Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Devan murka


__ADS_3

Matahari sudah pulang ke peraduannya menyisakan sedikit cahaya kemerahan di langit.Sepasang insan masih asyik dalam dunia mimpi mereka karena kelelahan dengan aktivitas menguras peluh dan keringat.


Kayla mengerjab pelan menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya.Saat bola matanya terbuka sempurna Kayla disambut dengan pemandangan indah.Wajah tampan sang suami yang tertidur pulas tanpa memiliki beban sedikitpun.


"Sudah puas memandangi wajah tampan suamimu ini,hum?",tanya Devan yang masih memejamkan matanya.


"Kamu udah bangun Mas",jawab Kayla gugup karena malu kepergok memandangi wajah sang suami.


"Dari pas kamu menggeliat Mas udah ikut bangun sayang",ucap Devan menatap sang istri penuh cinta.


Kayla yang merona menyembunyikan wajahnya didada bidang Devan.Aksinya membuat Devan terkekeh geli melihat tingkah gemas sang isteri.


"Mandi yuk... sebentar lagi magrib!",ajak Devan melerai pelukan sang istri.


"Kamu duluan aja Mas aku belum pakai baju",jawab Kayla mengeratkan selimut dibagian dadanya.


"Bereng aja yuk sayang nanti waktu magrib keburu habis",ucap Devan yang bertelanjang dada dan memakai celana boxernya.


"Gak...nanti gak cuma mandi aja kamu pasti mau-


"Mau apa,ayo?",goda Devan memotong ucapan sang istri


"Mas...aaakkkk",teriak Kayla saat tubuhnya diangkat oleh Devan ala bridal style membuat Devan tertawa lepas.


Mereka sore itu mandi bersama tanpa melakukan hal lainnya karena waktu sholat magrib hampir masuk.Mereka walaupun bukan muslim yang taat tapi mereka masih berusaha untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu.


Sementara itu Fani saat ini tengah disibukkan dengan salah satu pelanggannya yang meminta revisi baju pengantin mereka.Fani tampak sedikit pusing karena harus membuka kembali payetan yang sudah terpasang.


"Andai ada Kayla pasti aku gak akan sepusing ini",keluh Fani memijit pangkal hidungnya.


"Apa aku telfon Kayla aja ya...minta besok dia datang buat bantu revisi ini gaun",pikir Fani menimbang keputusannya untuk menghubungi Kayla.


"Kenapa girls sepertinya kamu kelihatan pusing",ucap Fero yang tiba tiba datang menghampiri Fani di ruangannya.


Semenjak Fero mengantarkan Fani pulang dari rumah sakit mereka mulai dekat satu sama lain meski Fani masih menjaga jarak Karena dia tipe perempuan tak mudah jatuh cinta.Tapi setelah jatuh cinta dia akan memberikan sepenuh hatinya untuk orang yang ia cintai.


"Huh...kamu ini mengagetkanku saja...kenapa tidak ketuk pintu dulu sih?",kesal Fani karena akhir akhir ini Fero makin seenaknya saja jika datang ke toko.


"Apa aku membuatmu terkejut?",tanya Fero yang langsung duduk di hadapan Fani.


"Menurutmu...?",ketus Fani yang fokus membuka payetan gaun pengantin yang sebenarnya sudah sangat indah tapi entah kenapa pelanggan tetap ngotot buat revisi beberapa payetan yang ada dibagian dada dan leher itu.


"Kamu galak sekali girls", kekeh Fero menghilangkan kedua tangannya didada.

__ADS_1


"Kalau kau datang untuk mengangguku bekerja sebaiknya kamu pulang! pekerjaanku sangat banyak"ketus Fani.


"Sepertinya kau butuh tambahan karyawan Fan",ucap Fero.


"Toko kami ini kecil dan pendapatan pun belum mampu untuk menggaji karyawan lagi",ujar Fani.


"Bagaimana kalau aku menginvestasikan sebagian uangku kesini untuk membuat toko kalian ini lebih maju kebetulan salah satu usaha ku juga bergerak di bidang Fashion.Kalian bisa bekerja sama juga dengan adikku yang kebetulan juga seorang desainer",ucap Fero.


"Benarkah?",jawab Fani dengan mata berbinar.


"Iya...tentu kapan aku bisa bertemu dengan Nyonya Wijaya itu untuk membicarakan kerja sama ini?",ucap Fero menatap gadis didepannya yang tersenyum lebar.


"Akan segera aku hubungi karena dia akan jarang kesini karena suaminya itu melarangnya untuk bekerja tapi mungkin besok dia akan kesini karena katanya suaminya besok juga mulai bekerja",jawab Fani.


"Dasar bucin tuh anak..", umpat Fero mengutuk Devan yang menurutnya terlalu bucin pada sang istri.


"Yah... namanya juga pengantin baru karena mereka juga sedang gencarnya untuk segera mendapatkan momongan jadi Pak Devan melarang sang istri bekerja takutnya kelelahan", ucap Fani menjelaskan kenapa sahabatnya itu belum masuk bekerja.


"Oh...",jawab Fero ber oh ria mendengar ucapan Fani.


"Apakah kamu tidak bekerja Mas?aku perhatikan kamu selalu saja tiap hari mampir kesini di jam yang sama",tanya Fani yang baru saja selesai membuka payetan dan menyimpan kembali memakaikan kepatung manekin agar gaun itu tidak rusak karena ia berencana menyelesaikannya besok saja karena ia yakin pria di hadapannya ini akan memaksa untuk pulang.


"Aku adalah CEO nya jadi aku bebas kapanpun untuk pulang,tapi pekerjaanku harus selesai lebih dulu tentunya",jawab Fero santai.


