
Kayla menatap nanar layar ponselnya saat melihat panggian masuk dari Devan.Layar ponselnya terus berkedip menandakan panggilan masuk,namun ia gugup untuk menjawab panggilan dari Devan.
Drt drt drt
Devan is calling...
Kayla menghembuskan nafas pesan mengatur nafasnya yang memburu karena keterkejutannya saat Devan menelfon ya bersamaan dengan ia memikirkan Devan.
Kayla mendial tombol hijau,
["Hallo...",sapa Kayla dengan pelan]
["...."]
["Ini mau mempayet baju"],jawab Kayla berbohong dengan wajah bersemu merah.
["..."]
["Iya...Mas Devan juga ya"],jawab Kayla dengan detak jantung yang makin bertalu talu.
["..."]
["Iya sama sama...bye Mas De-Van]",jawab Kayla terbata dengan tangannya memegang dada sebelah kirinya menahan debaran didadanya.
Tut Tut Tut...
Kayla seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.Perhatian kecil dari Devan dalam dua hari ini mengusik hatinya.Apakah benar ia telah jatuh cinta seperti yang dikatakan Fani?",Kayla menggeleng cepat dengan pikirannya yang sudah kemana mana.
"Mana mungkin dia menyukaiku gadis sepertiku bukanlah tipenya",monolog Kayla berusaha menyadarkan dirinya dari harapan yang mungkin akan membuatnya terluka.
Sementara di sebuah perkantoran seorang pria tengah duduk dikursi kebesarannya dengan senyum evilnya.Hatinya betul betul senang hari ini bisa mendengar suara merdu dari yang pujaan hati.
"Woy...senyum senyum sendiri Lo,ada apa gerangan sampai sahabat sekaligus calon kakak ipar gue tiba tiba bisa senyum",ejek Benny yang tak lain sahabat dekat Devan dan tak lama lagi akan menjadi adik iparnya.
"Apaan sih Lo...kalau masuk ketuk pintu dulu", jawab ketus Devan merubah raut wajahnya kembali datar.
"Peraturan macam apa itu?sejak kapan gue masuk ke ruangan Lo pakai ketuk pintu?",ujar Benny dengan mengerutkan keningnya dan duduk dihadapan Devan.
"Mulai sekarang dan seterusnya",jawab Devan kesal.
"Hahaha...Lo kenapa sih?",goda Benny dengan menggerakkan kedua alisnya keatas.
"Gak kenapa napa",jawab Devan cuek.
"Lo pikir gue gak perhatiin sikap Lo akhir akhir ini yang menurut gue aneh tau gak.Sejak kapan Lo rutin mengunjungi Toko Textile milik Lo biasanya juga Vino yang ke sini memberikan laporannnya",ujar Benny
"Apa gue salah mengunjungi Toko gue?",jawab Devan menatap tajam kearah Benny.
"Salah Devan... salah banget malah setau gue Lo gak tertarik dengan bisnis peninggalan nyokap Lo itu dan sekarang tiba tiba Lo mengunjungi malah hampir setiap hari",ujar Benny panjang lebar.
"Gue tiba tiba berubah pikiran untuk mengembangkan bisnis peninggalan Nyokap gue pengen cari suasana baru",jawab Devan beralibi.
"Hmmm...Lo udah menemukanya?",tebak Benny dengan wajah datarnya.
"Maksud Lo",jawab Devan.
__ADS_1
"Ck...gadis impian Lo,siapa lagi",jawab Benny berdecak kesal karena Devan menjawab berbelit-belit.
"Hufff..",Devan menghela nafas panjang dan menggangguk pelan.
"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Lo tiap hari datang ke Toko Textile milik Lo itu?",tebak Benny dan diangguki Devan.
"Iya...dia ternyata langganan tetap di Toko gue dia punya usaha tempat jahit",jawab Devan menerawang membayangkan wajah cantik gadisnya dan tersenyum tipis.
"Apakah dia semakin cantik?",goda Benny.
