
Dua minggu sudah Kayla dan Devan berbulan madu di pulau Dewata Bali.Hari ini mereka telah tiba dikediaman utama keluarga Wijaya.Kayla tengah sibuk membagikan oleh oleh khas Bali kepada seluruh anggota keluarga termasuk para maid yang bekerja dikediaman Wijaya yang juga ikut kebagian karena Kayla sudah menganggap para maid seperti keluarganya sendiri.
Nenek dan Lyra beserta suami juga mendapatkan oleh oleh dari pengantin baru itu.Mereka tampak antusias menerima hadiah yang dibelikan oleh Kayla dan Devan.
"Makasih ya Mbak Key...aku suka banget sama bingkisannya",ucap Lyra tersenyum lebar.
"Sama sama Ra",jawab Kayla.
"Gimana bulan madunya sayang",tanya Nenek pada Kayla yang tengah duduk disamping Nenek karena sang suami tengah asyik mengobrol dengan Erik.
"Alhamdulillah lancar Nek",jawab Kayla malu malu yang teringat selama mereka di Bali begitu banyak momen romantis yang dilalui.
"Semoga cepat isi ya",bisik Nenek mengelus perut rata Kayla dan diangguki oleh Kayla.
"Kalian tidak menunda nunda untuk memiliki momongan kan?",tanya Nenek.
"Gak lah Nek... sedikasih sama Allah aja kalau cepat dikasih ya alhamdulilah kalau belum ya berarti kita usaha lebih giat lagi ya gak sayang?",ujar Devan yang tiba tiba memotong pembicaraan sang istri dan Nenek membuat Kayla tersenyum simpul.
"Tapi Nenek yakin saat ini benih kamu udah bersemayam di rahim Kayla.Keturunan kita kan topcer semua",jawab Nenek yang mengusap pelan rambut cucu menantu kesayangannya. Sedangkan Devan langsung duduk disamping istri tercinta.
"Aamiin Nek",jawab Kayla mengamini ucapan Nenek.
"Nenek harap tahun depan Nenek bakalan panen cucu buyut",ucap Nenek sumringah membayangkan ia akan menimang cucu buyutnya yang lucu-lucu.
"Padi kali Nek yang panen",sungut Devan yang menatap sang adik tengah melamun membuat wanita paruh baya itu terkikik geli.
"Ra...kamu kenapa melamun?ada masalah?",tanya Devan yang melihat sang adik tampak melamun membuat Erik yang tengah duduk tidak jauh dari mereka menoleh pada Lyra begitu juga Benny yang duduk disebelah sang istri.
"Oh...gak kok Kak cuma lagi kecapean aja",kilah Lyra tersenyum tipis.
"Lo Ben jangan buat adik gue kecapean kayak gini dong!kita gak nuntut buat Lo berdua segera punya anak",goda Devan pada sang sahabat membuat Benny tersenyum kikuk.
"Ck...kayak Lo gak aja",balas Benny berusaha sesantai mungkin karena hubungannya dengan Lyra belum sepenuhnya baik.
"Ya kalau gue emang kejar target bro Lo dengar sendiri kan Nenek udah gak sabar punya buyut dari gue",ujar Devan yang mendapatkan cubitan kecil dari sang istri.
Siang itu mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol ringan.Benny serta Lyra melupakan sejenak permasalahan mereka begitu juga Erik yang juga ikutan dalam obrolan yang membahas tentang bisnis tersebut sedangkan para wanita hanya jadi pendengar sesekali Lyra ikut menimpali karena ia sedikit paham dengan bisnis.
Obrolan keluarga itu diakhiri dengan makan siang bersama.Semua tampak lahap menikmati makanan mereka.Tak ada percakapan karena di keluarga Wijaya memang tidak memperbolehkan bicara saat sedang makan.
__ADS_1
Setelah makan siang Kayla dan Devan kembali ke kediaman mereka.Karena Devan memang sudah menyiapkan rumah untuk sang isteri.
"Mas...kok aku ngerasa Lyra menyembunyikan sesuatu deh dari kita.Selama kita ngobrol tadi dia banyak melamun gitu",ucap Kayla yang sedang menata pakaiannya kedalam lemari.
"Mas juga ngerasa gitu juga sayang,tapi apapun itu semoga bukan masalah besar",ujar Devan yang berharap rumah tangga sang adik akan baik baik saja.
"Ya...aku harap juga gitu Mas",jawab Kayla yang masih melanjutkan menata pakaiannya.
"Sudahlah biarkan saja mereka,apa masalah mereka bukan urusan kita.Mending kita pikirkan masalah kita sekarang",ujar Devan yang memeluk sang istri dari belakang membuat Kayla menghentikan pekerjaannya menata pakainya dilemari.
"Emangnya masalah kita apa Mas?",tanya Kayla bingung.
"Masalah kita saat ini bagaimana kita bisa mewujudkan keinginan Nenek yang ingin memiliki buyutnya dari kita",bisik Devan yang mengendus leher Kayla.
"Mas...ini masih siang loh",elak Kayla yang berusaha melepaskan dekapan Devan.
"Nolak dosa loh sayang",ujar Devan dengan suara serak membuat Kayla menegang karena ia tahu sang suami sudah bergairah.
Mau tak mau Kayla melayani sang suami karena ia takut dosa bila menolak sang suami dan dikutuk oleh malaikat sampai pagi.
Jadilah siang itu kamar yang sangat mewah itu menjadi saksi betapa mereka menikmati surga dunia yang sangat memabukkan itu.Sepasang kakasih halal yang menjalankan ibadah mereka dan di doakan oleh para malaikat dan berharap akan segara diberi kepercayaan seorang anak.
