Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Kehangatan keluarga


__ADS_3

Bocah 4 tahun berlari menghampiri Daddy-nya.Fero dan Fani tampak melongo kearah bocah yang berlari menuju Benny.Yang lain tak kalah terkejutnya kecuali Lyra.Meski mereka tau kalau Benny sudah memiliki anak tapi mereka belum pernah bertemu dengan bocah kecil yang sangat manis itu.


"Maaf kan saya Tuan Nona Vanya dari kemarin merengek ingin bertemu Tuan jadi saya bawa dia kesini",ujar seorang wanita muda yang menjadi baby sitter Vanya.


Benny memangku putrinya dan memeluknya erat.Tidak mudah bagi putrinya harus kehilangan sosok ibu yang selalu menemaninya.


"Daddy aku mau Mommy",rengek Vanya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang...Mommy Vanya sekarang sudah di surga bersama Allah.Vanya bantu doa ya biar Mommy tenang bersama Allah",ucap Benny menangkup pipi caby putrinya.


Deg


Lyra terkejut mendengar ucapan Benny yang mengatakan kalau ibu anaknya sudah disurga ."Apa itu artinya Velly sudah meninggal?kapan?",batin Lyra menatap bocah manis yang terlihat begitu menyedihkan.


"Tunggu...tunggu apa gue yang kuper atau terlalu sibuk jadi sejak kapan Lo punya anak Ben?",tanya Fero dengan tatapan menyelidik.Sementara yang lain hanya diam menatap bocah kecil itu dalam gendongan Benny.


"Ada yang mau jelasin ke gue gak?melihat kalian semua diam pasti kalian sudah tau tentang ini kan?",tanya Fero lagi menatap semua orang acara bergantian.


"Ceritanya panjang Fer,gue akan cerita tapi gak sekarang didepan putri gue",ucap Benny.


"Maaf gue harus balik putri gue kayaknya gak nyaman dengan tatapan kalian",ucap Benny yang beranjak dari tempat duduknya.


"Daddy aku mau Mommy,hiks",rengek Vanya.


"Boleh aku gendong?",tanya Lyra tiba tiba membuat Kayla dan Devan serta Nenek menatap tak seolah tak percaya.


"Kamu yakin?",tanya Benny.


"Iya..."


"Vanya mau digendong sama Aunty Lyra gak?",tanya Benny menunjuk Lyra pada putrinya.


Vanya menatap Lyra seksama melihat apakah orang yang baru ia temui baik tau tidak.Karena Vanya termasuk anak yang cukup cerdas di usianya yang masih 4 tahun.


"Aunty...aunty yang aku temui diapotik?",tanya Vanya dengan suara cadel khas anak anak.


Lyra menegang seketika ternyata anak kecil ini mempunyai daya ingat yang kuat."Iya sayang...apa Vanya benci sama Aunty?",tanya Lyra membuat Vanya menggeleng kecil.


"Kata Daddy Aunty sangat baik",ucap Vanya membuat Lyra menatap kearah Benny yang tersenyum tipis padanya lalu mengangguk.


"Mau Aunty gendong?",tanya Lyra mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat akan menggendong kearah Vanya.


Vanya segera meminta turun dari gendongan Benny lalu berlari kearah Lyra dan dengan sigap Lyra mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya.


Semua orang yang menatap tersenyum tipis begitu juga Kayla.Wanita itu tau kalau Lyra masih mencintai Benny.

__ADS_1


"Hai...cantik kenalkan Aunty Kayla",ucap Kayla yang beranjak pindah duduk didekat Lyra.


Vanya menatao kearah Benny seolah bertanya pada Daddy-nya.


"Aunty Kayla juga baik kok sayang",ucap Benny membuat gadis kecil itu tersenyum pada Kayla.


"Aku Anya Aunty",jawab gadis itu dengan aura cadelnya membuat Kayla gemas dan mencium lembut pipi caby nya sehingga gadis kecil itu tertawa riang.


"Aunty antik",ucap Vanya menatap Kayla dengan mata berbinar.


"Hah...Maksudnya?",Kayla tampak bingung dengan bahasa Vanya.


"Dia bilang kamu cantik Kay",jawab Benny.


"Oh...kamu juga cantik tuan putri",jawab Kayla mencubit pelan hidung Vanya.


Melihat dua ketiga orang itu asyik bercanda Fero mengahampiri Benny dan menariknya dari ruang tamu.


"Jelasin ke gue",ucap Fero yang menyeret sahabatnya itu dari keramaian.


Sementara itu Lyra,Vanya dan Kayla tampak asyik bercanda sedangkan Devan memilih masuk ke ruang kerjanya.Nenek juga memasuki kamarnya untuk beristirahat siang.Sedangkan Fani hanya jadi penonton saja melihat ketiga orang itu bercanda ria.


