
Erik memijit pangkal hidungnya karena pusing entah kenapa dia tiba tiba saja membentak Lyra hal yang tak pernah ia lakukan pada Lyra dari dulu.Semarah marah nya dia pasti dia bisa menahannya.
"Hufff...kenapa bisa bisanya gue Ngebentak dia sih",umpat Erik pada dirinya sendiri.
Erik meletakkan laptopnya dan berdiri lalu mengejar gadis manjanya itu.Dia tau dimana keberadaan gadis itu kalau lagi merajuk.Kemana lagi kalau bukan dapur mencari cemilan itulah kebiasaan Lyra dari dulu dia akan meluapkan emosinya pada makanan.Meski begitu Lyra tidak pernah gemuk meski suka mengemil.
Setibanya di dapur benar saja gadis itu sedang menekan cemilan dengan air mata masih saja mengalir.Erik menghapus pelan air mata diwajahnya sang adik kesayangannya.
"Jangan nangis lagi!.Kakak minta maaf ya",bujuk Erik mengusap pelan rambut lurus Lyra.
"Kakak jahat...kenapa sih kok tiba tiba ngebentak aku",rajuk Lyra mengerutkan bibirnya kedepan.
"Kakak lagi pusing karena pekerjaan Kakak lagi banyak Ra",jawab Erik tak sepenuhnya berbohong.
"Kamu kenapa tiba tiba ke kamar Kakak,kamu tau kan suami kamu itu cemburuan sama Kakak",ujar Erik mendudukkan diri disamping sang adik.
"Aku kangen aja sama Kakak...aku ngerasa Kakak ngehindarin aku semenjak aku jadian sama Mas Benny",ujar Lyra mengingat ngingat sejak awal dia jadian dengan Benny Erik langsung menjauhinya bahkan pindah kuliah ke Kalimantan dan bekerja disana hingga tak pulang pulang dan sekarang ia baru pulang itu karena diancam oleh Devan.
"Kakak gak menghindari kamu Ra,cuma Kakak hanya menghargai suami kamu Ra nanti dia cemburu sama Kakak",ujar Erik lembut agar Lyra tidak menangis lagi.
"Kak Erik tu kan Kakak aku sama kayak Kak Devan",ujar Lyra.
"Kakak sama Kamu Devan beda Ra,Kak Devan itu Kakak kandung kamu sementara Kakak hanya Kakak angkat kamu yang tak punya hubungan darah sama kamu",jawab Erik.
"Tapi...
"Ra...hargai perasaan suami kamu jangan sampai kalian bertengkar hanya karena kita dekat...biarlah kita kayak gini Ra dan itu lebih baik",ujar Erik memberi pengertian pada adik kesayangannya.
"Kak tidak bisakah kita dekat seperti dulu,kamu selalu perhatian sama aku, melindungi aku,aku rindu Kak dengan itu semua,rindu dimanja sama kamu Kak",batin Lyra menatap punggung sang Kakak yang sudah menghilang dari pintu dapur.
Sementara itu Benny yang melihat interaksi Lyra dan Erik menahan gejolak api cemburunya.Dia tau Lyra mencintainya tapi saat Lyra menatap punggung Erik tadi ada rasa yang tak pernah Benny lihat untuknya.
"Kenapa Lo kembali lagi brengsek",umpat Benny memukul samsak tinju dihadapannya.Benny lebih memilih menyalurkan emosinya kepada samsak tinju dari pada ia bertengkar dengan sang istri.
Sedangkan Lyra berlari keruang kerja Kakaknya dan memeluk sebuah bingkai foto dimana ada dirinya serta Devan dan Erik.
Lyra sebenarnya rindu masa masa ia dahulu dengan Erik yang begitu memanjakannya serta melindunginya jika ada pria yang usil mengganggunya.Entah kenapa kepulangan Erik membuatnya selalu ingin didekat pria tampan itu tapi dia harus menghargai suaminya benar kata Erik mereka tak punya hubungan darah dan itu bisa membuat sang suami cemburu.
__ADS_1
"Kenapa kamu sekarang menjadi dingin dan datar padaku Kak",lirih Kayla mengusap gambar Erik yang merangkul bahunya.
"Bahkan senyum ini tak pernah aku lihat semenjak kau memutuskan pindah ke Kalimantan",lirihnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa Lyra sadari ia tertidur dengan posisi memeluk foto yang ada dirinya dan kedua kakaknya.
Sementara itu Benny mencari cari keberadaan sang istri di seluruh penjuru rumah bahkan Nenek pun ikut membantu mencari keberadaan Lyra.
Benny tiba tiba teringat sesuatu kalau Erik lah orang terakhir bersama Lyra.Dia mulai mencurigai Kakak ipar angkatnya itu.
Tok tok tok
"Rik... keluar Lo dimana Lo sembunyikan istri gue",teriak Benny yang terus mengedor pintu kamar Erik.
