Dunia Lain

Dunia Lain
Kabar duka - Episode 91 (The End)


__ADS_3

Tanpa basa basi lagi, mereka pun langsung kembali pulang dengan menggunakan Bus yang mereka tinggalkan. Di dalam bus ada Mirai, Siluman Pohon, Penunggu Sungai dan teman Andre di kota Simangla beserta Raihan, Diana dan Ira. Andre berencana memberitahu semuanya ke Asih dan kedua orangtua nya yang sedang di rumah bibinya Andre. Tapi ia takut mengatakan hal itu.


"Bagaimana aku memberitahu ini ke mereka?" Tanya Andre gugup.


"Katakan saja, Asih pasti tau semua kejadian ini" Ujar Siluman Rubah.


"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi selama sungai mengering. Tapi aku terkejut dengan kepergian Dimas" Ujar Penunggu Sungai.


"Dia sejak awal memang tidak membantu" Ujar Daihan dalam hatinya.


Triiiingggg!!!! Triiiingggg!!!


Tiba tiba telepon rumah pun langsung berbunyi dan membuat Andre semakin ragu untuk memberitahu ke orang tua nya.


"Mereka menelepon?" Tanya Andre dengan rasa takut sekaligus ragu.


"Sudahlah, jawab saja. Jika kamu tidak ingin, biar kami saja" Ujar Adith.


"Emmm.. tidak perlu biar aku saja" Jawab Andre.


"Halo ibu.." Jawab Andre di telepon.


"Halo nak, kami akan pulang lebih cepat. Bibi mu sedang tidak ada di rumah, jadi kami akan pulang bersama nenek mu" Ujar Ibu Andre.


"Mmm.. baiklah..." Jawab Andre.


Sementara itu di luar telepon, terlihat wajah Ibu Andre yang mengeluarkan air mata. Tapi dengan banyak usaha, ia tidak ingin sampai ketahuan menangis.


"S-siapa yang mengangkat teleponnya? " Tanya Ayah Andre.


"A-andre yang mengangkat telepon nya" Jawab Ibu Andre berbisik.


"Itu artinya... coba kamu tanyakan dulu" Ujar seorang perempuan di sana.


"B-baik kak" Jawab Ibu Andre.


"Nak, di mana Dimas? ibu ingin berbicara dengannya" Ujat Ibu Andre di telepon.


"Ka-kak s-sudah..." Andre pun tak sanggup mengatakan hal itu dan langsung menutup teleponnya.


Ibu Andre pun langsung terkejut ketika anaknya menutup telepon secara tiba tiba. Selagi Ibu Andre terus menelepon, Andre malah terduduk takut karena tidak berani mengatakan tentang kematian Dimas.

__ADS_1


"Bagaimana aku memberitahu ibu, jika kakak sudah tidak ada" Ujar Andre sambil sedikit berlinang air mata.


"Tidak apa biar aku saja" Ujar Adith.


Triiiingg!!! tiittt...


Adith pun langsung menjawab telepon itu dan memberanikan dirinya untuk memberitahu yang sebenarnya dan juga menceritakan kejadian yang mereka alami.


"Baiklah... terima kasih.." Jawab Ibu Andre menutup teleponnya.


"Jadi bagaimana?" Tanya Ayah Andre.


"..."


Ibu Andre pun langsung lemas dan terjatuh. Beruntung Ayah Andre bisa menangkapnya, Ibu Andre pun langsung kembali menangis keras saat itu.


"Ku rasa Dimas merupakan sebuah harga untuk ketenangan generasi keluarga kita, tapi ini terlalu mahal. Sangat mahal" Ujar Asih kesal ketika mendengar salah satu cucunya sudah tidak ada.


"Dimas!!..." Ibu Andre pun langsung meneriaki nama anaknya.


Kembali ke tempat Andre berada, suasana terlihat sepi dan tidak ada yang bersuara. Keheningan itu pun langsung menghilang ketika seseorang menelepon mereka lagi.


"Tunggu biar ku jawab" Ujar Adith kembali.


"Halo... iya.. baiklah"


"Andre ini untuk mu" Ujar Adith memberikan telepon.


"Iya.. halo" Andre pun langsung menerima panggilan itu.


