Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
ketakutan Kayla


__ADS_3

"Sejak kapan kamu berani mengatai Nenekmu ini kepo,huh?",dengkus Nenek lalu mencubit lengan Lyra.


"Sakit...Nek?",rajuk Lyra dengan khas manjanya.


"Syukurin...siapa suruh kamu ngomong kek tadi",gerutu Nenek.


"Huh...Nenek nyebelin,aku tau kenapa Kak Devan kayak tadi tapi karena Nenek mencubitku jadi aku gak jadi deh bilang kek Nenek,ujar Lyra dan berlalu pergi.


"Kau...ini cepat bilang kek Nenek,ada apa dengan Kakakmu",teriak Nenek saat Lyra sudah berjalan menjauhi Nenek.


"No...",teriak Lyra dan segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.Kalau tidak Nenek bisa mengganggunya untuk mengatakan apa yang diketahui Lyra tentang cucu laki laki kesayangannya itu.


Sementara dikamarnya Devan duduk manis dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya dan ponselnya ditangannya.Ya dia sedang chattingan dengan gadis yang beberapa jam yang lalu menjadi kekasihnya.


Devan merebahkan badannya dengan berkalang tangan dan menatap langit kamarnya dengan hati yang berdebar dan berbunga-bunga.Gadis impiannya yang selama ini dia cari telah ia miliki.Ingin rasanya Devan segera menghalalkan kekasihnya itu agar tak ada yang berani mengganggunya.Tapi Devan tidak mau terburu-buru,ia tak ingin membebani Kayla dengan pernikahan.Walau pernikahan itu bukanlah beban tapi bagi seorang gadis melepas masa lajangnya dan menjalani pernikahan adalah sesuatu yang harus ia pikirkan matang-matang.Dan Devan ingin Kayla nyaman dulu denganya baru ia akan membicarakan keinginannya ini.Apalagi sampai Neneknya tau kalau dia sudah memiliki kekasih pasti Nenek akan mendesaknya untuk segera menikah.


Devan menyudahi chattingannya saat dia menyuruh sang Kekasih untuk beristirahat.Dia tak ingin egois demi meladeni chattingannya Kayla kurang istirahat dan jatuh sakit.


"Jadi begini rasanya indahnya jatuh cinta,pantasan saja Benny bucin banget dengan adik gue",batin Devan menyunggingkan bibirnya dan menatap foto sang kekasih dilayar ponselnya.


"Aku janji bakalan buat kamu bahagia",ucap Devan mengusap foto Kayla pada ponselnya dan menciumnya.Dia tak sabar bertemu sang kekasih esok pagi.Menjemputnya dan mengantarkannya ketempat usahanya.


Devan bangkit dari tidurnya dan membuka laptopnya memeriksa email yang dikirim oleh asistennya, pekerjaannya akhir akhir ini sangat menumpuk.Ditambah lagi ia akan membuka cabang baru untuk perusahaannya dan membutuhkan investor baru.Devan gencar mencari perusahaan perusahaan besar untuk mau bekerja sama dengannya.Devan tak ingin keluarganya hidup susah.Begitu juga dengan para karyawannya yang menggantungkan hidup di perusahaannya.Devan memberikan gaji yang pantas untuk karyawannya bahkan tak jarang memberi bonus jika karyawannya itu mampu membuat omset perusahaan meningkat.Oleh karena itu para karyawan tidak berani untuk menggelapkan uang perusahaan.


***


Di dalam sebuah kamar tampak seorang gadis tengah tidur dengan gelisah.Matanya tak mau terpejam karena hatinya begitu berbunga-bunga.Bayangan sang kekasih serta perhatiannya membuatnya tidak bisa memejamkan matanya.


"Beginikah rasanya jatuh cinta?",monolog Kayla dengan senyuman mengembang,ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang merona saking bahagianya.


