Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Pertengkaran


__ADS_3

"Mas...ayo bangun!,kamu udah janji sama aku mau ke pantai Sanur buat liat sunrise",rengek Kayla menggoyang tubuh Devan yang masih pulas tertidur akibat aktifitas olahraga malam mereka.


"Hm...kamu sudah bangun sayang",ujar Devan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Udah dari tadi Mas...lihat sekarang udah jam berapa?",tunjuk Kayla pada jam beker yang terletak diatas nakas.


Devan melirik sekilas jam beker yang ditunjuk Kayla yang masih diangka 5:00 WITA yang berarti dia masih punya waktu untuk bersiap siap sebelum berangkat.


"Ayo Mas!",rengek Kayla lagi dengan bibir yang sudah mengerucut kedepan.


Devan terkekeh geli melihat tingkah laku istri kesayangannya yang sangat menggemaskan menurutnya."Iya sayang...Mas mandi dulu ya,tapi ingat semuanya gak gratis loh sayang",ucap Devan menggoda sang istri yang sudah terlihat kesal padanya.


"Dasar mesum...",cebik Kayla memalingkan mukanya kearah lain.


Cup


"Tapi kamu suka kan?",goda Devan mencium pipi sang istri gemas.


"Mas....",teriak Kayla karena tiba tiba saja Devan mencium pipinya.Sedangkan tersangka sudah kabur masuk ke kamar mandi.


"Gak usah mandi Mas...kan tadi malam udah mandi sebelum tidur cuci muka dan gosok gigi aja terus wudu'?",teriak Kayla didepan kamar mandi.


"Iya sayang...",balas Devan yang baru saja mau menggosok gigi.


Kayla merapikan tempat tidur mereka meski ada pelayan yang akan membersihkan kamar mereka tapi Kayla memang tidak ingin jika ada orang lain masuk kamar mereka.


Devan sengaja membawa Kayla berbulan madu ke Bali sesuai dengan keinginan Kayla sendri padahal dia sudah merencanakan bulan madu ke Paris.Tapi apalah daya sang istri lebih memilih negeri sendiri dari pada negeri orang lain.Karena menurut Kayla mending perkaya negara kita dari pada negara orang lain karena negara kita jauh lebih indah dari pada negara lain jika kita mau mengekplor lebih baik lagi.Dan disini lah mereka disalah satu villa keluarga Devan.


Kerena Devan tidak memiliki bisnis Villa melainkan beberapa hotel yang tersebar dibeberapa tempat di Bali.


Sebenarnya Devan sudah menyiapkan sebuah kamar presidensuit di salah satu hotelnya yang menghadap langsung ke pantai namun Tante Devan memberikan tiket hannymoon di Villa nya yang langsung disambut hangat oleh sang istri.


Kayla sedang duduk-duduk di gazebo kamarnya yang langsung menghadap ke samudra Hindia.Meski masih sedikit gelap tapi samar samar air laut sudah kelihatan.Dia begitu bersyukur atas nikmat yang sudah Tuhan berikan untuknya.Seorang suami yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus dan juga dikelilingi oleh orang orang yang juga menyayanginya.


Kayla tersentak saat sebuah tangan memeluknya hangat dari belakang dan melabuhkan kecupan singkat di pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Sedang apa,hum?",bisik Devan lembut ditelinganya memberikan sensasi geli untuknya.


"Kamu sudah selesai sholatnya Mas",tanya Kayla membalikkan badannya menghadap sang suami.


"Sudah baru saja...kenapa tidak membangunkan Mas buat sholat jamaah sama kamu",Devan mengusap surai sang istri penuh cinta.


"Udah aku bangunin tapi kamunya gak mau bangun Mas",jawab Kayla tersenyum tipis.


"Mau berangkat sekarang?",tanya Devan yang sudah rapi dengan celana pendek dan baju kaos yang di lapisi baju pantai.


"Yuk...",Kayla menarik tangan Devan keluar dari Villa gadis yang memakai gaun selutut bermotif bunga itu terlihat sangat bahagia.Mereka segera memasuki mobil menuju pantai Sanur yang tak jauh dari Villa mereka.


Sepanjang perjalanan senyuman tak luntur dari bibir mungil Kayla dan itu tak luput dari tatapan Devan.Dia berjanji akan selalu membahagiakan sang istri dia tidak akan membiarkan ada tangisan yang tercipta dalam rumah tangganya kelak kecuali tangisan kebahagiaan.


Sementara dilain tempat sang adik Lyra rumahtangganya tengah diguncang prahara.Sedangkan pernikahan mereka masih terhitung bulan hanya selisih tiga bulan dengan pernikahan Devan.


Pagi ini Lyra sudah tampak rapi sejenak ia melupakan sakit hatinya.Benar apa yang diucapkan Nenek biarkan suaminya berkata jujur atau malah menyembunyikan kebenarannya.Semalam mereka memang tidur terpisah.Lyraasih belum mau bertemu dengan Benny.Mengenai suaminya Lyra tak mau ambil pusing mungkin dia tidur di apartemennya atau menemui ibu dari anaknya itu Mengingat hal itu membuat dada Lyra terasa sesak.


"Pagi Nek...Kak",sapa Lyra yang mendudukan diri di meja makan.Nenek dan Kakaknya Erik sudah lebih dahulu tiba di meja makan.Tak terlihat batang hidung suaminya disana mungkin saja sudah malu karena rahasianya sudah terbongkar.