"Andre, kamu jangan tutup teleponnya dulu. Ibu tau kakak mu sudah tiada, tapi kamu jangan sedih. Ibu dan Ayah masih di sini bersama mu, saat kamu lahir... kamu awalnya menangis. Tapi setelah kakak mu datang, kamu langsung tertawa dan tersenyum. Kamu mengawali kehidupan mu dengan senyuman itu dan di akhir pun hari kamu akhiri dengan senyuman, jadi jangan menangis lagi... karena Dimas sudah berusaha menjaga senyuman kita semua. Sekarang giliran kita untuk tidak menangis akan kepergian nya, melainkan menyambut kepergian nya dengan senyuman"


Ibu Andre pun langsung mengatakan beberapa kata di telepon dan setelah itu pembicaraan itu pun berakhir seketika. Setelah mendengar semua itu, Andre mulai terasa lega dan tidak bersedih lagi. Tapi setelah telepon di tutup, ada yang menelepon lagi.


Triiingg....


"Kenapa hari ini bayak telepon yang masuk?" Tanya Andre heran.


"Halo.." Ujar Andre menjawab telepon itu.


"Halo Andre" Ternyata yang menelepon adalah Bu Sika.

__ADS_1


"I-iya bu, ada apa?" Tanya Andre.


"Ke kota Simangla sekarang, bawa orang tua mu dab lainnya" Ujar Bu Sika sebelum menutup teleponnya.


Andre pun langsung menelepon kedua orangtua nya kembali dan segera ke kota Simagla bersama para Siluman di sana. Dan ternyata Dimas di temukan terbaring sambil tersenyum di rumah lama mereka. Tapi sayangnya... nasib tidak bisa di ubah, Dimas tetap mati dan setelah itu langsung di makamkan di Kota Simangla. Tapi kali ini Andre dan keluarga nya beserta yang datang tersenyum di pemakaman itu, seakan akan itu adalah hari biasa. Tapi meski begitu, ternyata kepergian Dimas membawa begitu banyak dampak pada Andre.


Beberapa bulan setelah itu terjadi, Andre lebih menjadi tidak ingin membahas tentang kakaknya itu. Dan jika ada yang membahas itu, Andre akan langsung mengeluarkan ait mata. Itu pun terjadi selama bertahun tahun dan setelah lulus, Andre bisa kembali mendapatkan senyumnya dan bisa bahagia kembali. Meski tanpa Dimas.


Beberapa tahun kemudian......


"Jadi bagaimana? apakah cerita ayah mu menarik?" Tanya seseorang di samping kursi pengemudi di sebuah mobil.


"Yang benar saja, tidak mungkin semua itu nyata" Jawab seorang anak perempuan di mobil itu.


"Maiya kamu jangan seperti itu ke ayah" Jawab salah satu laki laki di mobil itu.


"Maiya, Fanar. Sudah jangan bertengkar" Ujar seorang nenek nenek di mobil itu.


"Iya nenek..." Jawab kedua anak laki laki dan perempuan itu kompak.


"Sudahlah ibu, tidak mungkin mereka percaya cerita itu" Ujar seseorang yang mengemudi.


"Ishh kamu jangan terlalu memanjakan mereka Andre, nanti mereka malah makin nakal lho" Ujar nenek itu kembali.


"Iya tuh Andre, kamu jangan memanjakan mereka" Ujar perempuan di samping kursi pengemudi.


"Iya Sinta, kamu bawel banget deh"


"Nanti kamu tidur di luar ya" Ujar perempuan di samping kursi pengemudi kembali.


"I-iya maaf" Ujar laki laki yang mengemudi itu.


"Nahh ini dia Gunung Singawari, ayo turun kita ambil beberapa foto" Ujar perempuan di samping kursi pengemudi.


Mereka pun langsung turun dari mobil dan mengambil begitu banyak foto di Gunung Singawari. Dan kali ini tentunya tidak ada kejadian aneh lagi. Tapi yang tidak mereka sadari adalah saat mereka berfoto, Andre melihat bukan hanya mereka yang ada di sana tapi penghuni lain Gunung Singawari juga ikut berfoto di sana.


"Ayo ayah cepat! di sana ada pohon yang indah" Ujar anak laki laki bernama Fanar itu.


"Iya iya ayah datang" Ujar Andre tersenyum melihat foto itu.


The end~~~

__ADS_1


__ADS_2