"Gak selalu seperti itu Fan...tanpa aku sebagai pimpinan dana dana tidak akan air tanpa tanda tangan dan persetujuanku",bantah Fero karena apa yang diucapkan Fani tidaklah benar.Meski dia CEO tapi dia akan selalu datang tepat waktu ke kantor agar memberikan mencontoh yang baik pada karyawannya.


"Baiklah...kalau gitu ayo pulang",ajak Fani yang sudah siap dengan tas kerjanya.


"Ayo girls...mau makan malam di mana kita hari ini?",tanya Fero yang mengikuti langkah Fani dari belakang.


"Terserah kamu saja Mas...tidak mungkin tiap hari aku yang merekomendasikan di mana kita makanan malam kan", ucap Fani sedang mengunci toko karena memang dia yang selalu terakhir pulang kecuali mereka lembur baru mereka pulang bersama-sama dengan para karyawan lainnya.


Mereka akhirnya memutuskan makan malam disebuah kafe ditepi danau yang terkenal dengan ayam bakar madunya yang konon katanya enak banget.


Diwaktu bersamaan keluarga Wijaya juga tengah makan malam bersama meski tanpa kehadiran Benny yang memutuskan tidur di apartemennya.


Lyra tampak masih bersedih tapi ia tetap ikut makan malam karena ia tau Kakaknya tidak suka melihatnya tidak makan meski tengah banyak masalah.Itu akan cepat memicu sakit magh karena stres dan ditambah dengan terlambat makan.


Mereka makan dalam diam hanya dentingan sendok yang terdengar.


Kayla tampak tidak berselera untuk makan padahal ia tadinya sangat lapar dan menu makanan juga tersedia makanan favorit Kayla.


Devan yang menyadari sang istri hanya mengaduk aduk makannya berinisiatif untuk menyuapi Kayla langsung dari piringnya.

__ADS_1


Kayla terkejut dengan aksi Devan tampak terdiam menatap sendok berisi makanan yang ada dihadapannya.


"Ayo...buka mulutmu sayang!",bisik Devan tersenyum tipis.


Kayla dengan malu malu menerima suapan dari sang suami.Ia sangat bahagia dengan hal kecil yang dilakukan oleh Devan kali ini.


Dengan telaten Devan menyuapi sang istri makan membuat yang lainnya tersenyum bahagia melihat Devan begitu menyayangi Kayla dan memanjakan layaknya seorang ratu.


Akhirnya makan malam selesai dengan Devan yang menghabiskan makanan milik Kayla.


Mereka duduk santai diruang keluarga untuk saling berbincang ringan.Memang begini keluraga Devan kalau sudah mengumpul pasti selalu menyempatkan untuk bertukar cerita tentang keseharian mereka.


"Rik...kamu jadi besok berangkat?",tanya Devan yang menatak Erik sedang duduk menatap layar ponselnya.


"Iya Kak... lusa ada meeting dengan klien dari Manado gak bisa diwakilkan soalnya",jawab Erik tersenyum tipis.


Lyra yang sedang menatap Erik tersenyum samar.Ingin dia ikut bersama Erik agar bisa selalu ada disamping Erik disaat dia lagi terpuruk sekarang tapi dia bukan wanita bebas lagi dia seorang istri sekarang.


"Kapan balik lagi kesini?",tanya Devan yang mengusap punggung tangan sang istri.Mereka duduk melingkari dengan Devan disamping sang istri tentunya dan Lyra disamping sang Nenek dan Erik yang duduk tepat didepan Lyra dikursi tunggal.


"Kalau ponakan aku udah lahir,aku harap salah satu dari kalian segera memberikanku keponakan yang lucu",jawab Erik menatap Lyra sekilas melihat reaksi perempuan itu dengan jawabannya.


"Berangkat jam berapa Rik?,tanya Nenek.


"Berangkat siang Nek karena besok pagi ada meeting online dengan petinggi perusahaan mengenai laporan bulanan",jawab Erik.


"Pakai pesawat pribadi kita aja Rik...biar kamunya gak terburu buru",usul Devan meminta sang adik memakai pesawat pribadi milik keluarga Wijaya.


"Baiklah Kak...makasih",jawab Erik.


"Kayak sama siapa aja kamu Rik...kamu itu adikku ya wajar kau menikmati fasilitas keluarga kita",jawab Devan yang sudah menganggap Erik bagian dari keluarganya bahkan sudah seperti adik kandung.


"Ra...Kakak cuma pesan satu sama kamu jangan gegabah mengambil keputusan dalam masalah kamu.Benny sangat mencintai kamu meski ia pernah melakukan kesalahan tapi percayalah Kakak sudah memberinya pelajaran lima tahun yang lalu",ucap Erik menatap sang adik yang begitu terluka.


"Apa?jadi kamu tau Benny mengkhianati Lyra lima tahun lalu Rik?",tanya Devan datar karena dia yang sahabatnya saja tiap hari selalu bersama tidak tau akan hal itu.


"Iya Kak...kebetulan aku saat itu meeting di salah satu hotel yang di booking cewek itu.Sayangnya aku tau setelah Benny keluar dari kamar hotel dengan keadaan kacau membuatku Langsung menghajarnya habis habisan",jawab Erik.


"Kenapa kamu tidak beritahu kita bahkan kamu tidak mencoba menggagalkan pernikahan mereka.Kamu lihat adik perempuan kita satu satunya yang terluka disini",ucap Devan dengan emosi yang meledak-ledak.


"Karena Benny menjelaskan kalau dia dijebak dan tidak mencintai perempuan itu,dan aku tau tentang anak Benny setelah pernikahan Lyra terjadi karena Benny menutupi semua info tentangnya dengan rapat",ucap Erik.


"Benny....",desis Devan dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang mengepal erat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2