Dunia Lain

Dunia Lain
Menuju tambang tua - Episode 78


__ADS_3

"Tidak bisa... inikah akhirnya?... di bunuh oleh kedua anak yang bahkan lebih lemah dari pada ku?..." Ujar Siluman Angin Gunung yang sudah melihat maut di depannya.


Sringg!!!!


Dalam sekejap tubuh Siluman Angin Gunung langsung terbelah menjadi bagian yang kecil kecil dan karena ia sudah kewalahan karena terlalu banyak menggunakan energi, kekuatan regenerasi nya sudah tidak bisa menyembuhkan luka sebanyak itu lagi dan pada akhirnya nasib Siluman Angin Gunung sudah berakhir.


Kini ia sudah di selimuti asap hitam yang lama kelamaan menghilang beserta dirinya. Akhirnya mereka bisa menghembus nafas lega karena kini Siluman Angin Gunung sudah tidak ada lagi. Dan sama seperti yang mereka harapkan, setelah kumpulan asap itu menghilang. Tongkat milik Siluman Angin Gunung pun sudah berhasil mereka dapatkan.


Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama, karena setelah mereka mengambil tongkat itu, muncul suara seseorang seseorang yang mereka kenal. Yaitu Siluman Laba laba.


"Wah... kalian cukup hebat karena bisa mengalahkan Siluman Angin Gunung, baiklah. Pergilah ke tambang tua, di sana kalian akan bisa menemukan Makhluk Gunung Singawari dan beberapa warga kota yang di tahan. Dan ingat jangan sampai kalian membuat keributan..." Kemudian Siluman Laba laba pun langsung segera pergi.


"Jangan membuat keributan? apa maksudnya?" Tanya Andre heran.


"Sudah lupakan saja, akan lebih baik jika kita sendiri yang pergi. Jika semua Arwah Hutan bersama kita maka tidak ada yang bisa menjaga desa" Ujar Bagas.


"Nyuuu~~~" Tiba tiba ada satu Arwah Hutan yang menarik celana mikik Bagas karena ia tidak ingin di tinggal.


"Kamu bilang ke teman teman mu ya... kami akan baik baik saja kok" Jawab Bagas sambil menggendong Arwah Hutan tersebut.


Setelah Bagas mengatakan itu, Arwah Hutan itu pun langsung pergi diikuti oleh Arwah Hutan lainnya. Kemudian mereka semua pun langsung segera menuju ke arah tambang tua yang tidak jauh dari tempat itu. Sama seperti saat mereka pertama kali di sana, jalan menuju tambang tua di penuhi oleh jaring laba laba milik Siluman Laba laba dan jalan di sana juga cukup sempit.


"Kenapa di sini ada begitu banyak jaring?" Tanya Daihan heran.


"Entahlah, tapi bukankah akan lebih mudah jika kita berjalan normal saja?" Tanya Ira yang selalu kesusahan dalam berjalan di tengah jaring yang banyak san membuat jalan cukup sempit.

__ADS_1


"Kalian semua harus berhati hati, jika kalian sekali terkena jaring ini. Maka kaliam tidak akan bisa keluar, jaring ini sangat lengket jadi cukup berbahaya" Ujar Siluman Rakun.


"Apakah jaring jaring ini tidak bisa di potong saja?" Tanya Diana.


"Tidak bisa senjata yang menyentuh nya akan menempel di sana juga, satu satunya cara hanya membakar nya. Tapi itu akan memakan waktu lama karena ini jaring khusus yang di buat Siluman Laba Laba untuk melindungi Area Tambang" Jawab Siluman Rakun.


"Arrghhh..." Tiba tiba mereka mendengar suara raungan pelan dari arah yang cukup dekat dengan mereka, tapi ada di mana?


"Shttt... kalian diam dulu" Ujar Andre berbisik.


Kemudian mereka pun segera menghentikan perjalanan mereka dan saat mereka perhatikan lebih jelas, mereka melihat sebuah sosok yang pernah mereka lihat lagi. Tapi anehnya tampa kepala dan terdapat banyak jaring laba laba yang menempel padanya.


