Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Bertemu Nenek


__ADS_3

Aruna menatap nanar layar ponsel Kayla yang terus berdering apalagi mengingat Orang yang menelfon mengingatkannya pada masa lalu saat ia mengangumi seorang pria dingin yang tak tersentuh.Tak ada seorang gadis pun yang mampu menaklukkan pesona seorang Devan Wijaya pria yang begitu dingin dan datar.Banyak para gadis berlomba mencari perhatiannya termasuk Aruna sendiri namun usaha mereka semua sia sia belaka.Berbagai cara Aruna tempuh demi bisa mendekati dan memiliki Devan termasuk meminta sang Papa dulunya yang notabenenya adalah sahabat bisnis Papa Devan untuk menjodohkan mereka namun ditolak oleh Devan sendiri karena dirinya sudah memiliki kekasih.


Aruna benar benar patah hati saat itu dan berusaha melupakan Devan walau bagaimanapun ia melupakannya namun Devan tetap memiliki tempat dihati Aruna.Sehingga puncaknya ia berniat menjebak Devan agar mau menikahinya dengan mencampur minuman Devan dengan obat perangsang.Namun niatnya gagal total saat kelakuannya diketahui oleh sahabat Devan yang membuat Devan murka dan membencinya.


Aruna tersentak kaget dari lamunannya saat Kayla menepuk pelan bahunya.Aruna menatap Kayla yang sedang tersenyum lebar padanya."Ada hubungan apa Kayla dengan Devan?,tidak mungkin seorang Devan menghubungi seorang gadis kalau dia tidak ada apa apanya dengan gadis itu",batin Aruna menatap Kayla penuh selidik.


"Run...kamu ada apa kok melamun?",tanya Kayla mengusap pelan bahu Aruna.


Aruna gelagapan saat Kayla mengusap bahunya dia menatap ponsel Kayla yang ada dalam genggaman Kayla."Apakah Kayla sudah selesai menelfon dengan Devan?",monolog Aruna.


"Run...?kamu baik baik aja kan?",tanya Kayla lagi dengan wajah yang tampak khawatir.


Aruna tersenyum kaku dan mengangguk kecil."Aku baik baik aja...kok?",jawab Aruna gelagapan.


"Kamu yakin?",tanya Kayla lagi.


"Hmmm iya...",jawab Aruna dengan senyum yang dipaksakan.


Kayla mengedikkan kedua bahunya ia merasa Aruna tampak menyembunyikan sesuatu darinya.Mungkin saja Aruna ada masalah yang tak bisa ia katakan padanya.Apalagi setiap orang mempunyai privasi sendiri.Meski mereka sahabatan dan mereka sudah lama tidak saling kontak bisa jadi Aruna belum mau terbuka kembali seperti dulu.


"Oh ya Run kamu tinggal dimana sekarang?",Kayla merasa sudah melupakan pertanyaan itu dari tadi.


"Hmmm itu... ak-aku rencananya mau cari kontrakan dekat sini aja La",Aruna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mencoba untuk tidak grogi.Entah kenapa dia merasa Kayla mengkhianatinya dan sangat kecewa saat ini.


"Gimana kalau kamu tinggal di rumah aku aja",ungkap Kayla antusias.


"Maaf La aku sudah banyak merepotkan kamu sudah diterima kerja disini saja aku udah senang",tolak Aruna.


"Yah...baiklah kalau kamu maunya kayak gitu,tapi kalau ada apa apa jangan sungkan ya kita kan sahabat",ujar Kayla dengan sedikit kecewa.Namun ia tak mau memaksa Aruna mungkin nantinya sahabatnya itu tidak nyaman dengan rumahnya yang kecil berbeda dengan rumah milik Aruna yang mewah.


"Hmmm...",jawab Aruna mengangguk pelan.


"Ya sudah kalau gitu aku tinggal sebentar ya aku mau ngukur pelanggan dulu",ujar Kayla dan berlalu meninggalkan Aruna yang masih terlihat agak berbeda dari pertemuan mereka tadi menurut Kayla.