Pletak
Devan melempari Benny dengan pulpen yang ada ditangannya.Pulpen itu tepat mengenai muka Benny dan membuat si empunya mengerucutkan kesal.
"Apaan si Lo Dev main lempar aja?kalau kadar kegantengan gue berkurang gimana?adik Lo bisa ninggalin gue ini",umpat Benny dengan kesal.
"Bagus malahan lagian apa sih yang buat adik gue bucin sama Lo?",ujar Devan tak kalah kesalnya.
"Karena ketampanan gue...apa lagi menurut Lo?",jawab Benny jumawa.
"Cih...gantengan juga gue dari pada Lo",decih Devan.
Perdebatan dua sahabat yang sebentar lagi akan menjadi ipar itu sangat alot memperebutkan siapa yang paling tampan.Andai ada Fero diantara mereka sudah pasti dia yang akan memisahkan perdebatan mereka.Ya Fero salah satu sahabat Devan yang saat ini berada di Singapura untuk melakukan perjalanan bisnis.
"Kakak....Mas Benny...",teriak Lyra yang baru saja datang melihat perdebatan diantara kedua pria yang ia sayangi.
Devan dan Benny langsung diam dan menoleh kearah Lyra yang sudah berkacak pinggang dan nafas memburu.
"Kalian ini sudah kayak anak kecil aja gak ada yang mau mengalah",bentak Lyra dengan bersidekap di dada.
"Sayang...kami bukan berdebat hanya sedang bercanda saja,iya kan Dev?",ujar Benny menenangkan Lyra yang sudah emosi.
"Kayak Lo gak bucin aja Dev",sindir Benny mencibir kearah Devan.
"Maksudnya?",tanya Lyra memicingkan matanya menatap Devan.
"Apaan sih...calon Lo ini ngawur kalau ngomong",elak Devan berdecak kesal karena Benny membuat Lyra curiga akan rahasianya.
"Kak...Lo gak lagi bohong sama gue kan?",tanya Lyra menatap tajam kearah Devan.
"Gak...",jawab Devan ketus dan datar.
Kalian berdua sama saja sama sama dingin dan datar dan satu lagi...arogan",ucap Lyra menekan kata arogan dan menunjuk kedua sahabat yang memilki sifat hampir sama itu.
Devan hanya mengedikkan bahunya seolah olah ia cuek dan tak peduli dengan ucapan adiknya itu.Karena memang itu karakternya dari kecil dingin dan tak tersentuh.
"Tapi aku sekarang udah gak lagi sayang",ucap Benny mengedipkan sebelah matanya kepada Lyra.
"Kalau mau bucin jangan diruang gue...keluar sana!",usir Devan ketus karena jengah dengan kebutuhan kedua pasangan itu.
"Eh...tunggu dulu gue kesini mau ngasih berkas ini sama Lo buat Lo tanda tangani",ujar Benny memberikan map yang dari ia pegang dan berlalu pergi dari ruangan Devan merangkul pinggang Lyra.
"Dasar bucin",umpat Devan dan membubuhkan tanda tangannya di berkas yang Benny berikan.
***
__ADS_1
Kayla meregangkan otot tubuhnya setelah seharian menyelesaikan gaun yang akan dipakai oleh Lyra.Kayla sengaja ia sendiri yang mengerjakannya karena gaun ini bukanlah gaun sembarangan karena rancangan dari orang yang ia segani.
Kayla menatap puas jahitannya walau pengerjaannya baru lima puluh persen.Kayla akan meminta Lyra untuk feeting dulu sebelum gaun itu disempurnakan jahitannya.
Kayla akan meminta asisten untuk menghubungi Lyra sekarang juga berhubung Kayla masih memiliki waktu senggang sebelum pulang.
"Fani...minta tolong hubungi pelanggan atas nama Lyra untuk feeting beberapa jam laginya!",ujar Kayla saat melewati Fani yang sedang melakukan pengarahan kepada karyawan baru bagaimana cara menjahit agar terlihat rapi dan bagus sehingga baju yang dijahit tidak kalah dengan jahitan butik.
