Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Keputusan Devan


__ADS_3

Hoek hoek hoek


Kayla mengeluarkan isi perutnya pagi isi karena rasa mual yang kembali ia rasakan.Tubuhnya begitu lemas dan sangat pucat karena begitu banyak cairan yang ia keluarkan.


Devan yang baru bangun langsung menghampiri Kayla di kamar mandi dan memijit tengkuknya pelan untuk mengurangi rasa mualnya.


"Udah muntahnya?",tanya Devan lembut namun serak khas bangun tidur.


Kayla hanya mengangguk kecil karena tubuhnya begitu lemas dan tak bertenaga.


Devan yang melihat kondisi sang istri sangat iba ia berjanji pada dirinya sendiri tak kan ia sia siakan sang istri yang sudah bersusah payah mengandung anaknya.


Tanpa aba aba Devan langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya kembali ke kamar lalu membaringkannya diatas tempat tidur.


"Mau sarapan apa sayang,hum?",lirih Devan menatap iba pada sang istri yang begitu pucat.


"Bubur ayam tapi kamu yang bikin Mas,bisa?",tanya Kayla lirih.


"Apapun untukmu sayang,Mas ke bawah sebentar ya mau bikin bubur pesanan istri cantik Mas ini",ucap Devan mengusap rambut sang istri lembut.


"Iya Mas...",jawab Kayla tersenyum tipis.


"Mas tinggal sebentar ya",ujar Devan mengecup kening Kayla dan diangguki oleh Kayla.


Kemudian Devan melangkah meninggalkan kamar untuk membuatkan bubur untuk sang istri.


Drt drt drt


Ponsel Kayla diatas nakas bergetar lama menandakan panggilan masuk.Dengan pelan pelan Kayla bangun untuk meraih ponselnya.


Fani is calling...


Kayla tersenyum kecil melihat ponselnya langsung mendial tombol hijau dan melaudspeaker telfonnya


[Assalamu'alaikum Fan...ada apa?]


[Waalaikum salam Key...kok suara kamu lemas gitu?ada yang terjadi key?]


[Gak...aku cuma lemas aja abis muntah tadi,tumben telfon pagi pagi,ada apa?]


[Ini Key...ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani buat kerja sama kita dengan investor baru,aku ke rumah kamu aja ntar ya]


[Alhamdulillah udah ada investor lagi Fan, mudah mudahan Butik kita makin maju ya Maaf aku belum bisa bantu kamu,aku harus merepotkan kamu dan Fahira]


[Santai aja Key...yang penting calon ponakan aku sehat dan baik baik saja lagian kandungan empat bulan kamu udah bisa bantu bantu kita di butik kan]

__ADS_1


[Mudah mudahan udah bisa ya Fan]


[Ya sudah aku tutup dulu ya ini ada yang datang mau ambil pesanan]


[Ya Fan... assalamu'alaikum]


[Waalaikum salam]


Tut...


Kayla tersenyum lebar akhirnya tempat jahitnya kini sudah berkembang pesat.Satu persatu impiannya mulai terwujud.Tak hanya untuk dirinya juga untuk para karyawannya yang bisa mendapatkan gaji yang lebih layak lagi.


Ceklek


Devan datang membawa nampan berisi bubur ayam dan teh hangat.Devan yang melihat sang istri senyum senyum sendiri sambil memegang ponselnya mengernyitkan keningnya.


"Hei...ada apa sayang,kok kamu senyum senyum sendiri?",tanya Devan yang meletakkan nampan berisi bubur itu diatas nakas.


"Fani tadi telfon Mas katanya ada investor baru yang mau kerja sama sama butik aku",ucap Kayla dengan mata berbinar.


"Alhamdulillah sayang...akhirnya usaha istri mas tidak sia sia selama ini",timpal Devan tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sang istri.


"Iya Mas...


"Kamu makan dulu ya setelah itu minum obat dan jam 10 nanti kita ke pengadilan.Kamu kuat kan?",tanya Devan yang mulai menyuapi Kayla bubur buatannya.


"Ada apa,hum?",tanya Devan yang melihat istrinya menekuk mukanya.


"Aku kasihan sama Aruna Mas,dia harus dipenjara gara gara sifat irinya sama aku",jawab Kayla begitu lirih.


"Sayang...dengar Mas,setiap apa yang kita lakukan pasti ada akibatnya.Begitu juga dengan Aruna dia dengan tega berniat mencelakakan kamu dan dia harus menanggung akibatnya sekarang",ucap Devan.


"Tapi...


"Sssttt...kamu habiskan buburnya lalu minum obat biar gak mual lagi",ujar Devan memotong ucapan sang istri.


