
Devan dan Benny bergegas menghampiri kedua wanita yang tampak menangis terisak.
"Apa yang terjadi Nek?",tanya Devan saat menghampiri sang Nenek dan istrinya itu.
"Lyra kritis Dev...dan harus segera dilakukan operasi,kami menunggumu untuk menandatangani persetujuan operasinya",jawab Nenek dengan mata berair menahan tangisannya.
"Mas...Lyra baik baik saja kan?",tiba tiba Kayla memeluknya erat dan menangis sesenggukan.
"Iya sayang kita berdoa saja ya...Lyra pasti kuat",jawab Devan mengusap punggung sang istri untuk memberikan ketenangan.Ada rasa perih dihatinya melihat sang istri menangis seperti ini.Devan mengecup puncak kepala sang istri untuk memberikan dia ketenangan.
Setelah sang istri tenang Devan dan Benny menuju ruang dokter yang menangani operasi Lyra.
Kedua laki laki yang sama sama bersifat dingin dan datar itu hanya saling diam tanpa bicara.Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.Devan tampak mengeraskan rahangnya menahan emosinya.Ingin rasanya ia berteriak pada Benny karena semua ini gara gara masalahnya membantu sang adik diambang kematian.
Devan tidak mengetahui betapa emosinya juga Benny pada Velly.Andai wanita itu baik baik saja sudah dipastikan wanita itu menjadi sasaran amukan Benny.Tak peduli kalau wanita itu ibu dari anaknya.
Dan untuk urusan orang yang menabrak sang adik Devan sudah melimpahkan semuanya kepada pihak kepolisian dibantu oleh Ray.Sementara para bodyguard yang selalu berada disekililing Lyra hanya pasrah menunggu amukan dari Devan nantinya.
Sementara Devan keruangan dokter Kayla duduk terdiam dikursi tunggu didepan ruang operasi ditemani Nenek.
Wanita hamil muda itu begitu syok dengan apa yang terjadi dengan adik iparnya.Wajahnya tampak pucat dan tangan bergetar hebat karena ia melihat langsung keadaan Lyra yang bersimbah darah dibagian kepala karena Kayla memang fobia dengan darah.
Nenek yang melihat sang cucu menantu gemetaran segara meremas pelan tangan Kayla dan memeluknya.
Nenek meminta salah satu bodyguard yang ada didekat mereka untuk memanggilkan Devan.Karena yang dibutuhkan ibu hamil ini dekapan sang suaminya.
Tak lama kemudian Devan datang dengan wajah panik karena bodyguard tadi melaporkan keadaan Kayla pada Devan.
Devan langsung menghampiri sang istri dan langsung membawa Kayla dalam dekapannya.
"Are you oke sayang,hum?",bisik Devan mencium puncak kepala Kayla.Namun sang istri hanya diam sambil memejamkan matanya.
"Dev... seperti nya Kayla ketakutan karena dua tadi melihat langsung keadaan Lyra yang bersimbah darah",ucap Nenek yang juga tampak khawatir.
"Nenek benar istriku tidak baik baik saja saat ini karena dia fobia darah Nek",ucap Devan yang masih memeluk Kayla erat.
"Sayang...hei semuanya baik baik saja ada Mas disini",ucap Devan melonggarkan sedikit dekapannya dan menatap sang istri yang tengah terpejam.
__ADS_1
"Sayang...",Devan menepuk pelan pipi sang istri namun tak ada pergerakan dari Kayla membuat Devan panik seketika.
"Dev..ada apa dengan Kayla?",tanya Nenek yang juga tiba tiba panik melihat Devan yang tengah panik.
"Istriku pingsan Nek..",ucap Devan yang langsung membopong tubuh Kayla menuju ruang perawatan.
"Ya sudah kamu bawa segera ke UGD",ucap Nenek diangguki oleh Devan.
Devan segera membawa sang istri dalam dekapannya."Dokter...tolong istri saya Dok",teriak Devan saat melihat seorang dokter yang tengah melintas di koridor yang Devan lewati.
Dokter itu langsung mengarahkan Devan menuju UGD dibantu dua orang suster.
Devan langsung membaringkan Kayla ditempat tidur pasien.Setelah itu Devan diminta menunggu diluar sementara dokter memeriksa keadaan Kayla.
Devan tampak mondar mandir didepan ruang UGD memikirkan keadaan sang istri.Begitu berat bebannya saat ini sang adik tengah berada di ruang operasi dan sang istri belum tau keadaannya.
Semoga saja Kayla dan kandungnya baik baik saja pikir Devan.Dia mengusap kasar wajahnya saat pintu ruangannya itu belum juga terbuka.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka Devan segera menghampiri sang Dokter.