"Rik...keluar jangan jadi pengecut Lo",teriaknya lagi kini menendang nendang pintu kamar Erik.
Bersamaan dengan itu Erik baru saja kembali dari luar setelah bertemu dengan salah satu kliennya yang ada di kota ini.
"Ngapain Lo...mau merusak pintu kamar gue?",tanya Erik datar dari arah belakang Benny.
"Ck...apa gak salah Lo nanyain istri Lo ke gue?bukannya Lo suaminya kenapa harus nanya ke gue?",ejek Erik datar tanpa rasa takut.
"Brengsek Lo...",ujar Benny melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Gue Lo bilang brengsek...bukannya elo ya?",ujar Erik dengan senyum mengejek.
"Apa maksud Lo ha",berang Benny yang tak terima ia dikatakan brengsek.
"Apa kabar dengan anak Lo dengan perempuan itu",bisik Erik yang membuat Benny menegang seketika.Wajahnya yang tadinya dipenuhi emosi tiba tiba berubah pucat pasi.
"Andai Devan tau Lo udah bohongin adiknya gue gak yakin Lo masih dia anggap sahabat",bisik Erik dan berlalu pergi meninggalkan Benny yang masih terdiam kaku.
Nenek yang melihat perseteruan keduanya mengernyitkan dahinya melihat Benny yang tiba tiba pucat pasi saat Erik membisikan sesuatu padanya.
"Mencurigakan...apa yang Erik ketahui tentang Benny sehingga emosinya tiba tiba saja hilang saat Erik membisikan sesuatu padanya",monolog Nenek menatap intens sang cucu menantu dari jauh.
"Aku punya ide",ujar Nenek menjentikkan jarinya lalu mengeluarkan ponselnya dan menghungi seseorang lewat pesan singkat.
__ADS_1
***
Setelah dua jam Lyra tidak ditemukan Benny memutuskan untuk pergi keluar menemui seseorang yang ia rindukan.Entahlah sampai kapan rahasia ini ia simpan apalagi wanita itu terus mendesaknya untuk dinikahi.
Mobil yang dikendarai Benny berhenti disebuah rumah mewah yang berbeda kota dengannya tinggal.Benny segera memarkirkan mobilnya dan turun dengan menenteng paper bag dan sebuah boneka beruang.
"Daddy..." teriak seorang anak kecil berusia 4 tahun lalu berlari menghampiri anak itu dan langsung menggendongnya.
"Hai... princessnya Daddy apa kabar,hum?",tanya Benny mencium pipi tembam anak kecil itu bertubi-tubi.
"Vanya sehat kok Daddy...kenapa Daddy jarang menjenguk Anya dan Mommy disini?",tanya Vanya polos.
"Daddy sibuk sayang...cari uang buat Vanya",ujar Benny menurunkan putrinya itu saat sudah didalam rumah.
Tiba tiba datang seorang wanita dengan tampilan menor dan anggun menyapa Benny dengan senyuman manisnya.
"Hai...Mas gimana kabarnya?aku dengar kalian sudah menikah?",gumam wanita itu pelan agar putrinya tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
"Tentu...aku mencintainya",jawab Benny datar.
Wanita itu mengeraskan rahangnya mendengar jawaban Benny.Lalu ia menghampiri putrinya dan membisikkan sesuatu hingga putrinya itu pergi ke kamarnya setelah berpamitan dengan Daddy-nya.Setelah putrinya menghilang dari balik pintu wanita itu menatap tajam Benny.
"Mas...sampai kapan hubungan kita seperti ini?kamu gak kasihan sama Vanya Mas yang tiap hari nanyain kamu terus?",cecar wanita itu pada Benny.
"Stop...Velly hubungan antara kita itu dulu murni kesalahan kita,dan aku akan bertanggung jawab pada Vanya tapi dengan tidak menikahimu berapa kali aku mengatakannya padamu,ha?",ujar Benny menaikkan nada suaranya.
"Kamu brengsek Mas",teriak Velly terisak.
"Ya aku brengsek dan kamu tau itu",jawab Benny yang di penuhi emosi.Entah kenapa seharian ini ia begitu emosi.
Benny pergi meninggalkan rumah itu dengan. emosi yang menguasai hatinya.Dia sangat mencintai Lyra tapi dia juga menyayangi putri kecilnya yang manis itu.Sampai kapan ia menyembunyikan rahasia besar ini pada keluarga Wijaya.Dia takut Lyra membencinya dan meninggalkannya.Apalagi Erik mengetahui rahasianya dan itu sangat berbahaya baginya.Kalau sampai Devan tau rahasianya dia yakin Devan pasti akan membunuhnya.Membayangkan itu saja sudah membuat Benny bergidik ngeri.
"Awas kau wanita sialan...aku akan melakukan apapun untuk memilki Benny seutuhnya", geram Velly tersenyum licik.
Dia menelfon seseorang untuk melancarkan aksinya lalu tersenyum licik.
...****************...
__ADS_1