Dunia Lain

Dunia Lain
Last battle with the red girl (Bagian 1) - Episode 85


__ADS_3

"Diana awas!" Ujar Andre mendorong Diana.


Meski harus mendorong Diana, Andre tetap bisa menghindar. Tapi karena panik, Andre tidak memperhatikan arah ia mendorong Diana dan membuat Diana terdorong ke tengah kawah atau tempat altar di mana Farwani menancapkan tongkat nya.


"Nenek itu menganggu saja, siapa nenek itu sebenarnya? dan apa hubungannya dengan semua ini?" Tanya Diana heran.


Saat Diana berbalik, ia melihat beberapa gambar dan juga ada banyak huruf dan kata yang memiliki bentuk yang Diana tidak pahami sama sekali. Tapi ia seperti mengingat semua huruf itu lupa apa artinya.


"Tunggu, huruf huruf ini... aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana?" Tanya Diana keheranan.


"Diana!" Tiba tiba rasa penasaran Diana langsung hilang ketika Daihan memanggil namanya.


"Cepat bantu kami melawan ini!" Ujar Daihan sambil terus berusaha memotong lidah Sangkarawang yang sangat lincah.


Diana pun langsung membantu Daihan dan Ira. Memang dalam jumlah mereka lah yang paling unggul, tapi jika masalah kekuatan kita sudah tentu tau siapa yang paling unggul.


"Kali ini apa rencana mu hah!?" Tanya Dimas yang sedang terus menerus memberikan serangan.


"Memangnya apa lagi? tentu saja aku akan membalaskan perbuatan Asih yang sudah mengucilkan ku di sini. Tapi bukan hanya itu, ada satu hal lagi..." Ujar Farwani sambil terus menghindari semua serangan itu.


Tiba tiba petir langsung menyambar di sekitar mereka. Dan salah satu diantaranya menyambar mengenai altar tempat tongkat milik Farwani di letakkan. Seketika angin langsung juga ikut semakin kencang dan sampai sampai hampir membuat Ira tertiup.


"Ahhh!!"


"Ira! hati hati!" Ujar Daihan memegang tangan Ira yang hampir tertiup angin.


Langit pun langsung gelap total dan bulan juga sudah di tutupi oleh bayangan bumi. Kini Farwani sudah mendapatkan begitu banyak kekuatan. Tapi kekurangan dari ini semua adalah selama puncak gerhana berlangsung, ia tidak boleh menggunakan semua kekuatan yang ada. Tapi setelah puncak dari gerhana, kekuatan nya hampir mendekati tanpa batas. Sehingga di saat itulah waktu terbaik bagi nya untuk melakukan rencananya.


"Gawat, ternyata ini sudah puncak gerhana. Artinya kita hanya memiliki waktu 18 menit sebelum puncak gerhana berakhir" Ujar Siluman Rakun.

__ADS_1


Kini pertarungan nya semakin sulit. Di tambah angin yang kencang, mereka kini harus berhati hati jika ingin menyerang dengan menggunakan senjata jarak jauh. Beberapa kali jarum milik Keiya tertiup dan hampir mengenai temannya yang lain. Karena hal itu, beberapa dari mereka tidak bisa bertarung.


"Masih belum menyerah?..." Tanya Farwani sambil berdiri di sebuah di depan mereka semua dan membelakangi altar tersebut.


Wajah farwani saat itu sudah kelihatan sudah percaya jika tidak akan ada yang bisa mengalahkan nya kali ini. Tapi sepertinya bukan itulah yang akan terjadi, di saat yang sama juga, Mino datang bersama semua makhluk Gunung Singawari yang sudah di kurung sebelumnya.


"Mino?" Andre pun langsung di kejutkan olej kedatangan Mino yang membawa banyak bantuan.


"Semuanya cepat serang!" Ujar Mino sambil turun dan mengganggu Farwani dalam menghindari banyak serangan dengan menggerakkan batu batu di sekitar.


Pertarungan pun mulai sengit dan ramai. Tapi Farwani tidak kehabisan akal. Farwani pun langsung memerintahkan Sangkarawang untuk memunculkan semua hantu pocong yang di milikinya untuk mengimbangi pertarungan.


"Tak akan ku biarkan kamu melukai mereka semua!" Ujar Andre yang langsung melesat dan mengincar Sangkarawang.