"Makhluk apa itu? kenapa tidak ada kepala" Ujar Ira ketakutan.


"Tunggu... sepertinya aku pernah melihatnya..." Saat Andre melihat lebih dekat, betapa terkejutnya Andre ternyata itu adalah wujud Siluman Laba Laba setelah di kendalikan oleh Farwani.


"Sepertinya dia masih terpikat pada suara, mungkin itu alasan Siluman Laba Laba meminta kita untuk tetap diam" Ujar Dimas.


"Baiklah, lebih baik kita terus jalan saja. Tapi kalian semua harus menjaga suara jangan berisik" Ujar Siluman Rakun.


Akhirnya mereka pun berjalan secara perlahan dan hati hati agar tidak ada yang membuat suara. Tapi kelihatannya itu akan menjadi hal yang susah dan cukup mustahil karena jalan di sana cukup berdaun dan mereka juga harus cepat sebelum gerhana Bulan terjadi.


Di saat itu pula Dimas merasa aneh, karena tujuan mereka kali ini cukup sama seperti saat mereka pertama kali datang. Yaitu mengalahkan Farwani sebelum gerhana terjadi, dia pun akhirnya bertanya tanya pada dirinya. Apakah semua ini akan berakhir sama?


Tapi karena Dimas terlalu memikirkan hal itu, ia secara tidak sadar menginjak sebuah ranting yang membuat suara yang bisa mereka dengar dan sama seperti tebakan kita. Makhluk itu pun langsung berlari menuju arah Dimas dengan sangat cepat tanpa mempedulikan tubuhnya yang terkena banyak jaring.

__ADS_1


"Semuanya cepat lari!" Ujar Siluman Rakun.


Mereka pun langsung segera mengikuti arahan Siluman Rakun dan segera lari. Memang itu akan cukup sulit, apalagi jika mereka harus menghindari setiap jaring yang ada. Apalagi jalan menuju pintu masuk tambang masih sangat jauh.


"Ira apakah kamu bisa menyemburkan air kepadanya? mungkin itu bisa memperlambatnya" Ujar Keiya.


"Tidak bisa! jika kita memberikan air padanya, itu pasti akan terkena jaring yang ada. Dan jika jaring jaring ini terkena air, maka mereka akan melepaskan lapisan perekat dan membuat kita tidak bisa kemana mana lagi" Ujar Siluman Rakun sebelum Ira membasahi banyak jaring.


"Apakah tidak ada cara lain lari dari makhluk ini?" Tanya Diana.


Kemudian Bagas pun ingat pada sesuatu yang mungkin bisa membantu mereka untuk bebas dari makhluk tersebut, kemudian ia pun meminta Andre dan Dimas untuk menantunya.


"Andre! Dimas! apakah kalian bisa melesat cepat seperti tadi?" Tanya Bagas.


"B-bisa, tapi jika kamu ingin agar kami lari. Akan percuma saja, kalian akan tertinggal" Jawab Dimas.


"Bukan itu yang ingin aku maksud, Ira dan Diana kalian cepat berpegangan pada Dimas. Sinta dan Daihan berpegangan pada Andre dan sisanya cepat berpegangan pada ku" Bagas pun semakin panik saat menyadari bahwa makhluk tersebut tepat ada di belakang mereka.


Setelah mereka semua berpegangan, Bagas pun segera melesat cepat bersama Kriya dan Siluman Rakun dan meninggalkan mereka semua sendirian. Melihat Bagas yang melesat bersama Keiya dan Siluman Rakun, Dimas dan Andre pun paham dan segera mengikuti cara tersebut. Saat mereka sudah bisa melihat tambang tua, mereka menyadari bahwa pintu tambang itu di tutup oleh sebuah batu besar yang sangat keras.


"Bagaimana ini?! kita akan menabrak!" Ujar Sinta panik.


Ggggrrrrrrrtttttt!!!


"Kalian semua cepat masuk!"

__ADS_1


Tiba tiba batu di pintu mulai bergerak sendiri dan ada 2 orang yang berada di depan pintu masuk, salah satu diantara nya berteriak meminta mereka masuk.


To be contiune >>>


__ADS_2