Aruna menatap punggung Kayla yang mulai menjauh dengan perasaan yang berkecamuk.Entah mengapa ia merasa tidak semangat lagi untuk bekerja ditempat Kayla.Ada sesuatu yang membuat hatinya begitu terluka saat melihat panggilan telfon dari ponsel Kayla tadi padahal ia dan Devan tak memiliki hubungan apapun.

__ADS_1


Aruna melangkah keluar dari ruko milik Kayla setelah meninggalkan pesan pada Fani kalau ia pamit untuk mencari kontrakan dan tentu saja itu alibinya saja.Ia ingin sudah memiliki hunian yang memang tak jauh dari ruko milik Kayla.Kayla menghela nafas panjang menatap ruko milik Kayla dengan perasaan campur aduk.Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan untuk apa Devan menghubungi Kayla.Kalau untuk kerja sama itu tidak mungkin karena perusahaan Devan tidak menggeluti dalam bidang Fashion setau Aruna.


Aruna melangkah meninggalkan ruko tempat Kayla menuju huniannya dengan langkah gontai bersamaan dengan datangnya mobil Bugatti dengan plat nomor K 41 LA.Aruna mengerutkan keningnya saat melihat plat nomor mobil itu."Apakah Kayla sudah sesukses ini yang mampu membeli mobil mewah ini?",batin Aruna yang masih menatap mobil itu dengan seksama.


Tampak seorang pria tampandan berpakaian rapi yang begitu Aruna kenali keluar dari mobil itu dan melangkah masuk kedalam ruko dengan membawa sebuket bunga dan dengan senyuman merekah di bibirnya.Senyuman yang tak pernah Aruna lihat semenjak ia mengagumi pria itu.Ia benar benar penasaran ada hubungan apa mereka sebenarnya.Aruna kembali melangkah masuk untuk memastikan kecurigaannya tapi ia menghentikan langkahnya saat teringat kata kata Devan dulu yang tidak mau melihat wajahnya lagi dihadapan Devan.Aruna memutuskan meninggalkan tempat itu dengan wajah yang memelas.Ia belum siap dengan kemarahan Devan saat bertemu dengannya.Biarlah nanti ia pikirkan bagaimana cara ia mendekati pria itu kembali.


***


Seorang pria tampan tampak duduk dengan wajah datar di ruangan yang bercat putih gading menunggu sang pujaan hati yang masih sibuk dengan pekerjaannya.Demi sang kekasih ia rela menunggu walau itu berbeda dengan kebiasaannya yang tak mau menunggu walau satu detik pun.Namun demi gadis yang ia cintai ia rela menunggu walau berjam jam pun.


Tak lama seorang gadis tampak memasuki ruangannya dan disambut senyuman lebar oleh sang kekasih.Pria itu langsung berdiri dari duduknya dan memberikan sebuket mawar merah pada sang pujaan hati dan diterima dengan senang hati oleh sang gadis.


"Maaf ya Mas sudah lama menunggu",ujar Kayla saat menerima sebuket bunga dari Devan.


"Apapun untukmu",jawab Devan dengan senyuman merekah yang berhasil membuat sang kekasih merona.


Kayla menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah seperti kepiting rebus dan memegangg dada sebelah kirinya menahan debaran di dadanya yang berdetak keras.


"Kenapa, hum?berdebar ya?",goda Devan yang sukses membuat jantung Kayla serasa mau melompat dari tempatnya.


"Kamu kalau merona begini makin cantik, Key",bisik Devan tepat ditelinga Kayla membuat siempumya makin salah tingkah dan itu sangat menggemaskan menurut Devan.


"M-mas kamu pandai benget ya menggombal",Ucap Kayla tersipu malu.


"Siapa yang menggombal sayang...?,aku serius",Devan menatap gadis itu dengan tatapan yang serius dan tidak berbohong sama sekali karena Kayla memang sangat cantik menurutnya.


"Udah ah...mau jalan sekarang?",tanya Kayla yang berusaha menetralisir detak jantungnya.