Dirumah utama Lyra tengah menerima telfon. dari seorang teman yang mengajaknya untuk bertemu.Sedangkan Benny sang suami telah kembali ke kantor dan ini kesempatan Lyra untuk menemui temannya itu.Lyra sangat gugup dengan hasil penyelidikan temannya tentang sang suami.Itulah dari tadi yang ia pikirkan membuatnya banyak melamun sehingga mengundang kecurigaan sang Kakak.
Benar apa yang dikatakan Kakaknya Erik kalau permasalahannya dengan sang suami tidak kunjung selesai lambat laun Devan pasti akan tahu juga.Lyra tidak mau Kakaknya ikut campur dalam urusan rumah tangganya.Meski ia tahu Devan tidak akan tinggal diam jika ia disakiti.
Lyra tengah bersiap siap untuk berangkat menemui temannya saat sang Kakak Erik menghentikan langkahnya.
"Mau kemana Ra?", tanya Erik menatap sang adik yang sudah rapi.
"Mau ketemu teman Kak,ada apa ya?",tanya Kayla.
"Gak...Kakak mau tanya aja...bukan maksud Kakak ikut campur urusan rumah tangga kamu tapi masalah kamu dan Benny udah clear kan?",tanya Erik.
"Oh...itu udah kok Kak kita baik baik aja",kilah Lyra.
"Syukurlah Ra... setidaknya Kak Devan tidak tau dan Kakak juga tenang karena Kakak lusa akan kembali ke Kalimantan",ujar Erik mengusap pucuk kepala sang adik pelan.
"Kakak balik ke Kalimantan lusa?kok baru ngomong sekarang sih Kak?",protes Lyra karena ia merasa Erik mulai menjaga jarak padanya.
__ADS_1
"Ya...Kakak baru dapat telepon tadi pagi Ra...kalau ada meeting yang mengharuskan Kakak hadir.Jaga diri baik baik disini ya!",ujar Erik tersenyum tipis.
"Kak...kamu mau ninggalin aku lagi ya",ucap Lyra dengan tatapan kosong.
"Ra...kata siapa Kakak ninggalin kamu?Kakak disana kerja Ra.Kakak CEO nya disana jadi Kakak harus ada disana demi kelangsungan bisnis keluarga kita",ujar Erik pelan karena sang adik dalam mode merajuk.
"Ya buktinya Kakak pergi lagi dan gak tau kapan kembali lagi kesini",rajuk Lyra yang mengerucut bibirnya kedepan.Ia lupa kalau temannya sudah menunggunya dari tadi.
"Kakak akan pulang jika kamu sudah melahirkan keponakan yang lucu buat Kakak",ujar Erik dengan hati yang begitu terluka membayangkan orang yang ia cintai melahirkan anak dari laki laki lain.
Lyra mematung saat Erik mengatakan ia akan melahirkan anak dari laki laki yang bergelar suaminya yang sudah membohonginya mentah mentah walau ia belum punya bukti yang kuat tentang Benny yang memiliki anak.
"Doakan saja Kak",ucap Lyra tersenyum samar.
"Tentu",jawab Erik tersenyum tipis.
"Aku berangkat dulu Kak teman aku udah nunggu dari tadi kayaknya",ucap Lyra yang tersadar kalau ia akan menemui temannya.
Erik menatap nanar kepergian Lyra yang membuat hatinya teriris pilu melihat nasib rumah tangga sang adik sekaligus wanita yang begitu ia cintai selama ini.Erik tau kalau suami Lyra sudah mengkhianati Lyra lima tahun yang lalu tapi karena Benny begitu mencintai Lyra dan tidak menikahi wanita itu dan hanya bertanggungjawab saja atas putrinya membuat Erik diam untuk tidak merusak kebahagiaan sang adik.
"Semoga kamu baik baik saja Ra setelah Kakak pergi",lirih Erik mengusap sudut matanya yang berair.
"Apa kamu tidak mau menunggu Lyra menyelesaikan masalahnya baru kamu pulang ke Kalimantan,Rik?",tanya Nenek tiba tiba sudah ada disampingnya.
"Maaf Nek...aku gak sanggup melihat Lyra terluka Nek", gumam Erik pelan.
"Kamu yang akan ia butuhkan disaat kebenaran itu ia dapatkan.Kamu Kakaknya yang dari dulu selalu ada untuknya,yang selalu bijak menasehatinya beda dengan Devan yang selalu main otot jika adiknya disakiti.Dan hanya kamu yang bisa mengontrol emosi Devan kalau ia sudah benar benar emosi",ujar Nenek membujuk Erik agar memikirkan kembali keputusannya untuk pulang ke Kalimantan.
"Nek...aku yakin Devan sudah bisa mengontrol emosinya karena ada Kayla disisinya yang akan selalu menenangkannya jika ia emosi",ujar Erik mengusap air mata Nenek.
"Lalu bagaimana dengan hatimu Nak? bagaimana dengan cintamu?",tanya Nenek.
"Aku sudah ikhlas Nek... melihatnya bahagia aku juga bahagia.Aku yakin Lyra akan memaafkan kesalahan Benny apalagi kesalahan itu tidak Benny harapkan.Sekarang tinggal Benny jujur dan menyakinkan Lyra untuk menerima anaknya dan mereka akan bahagia Nek",ucap Erik.
"Semoga Nak",jawab Nenek tersenyum pilu.
"Berdoa lah yang baik baik untuk para cucumu Nek",ujar Erik mencium pipi sang Nenek penuh sayang dan memeluknya erat.
Sementara itu di dalam mobil Lyra menangis sesugukan karena ia merasa ada yang hilang dalam hatinya saat Erik pamit untuk pergi.
__ADS_1
...****************...