"Ra... kayaknya dia mulai nyaman deh sama kamu",ucap Kayla saat melihat Vanya yang nyaman didalam pelukan Lyra.


Kayla hanya mengangguk kecil menyimak ucapan Lyra dengan memandang wajah cantik Vanya yang dominan mirip Benny.


"Ra...dia mirip sekali dengan Mas Benny kalau aku perhatikan",ucap Kayla.


"Iya Mbak...kok aku baru sadar ya? padahal aku gak sengaja pernah ketemu dengan Vanya dulu di apotik",jawab Lyra yang juga memperhatikan wajah Vanya.


"Mungkin kamunya yang gak fokus ke dia waktu itu Lyra",sambung Fani.


"Iya kali ya Mbak...waktu itu aku fokusnya ke Velly",gumam Lyra tersenyum tipis pada Fani.


Setelah satu jam berlalu ketiga wanita itu asyik mengobrol meski Lyra belum sembuh total tapi dia bukan wanita manja yang selalu menye menye kalau sedang sakit.


Sedangkan sicantik Vanya sudah terlelap dipangkuan Lyra dengan nyamannya.Bennypun sudah selesai menjelaskan apa yang terjadi 5 tahun yang lalu pada Fero.Dalam persahabatan mereka memang tak ada yang ditutup tutupi kecuali masalah suami istri jika mereka sudah menikah.Tadi Benny tidak mengatakan kalau ia sudah mentalak Lyra biarlah itu jadi masalah mereka berdua tanpa ada orang ketiga tau kecuali keluarga yang.


Benny dan Fero kembali menghampiri para wanita yang asyik ngerumpi.Begitu juga Devan entah janjian atau apa dia juga ikut keluar dari ruang kerjanya.


"Beginilah wanita jika tengah ngumpul kita kita dicuekin",ucap Fero menggeleng pelan.


Ketiga wanita itu serempak berhenti tertawa saat ada suara yang tengah menyindir mereka.


"Sayang...lagi ngomongin apa sih?senang banget kelihatannya",tanya Devan mengahampiri sang istri.

__ADS_1


"Rahasia perempuan laki laki tak boleh tau",jawab Kayla.


"Udah mulai main rahasia rahasiaan ya sekarang sama Mas",Devan mencubit gemas pipi sang istri yang mulai caby karena kehamilannya.


"Aw...sakit Mas",rengek Kayla membuat yang ada diruangan tertawa kecil melihat kemesraan pasangan suami istri ini.


"Kita ke kamar ya...waktunya kamu minum obat sayang",ucap Devan.


"Hmm...masih siang bro udah ngamar aja",goda Fero membuat Kayla tersipu malu.


"Makanya cepatan nikah biar bisa ngamar siang siang kasihan tu Fani kelamaan nunggu",balas Devan telak membuat Fero langsung bungkam.


Fani yang tak tau apa apa salah tingkah dengan muka merah padam menahan malu.Emang dia mulai nyaman dengan Fero tapi dia sadar diri kalau dirinya bukanlah tipe pria tampan itu.


"Aw...kok Mas dicubit sih sayang?",sungut Devan mengusap perutnya yang dicubit sang istri.


"Kamu kenapa ngomong kayak gitu kasihan Fani yang diam aja dari tadi di bawa bawa",kesal Kayla membuat semua orang tertawa.


"Iya sayang Mas minta maaf ya,jangan cemberut lagi kasihan debaynya",bujuk Devan.


"Dasar bucin Lo", ketus Fero.


"Udah pulang Lo sana ajak Fani sekalian",usir Devan mengibaskan tangannya kearah Fero.


Mau tak mau Fero dan Fani pulang atau lebih tepatnya ke tempat kerja masing masing karena waktu belum menunjukkan jam pulang kerja.


Sedangkan Lyra membawa Vanya tidur dikamarnya dan Benny harus ke kantor karena ada meeting dan Devan tak bisa hadir karena alasan sang istri yang tak mau ditinggal.Jadi mau tak mau ia harus menggantikan Devan.


Di kamar mereka Kayla dan Devan sedang duduk santai di balkon kamar mengobrol ringan.


"Sayang besok sidang Aruna kamu kuat gak kesana?",tanya Devan.


"Emang harus ya Mas?",ucap Kayla.


"Iya sayang kamu kan korban.Jadi nanti kamu akan di mintai keterangan dan tenang saja nanti ada Pak Regan pengacara kamu yang akan dampingi kamu selama proses persidangan",ucap Devan.


"Tapi kamu juga temani aku kesana kan Mas?",tanya Kayla.


"Tentu sayang",jawab Devan tersenyum manis.


Tok tok tok


"Siapa ya Mas?",tanya Kayla.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2