"Baiklah...tapi apakah pekerjaanmu sudah selesai,kalau belum aku akan menunggu",ucap Devan yang masih menatap gadis tanpa puas sedikitpun.Baginya Kayla sangat cantik,bukan hanya wajahnya tapi inner beauty nya yang membuat kecantikan Kayla makin terpancar.


"Sudah selesai kok Mas,nanti akan dilanjutkan oleh Fani",jawab Kayla yang juga menatap Devan dengan senyuman manisnya dan sukses membuat Devan berdebar dan terpesona dengan lesung pipinya itu.


"Hufff...",Devan menghela nafas panjang guna menahan debaran didadanya dan membalas senyuman Kayla.


"Kamu kenapa Mas?",tanya Kayla sedikit khawatir.

__ADS_1


"Gak... tapi senyuman kamu membuat jantungku berdebar keras",ujar Devan jujur dan mengedipkan sebelah matanya pada Kayla.


"Mas...kamu tu ya...",Kayla mencubit kecil perut Devan.


"Auh...",ringis Devan yang mengadu kesakitan dan tentunya bukan sakit loh ya.


"Sakit ya Mas?maaf ya",ucap Kayla memasang wajah khawatir.


"Kamu tu ya belum resmi jadi Nyonya Wijaya udah berani kdrt ",ujar Devan mengacak rambut Kayla dengan sayang.


Kayla tersenyum lebar mendengar ucapan Devan yang menyebutnya Nyonya Wijaya.Entah kenapa hatinya menghangat mendengar ucapan itu meski entah kapan dia akan jadi Nyonya Wijaya.


***


Mobil mewah milik Devan memasuki halaman rumah utama miliknya.Hari ini ia akan memperkenalkan Kayla sebagai gadisnya.Walau ini terbilang cepat itu karena desakan Nenek yang tahu kalau cucu laki lakinya sudah memiliki kekasih akibat keceplosan mulut ember milik Lyra.Lyra tak sengaja mengatakan kalau Kakaknya sedang kasmaran dan mau tak mau ia harus mengakuinya pada Nenek.Awalnya Devan ragu takut Kayla menolak dan tentunya Kayla menolak karena ia belum siap bertemu keluarga Devan tapi karena Devan yang meyakinkan kalau semua akan baik baik saja membuat Kayla mengangguk setuju.Dan disinilah mereka sekarang duduk dihadapan Nenek Devan yang menatapnya dengan senyuman lebar.Jangan ditanya bagaimana saat ini jantung Kayla serasa mau melompat takut calon mertuanya akan menolaknya dan mengusir serta menghina seperti sinetron yang sering ia tonton.


"Dev...kau tak mau mangenalkan gadismu pada Nenek?",tanya Nenek pada Devan yang sedang menatap gadisnya penuh cinta.


"Oh..maaf Nek,kenalin ini Kayla kekasihku",ujar Devan dengan hati bangga menyebut Kayla kekasihnya.


"Saya Kayla ,Nek",Kayla menyalami dan mencium punggung tangan Nenek saat Nenek menatapnya.


"Gadis yang cantik,pantasan cucuku tak mau dijodohkan",cibir Nenek kepada Devan.


"Tentu Nek...cucumu ini memiliki selera yang cukup tinggi untuk seorang pendamping",jawab Devan dengan bangga yang secara tidak langsung Kayla bukan sembarang gadis yang akan jadi pendampingnya.


"Nenek percaya padamu,terima kasihnya Kayla sudah mau menerima cucuku yang dingin dan datar ini",ucap Nenek pada Kayla seraya mengelus punggung tangan Kayla lembut.


"Iya Nek",jawab Kayla tersenyum tipis.Anggapannya tentang keluarga Devan yang akan menolaknya sudah terkikis habis.Ternyata keluarga Devan mau menerimanya bahkan Nenek tak bertanya tentang dari mana asal usul serta pekerjaan.


"Kapan kalian menikah?",tanya Nenek.


Glek


Kayla menelan ludah kasar saat mendengar pertanyaan dari Nenek.Ia menatap Devan yang sama juga kagetnya dengan dirinya.Devan sebenarnya Nenek pasti akan menanyakan hal ini pada Kayla.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2