"Sudah sedikit baik Nek",jawab Lyra tersenyum tipis.Dia sedikit canggung untuk menatap Erik sejak ia tau kalau Kakaknya itu menaruh perasaan padanya.


"Sudah jangan pikirkan dulu lebih baik kamu sarapan dulu",Nenek memberikan piring berisi sandwich kepada Lyra yang tadi sudah dibuatkan oleh Erik.Karena Erik tau kalau Lyra sedang ada masalah dia tidak akan mau makan berat.


"Makasih Nek",ucap Lyra.


"Makasih pada Kakakmu karena dia yang membuatkan khusus untukmu",jawab Nenek menatap Erik yang tersenyum simpul.


Lyra tampak tersenyum canggung lidahnya kelu untuk mengucapkan kalimat singkat itu.


"Makan saja Ra... mengenai apa yang kamu dengar kemarin jangan dipikirkan itu sudah berlalu",ujar Erik menatap Lyra.


"Iya Kak...",jawab Lyra dan langsung menyuap potongannya sandwich ke mulutnya.Lyra tertegun rasa sandwich ini masih sama dengan sandwich buatan Erik dulu dulunya.Kalau dulu dia akan merengek tips pagi dibuatkan sandwich Erik meski Devan sampai memarahinya karena terlalu manja pada Erik.Tapi kini ia merasa ada pembatas diantara mereka.Apalagi statusnya sekarang sudah menjadi seorang istri.


Setelah sarapan Erik menghampiri Lyra yang duduk melamun di dekat kolam renang.

__ADS_1


"Ra... sebaiknya kamu bicarakan semua ini baik baik dengan Benny sebelum Kak Devan pulang.Kakak takutnya akan ada masalah yang lebih besar lagi kalau sampai Kakak kamu tau masalah kalian.Kamu sendiri tahu kan bagiamana Kak Devan kalau orang yang disayanginya dilukai?",ujar Erik memberi nasehat pada Lyra.


"Ya Kak...aku mau melihat dengan mata kepalaku sendiri Kak tentang bukti itu",jawab Lyra menatap gamang kearah kolam renang.


Tak mudah baginya mendapati kenyataan ini disaat dia begitu bahagia dengan pernikahannya.Laki laki yang berusaha ia cintai saat pertama Benny mengungkapkan perasaannya di kampus saat itu.Meski saat itu iya belum mempunyai perasaan pada Benny tapi melihat kesungguhan membuat Lyra luluh walau saat itu hatinya sudah terpaut pada seseorang yang ia yakini hanya menganggapnya adik.


"Jangan lama lama Ra! seminggu lagi Kakakmu pulang jangan sampai dia ikut campur dalam rumah tangganmu dan Kakak saat ini cuma memberimu solusi bukan mencampuri", Erik menatap Lyra penuh luka gadis yang ia cintai dan ia pikir akan bahagia dengan pernikahannya malah harus terluka oleh suaminya sendiri.


"Iya Kak...",jawab Lyra bersamaan itu Benny tampak menghampiri Lyra dengan tatapan tajam kearah Erik.


Erik yang menyadari kehadiran Benny memilih pergi meninggalkan pasangan pengantin baru yang rumahtangganya diujung tanduk itu.


"Jadi begini kalau saat suami tidak dirumah kamu berduan dengan orang lain",berang Benny menatap Lyra tajam.


"Apa maksudmu Mas? Kak Erik itu Kakakku Mas...apa salah dia menasehatiku?",tanya Lyra dengan mata berkaca-kaca.


"Nasehat atau mengahasutmu untuk bercerai denganku agar dia bisa segera menikahimu?",teriak Benny dengan nada tinggi karena emosi mulai menguasainya.


"Picik sekali pikiran kamu Mas...Kenapa kamu membawa Kak Erik dalam masalah kita.Oh...aku lupa masalah kamu lebih tepatnya Mas...kalau kamu jujur dari awal semua tidak akan begini", maki Lyra penuh emosi.Hilang sudah hormatnya pada Benny sebagai seorang suami.


"Sudah berapa kali aku bilang Ra...anak itu bukan anak aku",sangkal Benny yang masih menutupi dari Lyra dai tidak tau akibat dari perbuatannya ini tidak hanya melukai Lyra tapi juga menghancurkan persahabatannya dengan Devan.


"Yakin kamu Mas? jangan sampai kebohongan kamu jadi bumerang buat kamu",ujar Lyra dengan tatapan intimidasi.


"Iya sayang...kamu harusnya percaya Mas sebagai sungai kamu dari pada kelurga kamu",bujuk Benny yang mulai melunak.


"Baiklah...kalau kamu bilang begitu percaya",ujar Lyra tiba tiba membuat senyuman terulas dari bibir Benny.


"Jadi..kamu percaya sama Mas?",tanya Benny mengenggam tangan Lyra dan memeluk istri yang sangat ia cintai itu sedangkan Lyra tersenyum penuh misteri.


Nenek yang mendengar pertengkaran mereka hanya tersenyum tipis.


"Semoga kamu bisa membuktikannya Lyra",batin Nenek lalu menelfon bodyguard kepercayaannya untuk melindungi Lyra saat berada diluar rumah nanti.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2