Akhirnya Kayla menyelesaikan sarapan lalu meminum obat dan kembali tidur.Sementara itu Devan melangkah kakinya ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi karena setelah ini ia ada meeting online dengan para petinggi perusahaan.


Dilantai bawah semua orang tengah sarapan pagi dengan begitu khidmat tanpa bersuara hanya dentingan sendok yang mendominasi di ruang makan pagi itu.


"Rik...berangkat jam berapa besok?",tanya Nenek saat menyudahi sarapannya.


"Mungkin lagi Nek barengan Fino karena lusa aku harus balik lagi kesini",jawab Erik.


"Oh...pakai pesawat pribadi Devan aja Rik biar cepat",timpal Nenek.

__ADS_1


"Iya...Nek",jawab Erik.


"Nenek tau ini adalah mimpi kamu dari kecil dan Devan sudah memberikan apa yang harus ia berikan padamu sejak dulu",ujar Nenek.


"Maksudnya Nek?",tanya Erik.


"Ya...Daddy Devan sudah memberikan salah satu rumah sakit milik keluarga Wijaya pada Ayahmu bentuk kesetiaan Ayahmu pada keluarga ini,jadi Rumah sakit Pelita Harapan adalah milikmu seutuhnya.Tapi Nenek harap kamu juga bisa memimpin Rumah sakit lainnya",ucap Nenek.


"Nek...apa ini terlalu berlebih-lebihan?aku tidak tau tentang rumah sakit Pelita harapan sudah menjadi milikku, seharusnya kalian tidak berlebihan seperti ini.Dengan menerimaku menjadi bagian kelurga ini saja aku sudah bersyukur Nek",lirih Erik.


"Nenek tau kamu sudah mandiri dan kamu juga memiliki saham di Wijaya Gruop dan beberapa perusahaan lainnya tapi ini semua sudah kami berikan sewaktu kamu masih kuliah Nak",ujar Nenek tersenyum tulus.


"Makasih Nek untuk semuanya aku akan mengembangkan rumah sakit kita semampuku",tekad Erik dan diangguki oleh Nenek.


"Maaf...jadi Kak Erik yang akan mengelolah rumah sakit kita Nek?lalu perusahaan yang di Kalimantan?",tanya Lyra yang berusaha mencerna percakapan keduanya.


"Iya Ra... perusahaan di Kalimantan akan dikelola oleh Fino asisten kepercayaan Mommy mu dulu",sambung Nenek.


"Yakin Nek perusahaan sebesar itu apakah Fino bi-


"Jangan menilai orang dari luarnya Ra.Nenek percaya Kakakmu jika dia menunjuk Fino berarti Fino mampu karena Kakakmu tidak akan sembarangan memberikan keputusan.Lagian Fino hanya menjadi Direktur di sana sekalian menjadi orang kepercayaan Erik karena CEO tetap Erik Kakakmu",ujar Nenek menjelaskan pada Lyra.


Lyra hanya mengangguk kecil tanda mengerti lalu menyudahi sarapannya.


"Ra...apa kamu sudah agak sehat?",tanya Devan yang baru saja turun dari lantai atas.


"Sudah Kak...malah aku berencana mau ke perusahaan",ucap Lyra.


"Bagus...kamu selesaikan pekerjaanmu diperusahaan hari ini karena lusa kamu akan menjadi sekretaris sekaligus asisten kepercayaan Erik di Rumah sakit",ucap Devan tegas tak mau dibantah.


"A-apa?",pekik Lyra dengan mata melotot.


"Santai aja Ra",bisik Devan tepat ditelinga sang adik.


Lyra menggeleng pelan dengan tatapan nanar.Susah payah ia melupakan Erik tapi apa ini sang Kakak tiba tiba menjadikannya sekretaris dari pria yang berusaha ia hindari.


"Tapi Kak..."


"Tidak ada bantahan Ra...",tegas Devan dan berlalu menuju ruang kerjanya untuk melakukan meeting onlinenya.Karena setelah ini ia akan ke pengadilan untuk menemani sang istri untuk memberikan pernyataan sebagai korban dipersidangan Aruna.


Erik menggumam senyumnya mendengar keputusan Devan.Jadi dia tidak perlu lagi mencari sekretaris nantinya.


"Ih...Kak Devan gak asyik",guman Lyra menghentakkan kakinya ke lantai.


"Sudah... harusnya kamu bersyukur Kakakmu mendekatkanmu dengan orang yang selama ini kamu cintai,jadi pergunakan waktumu sebaiknya untuk mendekati Erik tapi urus perceraianmu di pengadilan",bisik Nenek tersenyum misterius.

__ADS_1


"Nenek...",geram Lyra.


...****************...


__ADS_2