"Siap...Key",jawab Fani mengangkat jempolnya disertai tersenyum lebar dan ia langsung menghubungi Lyra.
Kayla berjalan menuju ruangannya meninggalkan Fani yang sedang menelfon Lyra, ia melakukan pengecekan daftar pelanggan yang akan mengambil baju dalam Minggu ini.
Ternyata pelanggannya makin hari makin bertambah membuatnya begitu bersemangat karena impiannya satu persatu mulai tercapai.Tinggal nanti ia kan melanjutkan pendidikannya untuk mendesain baju.Sebenarnya Kayla mempunyai bakat mendesain hanya saja ia belum memberanikan diri untuk melakukanya.
Kayla mempunyai sebuah desain gaun yang begitu cantik,gaun impiannya nanti bila ia akan menikah.
Kayla mengeluarkan rancangan desainnya dari sebuah laci.Rancangan gaun yang indah dan elegan.
"Kapan ia akan menjahit gaun ini?sedangkan untuk menikah Kayla belum memiliki seorang kekasih untuk dijadikan suami",pikir Kayla membayangkan gaun indah ini akan terbalut indah pada tubuhnya.Kayla tersenyum dan menggeleng cepat saat pikirannya sudah bercabang kemana mana.
"Key...Mbak Lyra sudah datang",Ucap Fani memberitahukan kedatangan Lyra.
Kayla tersentak dari lamunannya dan mengangguk kecil kearah Fani.Ia bangkit dari kursi kebesarannya dan segera menemui Lyra yang sudah menunggunya.
"Selamat sore Mbak Lyra",sapa Kayla ramah menjabat tangan Lyra hangat.
" Selamat sore juga Mbak Kayla",jawab Lyra tersenyum ramah.
"Maaf mengganggu waktu sorenya",ujar Kayla menatap segan pada pria yang menggegam erat tangan Lyra.
"Gak apa-apa kok Mbak kebetulan tadi aku lagi diluar sama Mas Benny.Oh...ya Mbak kenalin ini Mas Benny calon suami aku",ucap Lyra melirik kearah Benny.
Kayla menggangguk dan tersenyum kecil pada Benny karena pria itu hanya tersenyum kaku dan datar tanpa mau berjabat tangan dengan Kayla.
Kayla mengajak Lyra ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang baru saja selesai Kayla jahit beberapa jam yang lalu.
Saat Lyra keluar dari ruang ganti Kayla benar benar takjub dengan hasil jahitannya yang pas ditubuh cantik Lyra.Apalagi kulit Lyra yang putih bersih begitu menyatu dengan gaun berwarna putih gading itu.
"Mbak ini udah pas dan bagus sekali,ia kan Mas?",tanya Lyra pada Benny yang duduk di sofa di dalam yang tersedia ruang feeting.Lyra memutar tubuhnya dihadapan Benny.
Benny mengangguk menandakan ia setuju.Ya menurut Benny Lyra sangat cantik dengan gaun itu walau belum finishing.
"Kalau begitu gaunnya kita finishing dan dipayet ya",ujar Kayla tersenyum lebar.
"Hmmm...",jawab Lyra dengan anggukan kecil dan tersenyum lebar.Impiannya memakai gaun pengantin ini akan segara terwujud.Menikah dengan laki laki yang ia cintai.Laki laki yang dari dulu diam diam ia kagumi akhirnya cinta yang ia pendam bersambut karena Benny diam diam juga menyukai Lyra.
"Mbak Lyra-
"Panggil Lyra aja Mbak,umurku masih 23 tahun kebetulan cepat nikah aja",potong Lyra yang risih dipanggil Mbak.Bukan dia takut kelihatan tua tapi dia lebih suka dipanggil dengan nama saja agar mudah akrab.
"I-iya Lyra",jawab Kayla terbata.
Drt drt drt
Devan is calling...
__ADS_1
Ponsel Kayla yang terletak didekat Lyra berdering.Lyra sekilas melihat nama yang tertera dilayar ponsel Kayla.
"Devan?",gumam Lyra,jangan jangan...