"Istri anda baik baik saja dia hanya syok dan sedikit ketakutan itu yang membuatnya tidak sadarkan diri",jawab dokter tersenyum tipis.
"Oh syukurlah... kandungannya baik-baik saja kan dok?",tanya Devan lagi.
"Kandungannya tidak ada masalah Tuan...hanya saja saat ini pasien harus istirahat yang cukup dan tolong hindari hal yang membuatnya seperti ini ditakutkan pasien akan stres dan berpengaruh pada kandungannya",jawab dokter.
"Baik dok... terimakasih",ucap Devan.
"Sama sama Tuan,kalau begitu saya permisi dulu silahkan temui istri anda dulu",ucap sang dokter berlalu diiringi oleh dua orang suster.
Devan segera menghampiri wanita yang sangat ia cintai yang terbaring lemah dengan wajah pucat.Sungguh ia tidak sanggup melihat sang istri dalam keadaan sekarang.
Devan mendudukkan diri disamping tempat tidur Kayla lalu menggenggam jemari wanitanya lembut lalu mengecupnya penuh kasih sayang.
"Sayang...maafin Mas.Karena terlalu khawatir pada Lyra Mas mengabaikan kamu yang dari tadi tidak baik baik saja.Mas rasanya tidak becus jadi suami",lirih Devan menatap wajah pucat Kayla yang tertidur lelap dan belum juga sadarkan diri.
Tak lama Kayla mulai membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya.Matanya Kayla langsung menangkap suaminya yang tertunduk memegang erat jemari tangannya.Kayla tersenyum tipis melihat sang suami.
__ADS_1
"Mas...",lirih Kayla.
"Sayang...kamu sudah sadar,hum?apa yang sakit bilang sama Mas sayang?", tanya Devan bertubi tubi yang tampak khawatir.
Kayla menggeleng pelan."Aku gak apa apa kok Mas hanya pusing dan sedikit ta-kut",lirih Kayla menatap manik sang suami.
"Sudah ada Mas disini sayang",ucap Devan.
"Mas... Lyra-
"Sssttt...kamu jangan berpikir macam macam dulu sayang,kamu gak boleh stres.Ingat ada Devan junior disini jadi kamu harus fokus pada kehamilan kamu saja",ucap Devan memotong ucapan sang istri sambil mengusap perut rata sang istri.
"Tapi Mas...
"No...kamu ingat saat ini ada nyawa dalam kandungan kamu jadi kamu gak boleh banyak pikiran,ok",bantah Devan yang gemas melihat sang istri yang masih saja mencemaskan adiknya.Devan tau Kayla sangat menyayangi Lyra layaknya adik sendiri tapi saat ini kondisi Kayla juga kurang sehat.
"Iya Mas... maaf",cicit Kayla.
"Iya...sekarang kamu istirahat Mas akan temani kamu disini",ucap Devan dan diangguki oleh Kayla.
Kayla memejamkan matanya untuk tidur sementara Devan menelfon Nenek menanyakan keadaan sang adik.Bukan dia juga tidak khawatir dengan Lyra tapi sang istri juga membutuhkan dirinya saat ini.
Ternyata operasi Kayla berjalan lancar dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.Devan menghembuskan nafas kasar entah kenapa wanita yang dia sayangi selau saja menjadi incaran orang.Dulu Kayla juga mengalami hal yang sama untuk tidak terlalu parah dan kini sang adik.
Devan menghubungi Ray untuk menghandle pekerjaan di kantor dan juga meminta Fino manager toko textilenya untuk membantu Ray karena hari ini begitu banyak meeting yang harus dihadiri di beberapa tempat dengan waktu yang sangat padat sementara dirinya juga tidak bisa meninggalkan rumah sakit.
Devan juga mengabari Erik tentang Lyra karena bagaimanapun Erik juga bagian dari keluarganya dan adiknya juga serta kakak bagi Lyra.
Setelah menghubungi Erik Devan kembali menghubungi Benny sang mantan adik ipar dan juga sahabatnya untuk terus memantau keadaan Lyra karena dirinya juga harus menjaga Kayla.Tidak mungkin dia memperbolehkan Nenek untuk menjaga Lyra apalagi Nenek sudah terlalu tua tidak mungkin untuk bergadang menjaga sang adik yang belum siuman itu.
Meski dia kecewa dengan Benny dan juga karena kecemburuan ibu dari anak Benny yang membuat Lyra seperti sekarang namun Devan tidak bisa menyalahkan Benny sepenuhnya.
Tak lama ponsel Devan kembali berdering tampak nama Benny dalam panggilan itu.
"Apa?", teriak Devan.
...****************...
__ADS_1