"Tapi apakah adiknya akan melarang hubungan ini?",batin Kayla mengingat kejadian tadi di restoran.Dia mulai gelisah karena ia merasa tidak pantas untuk Devan.Dia dan Devan bagaikan langit dan bumi,Devan adalah langitnya dan dia bumi sangat jauh berbeda.Serta status sosial mereka juga berbeda membuat Kayla merasa pesimis akan hubungannya dengan Devan.


Bayangan tadi dia kepergok Lyra saat makan bersama dengan Devan membuatnya takut Lyra akan membencinya dan membatalkan semua projeknya dengan Kayla.


Kayla menghembuskan nafas kasar dia tidak memikirkan ini saat ia menerima Devan beberapa jam yang lalu.Saharusnya dia sadar diri karena ia hanya gadis biasa yang hidup sebatang kara dan tak memiliki apapun.Ia takut cintanya akan melukai dirinya sendiri dan membuatnya patah hati saat pertama kali merasakan jatuh cinta.


"Hufff... aku akan bicarakan ini dengan Mas Devan besok pagi",ujar Kayla menenangkan hatinya yang tidak tenang.


Kayla kembali memejamkan matanya mencoba untuk meraih mimpinya.Akhirnya setelah menggulingkan badannya berkali kali mencari posisi yang nyaman Kayla terlelap juga,gadis itu mulai mendengkur halus.

__ADS_1


Berbeda dengan Devan pria tampan itu masih berkutat dengan laptopnya guna menyelesaikan pekerjaannya.Besok dia akan melakukan pertemuan dengan beberapa investor untuk membahas kerja sama dengan perusahaannya yang baru.


Setelah tiga jam berkutat dengan laptop ditemani secangkir kopi tanpa ada foto kekasihnya dimeja kerjanya.Karena foto Kayla ada di apartemennya.Biasanya foto Kayla menyemangatinya dalam bekerja.


Devan benar benar sudah jatuh cinta akut pada Kayla,sebelum menjadi kekasihnya saja apartemennya saja sudah dipenuhi foto Kayla.Itu sebabnya dia tak mengizinkan siapapun masuk ke apartemennnya termasuk Nenek dan Lyra adiknya.Sering keduanya merengek ingin melihat isi apartemen Devan namun mendapat penolakan yang tegas dari Devan.Hanya Benny dan Fero yang merupakan kedua sahabatnya yang tau kalau Devan menyukai Kayla.


Devan meregangkan ototnya Devan melangkah keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamar mandi untuk menyuci wajahnya.Lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur size-nya setelah meletakan ponselnya diatas nakas dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan menjemput mimpinya setelah ia menyebut nama sang kekasih.


Pagi menjelang Devan bergegas turun dari kamarnya dan menuju ruang makan dengam wajah berseri-seri.Devan mendudukkan tubuhnya dikursi meja makan setelah menyapa kedua wanita yang sangat ia cintai.


Devan kembali dengan wajah datarnya saat Nenek menatapnya tajam dengan mata memicing pertanda dia akan bertanya sesuatu.Devan yang sudah hafal dengan kelakuan Neneknya berpura-pura tidak tau dan menyuap sarapannya yang sudah siapkan maid.


"Dev...",ujar Nenek yang masih menatapnya penuh selidik.


"Tuh kan benar",batin Devan menatap Nenek dengan senyuman kaku khasnya.


"Apakah kau mau menjelaskan sesuatu?",tanya Nenek yang kepo.


"Maksudnya?",tanya Devan pura pura polos dan mendapat cibiran dari Nenek.


"Kau ini selalu saja begitu",ujar Nenek kesal dengan jawaban Devan.


"Makanya jangan kepo",batin Devan menyunggingkan bibirnya.


Devan memilih melanjutkan makanannya tanpa mempedulikan wanita paruh baya itu yang terus mengomel.Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya.


"Kalian berdua sama saja,selalu saja mengataiku dalam hati kalian",ujar Nenek.


Lyra yang tengah menayantap makanannya dengan lahap menoleh kepada Nenek yang sedang menunjuknya.


