak dalam kabut yang sangat tebal, sakin tebalnya Andre dan lainnya tidak bisa melihat apapun.
"Kabut apa ini? tebal sekali, seingatku di sini kabutnya tidak pernah setebal ini" Ujar Diana sambil memperhatikan sekitar nya.
"Entahlah tapi yang penting jangan sampai ada yang terpisah ya"
"Baik, tapi aroma apa ini? aromanya sangat wangi" Ujar Ira.
"Aroma? iya benar, kamu memakai parfum ya Diana?" Tanya Daihan.
"Tidak, parfum ku sudah habis 3 hari lalu. Karena sibuk aku tidak sempat membelinya lagi" Jawab Diana.
"Sudah lupakan, semuanya cepat berpegangan tangan. Ku rasa kabutnya semakin tebal" Ujar Andre.
Tapi sayangnya tidak ada jawaban dari Dimas maupun yang lainnya, Andre pun bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Teman teman? di mana mereka? bukannya mereka ada di sini?" Ujar Andre heran. Dan tanpa ia sadari Andre malah terpisah dengan semuanya.
Tak lama kemudian kabut tersebut telah mulai memudar dan bukan hanya memudar, tapi mulai menghilang. Andre pun sudah mulai bisa melihat dengan jelas.
"Akhirnya kabutnya menghilang juga, ngomong ngomong ini di mana ya?" Tanya Andre heran.
Saat sudah menghilang secara keseluruhan, tiba tiba Andre pun terkejut dan mulai terduduk. Raut wajahnya juga berubah seketika, ia langsung memansang tatapan tidak percaya di matanya, ternyata secara tak di sangka sangka ia malah melihat Gunung Singawari di depannya.
__ADS_1
"Gunung Singawari? bagaimana aku bisa di sini?" Tanya Andre heran.
Saat menoleh ke belakang, ia melihat sebuah menara yang sangatlah tinggi dan di sekitar menara itu banyak rumah yang hancur dan sudah tidak berbentuk. Andre pun langsung menoleh ke belakang dan Gunung Singawari pun mulai hilang, kemudian ia berlari ke salah satu rumah yang menurutnya familiar.
"Ini bukannya rumah kami yang dulu? tunggu apakah ini artinya aku berada di Kota Simangla?" Tanya Andre heran.
"Andre! Andre!!" Tak lama kemudian ia mendengar suara Dimas memanggil namanya. Andre pun dengan segera pergi ke arah sumber suara tersebut.
"Andre!!! cepat keluar!!" Kemudian Ira pun juga ikut memanggil nama Andre.
Dan tiba tiba mata Andre menjadi buram dan mulai tidak fokus, ia malah pun dengan segera menggosok matanya dan secara ajaib ia kebali di tengah jalan dekat halte sebelumnya. Andre pun keheranan melihat keanehan yang ia alami.
"Andre? ternyata kamu di sini? untung kamu tidak hilang" Tiba tiba dari arah belakang muncul Diana yang sedang memegang pundak Andre.
"Halo semuanya! kalian di sini juga?"
Kemudian di saat itu juga muncul Mirai dengan mobil jemputannya dan sedang berjalan menuju arah mereka, Miari terus saja melambaikan tangannya dari jendela mobil. Ketika mobil itu sudah mendekati mereka, mobil itu pun berhenti dan Mirai turun dari mobil tersebut.
"Lho kamu tidak tau? Dimas tadi pukul 9 mengajak ku di sini, katanya dia akan mengajak ku ke sebuah cafe untuk makan kue bersama kalian semua" Ujar Mirai riang.
Karena merasa kasihan dengan Mirai, Andre pun mencoba untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar hak itu Mirai pun langsung patah semangat dan langsung kecewa.
"Jadi itu telepon palsu... padahal aku sudah membayangkan memakan kue yang ada di sana..." Ujar Mirai sambil memasang raut wajah pasrah.
"Ngomong ngomong tangan mu kenapa seperti itu? ada luka cakar yang besar" Ujar Diana sambil menunjuk tangan kiri Miari.
"Ini? sebenarnya tadi saat ingin menuju ke sini aku di cakar kucing peliharaan ku" Jawab Mirai dengan santai.
"Kucing? memangnya kucing jenis apa yang bisa memberikan bekas cakaran sampai sebesar telapak tangan" Ujar Andre.
__ADS_1
"Ehhh hanya kucing biasa kok, ngomong ngomong kalian mau tidak aku antar ke rumah kalian masing masing? mumpung bensin mobil ku masih banyak" Ujar Mirai.
"Sungguh? kami boleh menumpang?" Tanya Diana terheran heran.
"Tentu saja" Jawab Miari.
Kemudian Andre dan Diana pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut, di mobil itu ada seorang pria yang kelihatannya sedang memegang setir mobil. Kemudian Andre dan tidak lainnya pun menjemput Dimas, Daihan dan Ira di halte tempat mereka awalnya berada.
Diana pun langsung meminta supirnya untuk mengantarkan semuanya untuk pulang, satu persatu dari mereka sudah sampai di rumah mereka. Dan akhirnya tersisa hanya Andre dan Dimas saja yang belum sampai di rumah mereka. Di mobil itu Andre dan Dimas sedang mengchat satu sama lain. Alasan mereka melakukan itu karena agat tidak ada yang menguping atau pun ada yang merasa terganggu.
"Kakak, tadi saat berada di kabut itu apakah kamu mencium bau bunga yang harum?" Tanya Andre.
"Bunga? entahlah, tapi mungkin iya"
"Apakah kakak tidak merasa aneh dengan kabut itu? bukannya seharusnya kabuy yang berada di sekitar kota itu tipis? lagi pula di sini suhunya juga tidak terlalu dingin atau pun ada hujan" Ujar Andre.
"Entah lah, tapi nanti kita bahas di rumah saja ya. Di sini kita nikmati dulu perjalanan"
Tak lama setelah chat mereka itu, mereka sudah sampai di rumah mereka di Komplek Perumahan Wasti. Untungnya kedua orang tua mereka belum bangun saat itu, karena takut jika ibunya mengetahui jika ia kekuar dari rumah malam. Andre pun langsung berpamitan dengan Miari dan segera masuk ke dalam rumah.
"Baiklah Mirai, terimakasih atas tumpangan nya. Maaf ya merepotkan" Ujar Andre sambil membungkuk kan badannya.
"Tidak masalah, lagi pula aku kan juga tinggal di dekat sini" Jawab Mulai.
Kemudian Andre pun segera membuka pintu dan membereskan sepatu miliknya dan Dimas. Sementata itu Dimas pun membereskan beberapa kekacauan yang ada di kamar mereka saat orang misterius itu masuk ke kamar.
Saat ia sudah berada di tempat tidur, Andre sama sekali tidak bisa melupakan kejadian yang ia alami di dekat Halte tersebut, meski itu hanya kelihatan seperti halusinasi saja. Karena hal itu Andre pun tidak bisa tidur, Andre seketika menjadi iri dengan Dimas yang sudah tertidur lelap.
"Argghhh!! kenapa aku tidak bisa tidur? tapi apakah kejadian yang ada Kota Simangla itu merupakan suatu pertanda? semoga keadaan di sana baik baik saja" Ujar Andre dalam hatinya. Setelah mencoba banyak metode tidur yang ia ketahui, akhirnya Andre sudah bisa tidur dan mulai bersiap menghadapi hari esok.
__ADS_1
To be contiune >>>