Kini pertarungan antara Andre dan Sangkarawang pun terjadi. Memang sebelumnya Andre sekarat karena bertarung dengan Sangkarawang, tapi kini Andre sudah cukup gesit dan lincah sehingga bisa menghindar dari semua serangan milik Sangkarawang. Tapi meski memiliki kelincahan yang bagus, itu tidak cukup karena jika ingin mudah melawan Sangkarawang, harus menggunakan senjata jarak jauh.


"Jika aku menghindar terus, maka akan susah untuk ku mengalahkan nya. Tapi jika aku menyerangnya, maka akan ada kemungkinan aku tertusuk lagi seperti dulu" Ujar Andre dalam hatinya.


Tiba tiba dalam sekejap mata, tanpa Andre sadari kini rahan milik Sangkarawang sudah terpotong dan jatuh begitu saja.


"Jika kamu ingin menyakitinya, kamu harus melawan kami bertiga dulu!" Ujar Diana melindungi Andre.


Tapi yang telah memotong tahan Sangkarawang bukanlah Diana, tapi Daihan. Dengan memanfaatkan angin, Sinta bisa memberikan Daihan sedikit dorongan agar Diahan bisa memotong rahan Sangkarawang dengan mudah.


Setelah Daihan memotong rahannya, kini Sangkarawang sudah akan memunculkan kartu as miliknya. Sangkarawang pun langsung memunculkan sabit miliknya dan langsung berniat untuk membunuh mereka bertiga. Tapi tiba tiba serangan itu di tangkis oleh orang yang juga menggunakan sabit sebagai senjatanya.


"Apakah aku melewatkan sesuatu?" Tanya orang tersebut.


"Adith!? tapi bagaimana bisa?" Tanya Andre teheran heran.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, kaki ku sudah sembuh" Ujar Adith.


"Tapi bagaimana dengan Penunggu Sungai? siapa yang akan menjaga nya dan warga lain?" Tanya Andre.


"Tenang mereka akan aman, tapi sekarang kita harus mengalahkan nenek tua ini dulu" Ujar Adith menatap Farwani yang masih terus menghindari banyak seranggan.


Kemudian pertarungan dengan Sangkarawang pun kembali berlanjut, tapi sama seperti Siluman Angin Gunung, Sangkarawang tidak bisa di bunuh. Sehingga mereka harus mencari cara lain membunuhnya.


"Sial, dia tidak bisa di bunuh" Ujar Andre kesal.


"Bagaimana jika kita bakar saja?" Tanya Ira.


"Jangan..." Jawab Andre pelan.


"Kenapa? bukankah kita berhasil saat melawan Siluman Angin itu?" Tanya Ira heran.


"Itu saat kita berada di tempat terbuka dan tidak banyak orang... apakah kamu tidak memperhatikan jika kita melakukan itu, maka akan ada banyak orang yang terkena api itu. Apalagi karena regenerasi, tubuh Sangkarawang bisa menjadi bahan bakar abadi yang bagus. Akan ada bayak orang yang terluka atau bahkan mati terbakar" Jawab Andre.


"Tapi kita harus bagaimana sekarang? jika kita diam, maka akan sangat berbahaya nanti" Ujar Ira kembali.


"Kurasa Andre ada benarnya. Jika kita hanya mementingkan mengalahkan pocong ini, maka percuma saja jika banyak yang mati atau terbunuh gara gara rencana kita semua" Ujar Diana.


"Lebih baik kita mencari rencana yang aman saja" Jawab Andre.


Sementara mereka sedang berbicara sejenak, Sangkarawang yang terus di serbu oleh Siluman lain pun langsung menyadari jika Andre dan lainnya sedang lengah. Dan tiba tiba tanpa mereka sadari, Sangkarawang sudah langsung mengarahkan sabitnya ke mereka berdua. Tapi untungnya, Bagas melihat hal itu dan langsung memotong tangan Sangkarawang.


"Apakah kalian tidak bisa berhenti berbicara? fokuslah untuk kali ini saja, kita bukan sedang melawan musuh yang enteng" Ujar Bagas.


"Semua pasti akan lebih mudah jika aku tidak menghilangkan barang itu" Ujar Ira.

__ADS_1


"Barang?" Tanya Bagas keheranan.


To be contiune >>>


__ADS_2