"Lah...kok aku dibawa bawa sih Nek",ujar Lyra menunjuk dirinya sendiri.Dia tidak terima Nenek juga menyalahkannya.


Devan menyunggingkan senyumannya mendengar adik kesayangannya merajuk karena Nenek juga menyalahkannya.Devan segera bangkit setelah menyelesaikan sarapannya dan pamit kepada Nenek.


"Aku berangkat dulu Nek",ucap Devan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sudah membesarkannya dan adiknya setelah kedua orangtuanya meninggal sepuluh tahun yang lalu disaat sang adik masih berusia 12 tahun.


"Hmmm..",jawab Nenek dengan deheman kecil membuat Devan menggelengkan kepalanya samar.


"Kak...bareng dong",teriak Lyra menyudahi sarapannya mengejar Devan yang sudah menuju pintu.

__ADS_1


"No girls...berangkat sana bareng Benny",tolak Devan tegas karena kalau Lyra ikut ia tidak akan bisa menjemput Kayla.


"Yah...dasar pelit",sungut Lyra menghentakkan kakinya kelantai dan mengerucutkan bibirnya kedepan.


Devan masuk kedalam mobilnya tanpa mempedulikan adiknya yang merajuk.Mobilnya melaju meninggalkan rumah mewah miliknya menuju rumah pujaan hatinya.


Setelah dua puluh menit berkendara Devan telah sampai didepan rumah Kayla.Tampak sang gadis sudah duduk manis di teras rumahnya.Devan turun dari mobil beriringan dengan Kayla yang juga menghampirinya.Devan tersenyum manis dan sangat manis lalu membukakan pintu mobil untuk gadisnya.


"Selamat pagi,sayang",ujar Devan menatap Kayla dengan penuh cinta.Kayla merona dengan ucapan Devan di akhir kalimat.


"Hmmm pagi Mas De-Van",jawab Kayla yang terlihat salah tingkah membuat Devan gemas dengan Kayla yang salah tingkah.Kayla masuk kedalam mobil dan memegang dada sebelah kirinya menahan degupan jantungnya.


Devan menutup pelan pintu mobil untuk Kayla dan berjalan mengitari mobil dan segera masuk dan duduk di belakang kemudi.


Devan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kayla menuju dengan kecepatan sedang.


"Mas...",ujar Kayla menatap Devan yang fokus pada kemudinya.


"Ya sayang...",jawab Devan menoleh sekilas kearah Kayla lalu kembali fokus pada jalanan yang mulai padat.


Deg


Kayla menoleh ke jendela menyembunyikan wajahnya yang merona dengan jawaban Devan.


"Ada apa,hum?",tanya Devan lagi.


"Bagaimana dengan Lyra yang-


"Dia tadi malam hanya syok karena mendapatimu makan malam denganmu hal yang tak pernah aku lakukan dengan gadis mana pun",jawab Devan memotong ucapan Kayla.


"Tapi Mas...aku takut keluargamu tidak setuju denganku yang hanya gadis biasa",ujar Kayla dengan suara bergetar.


Devan menepikan mobilnya dan menatap Kayla yang mulai berkaca kaca.Devan mengenggam jemari gadis itu untuk mencoba menenangkan gadisnya.


"Hey...tatap Mas",ujar Devan mengangkat dagu Kayla dan menatap mata indah yang tengah berkabut itu,tampak keraguan dan ketakutan didalamnya.


"Kay...keluarga Mas tidak seperti yang kamu bayangkan yang membedakan status sosial seseorang dari mana asal usul orang tersebut dan untuk Lyra...percayalah dia akan menerimamu dia gadis yang sangat supel jadi jangan pernah ragu dan cemas,oke?",ujar Devan menyakinkan Kayla dan diangguki Kayla.


Tok tok tok

__ADS_1


Kaca mobil Devan diketuk dari luar oleh seseorang


...****************...


__ADS_2