Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
Perseteruan


__ADS_3

Kayla membuka matanya saat ia merasakan ada sebuah tangan yang menghimpit perutnya lalu ia tersenyum tipis saat mengingat apa yang terjadi diantara mereka semalam.Bahkan Devan menggempurnya hilang jam 3 subuh dan untung saja mereka telah sholat subuh sebelum melanjutkan tidur kembali.Bukan melanjutkan tidur tapi memang tidur karena mereka tidak tidur semalaman.


Kayla merasakan badannya sangat remuk dan lemas.Dia mengangkat pelan tangan Devan yang saat ini memeluknya.Kayla ingin ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.Namun baru saja ia menggerakkan tubuhnya ia meringis saat merasakan daerah kewanitaannya sangat perih.


"Apa masih sakit?",tanya Devan dengan suara serak khas bangun tidur.


Kayla tersentak kaget saat mendengar suara Devan."Ka-kamu sudah bangun Mas?",tanya Kayla menatap sang suami yang masih mengumpulkan nyawanya.


"Hmmm...Iya sayang.Mau kemana,hum?",tanya Devan yang tersenyum tipis melihat sang istri begitu kelelahan karena ulahnya.Dia sangat senang melihat Kayla lemas setelah ia menggempurnya karena itu berarti dia sangat perkasa.


"Aku mau ke kamar mandi Mas",jawab Kayla tersipu malu saat Devan masih menatapnya tanpa berkedip.


"Kamu sangat cantik sayang bahkan saat ini jauh lebih cantik",gumam Devan tanpa sadar membuat Kayla merona dan membuang wajahnya kearah lain.


Tanpa aba aba Devan langsung menggendong tubuh sang istri membuat Kayla spontan berteriak."Mas...aku bisa sendiri",ujar Kayla yang langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Devan karena takut jatuh.


"Gak apa apa sayang...Mas gak yakin kamu bisa jalan saat ini lagian ini bentuk tanggung jawab Mas karena sudah membuat istri kelelahan melayani nafsu Mas yang cukup besar",ujar Devan yang membawa Kayla ke kamar mandi dan mendudukkannya di atas kloset.


"Itu sudah menjadi tugasku Mas melayanimu lahir dan batin.Oh ya makasih udah gendong aku",ujar Kayla malu malu.


"Sama sama istriku",Devan mengecup pelan bibir Kayla yang sudah menjadi candunya.Dan meninggalkan sang istri yang ingin membuang air kecil.


Setelah menuntaska hajatnya Kayla pelan pelan melangkahkan kakinya meski rasa perih masih mendominasi di daerah kewanitaannya.Kayla menatap pantulan wajahnya di dinding kaca.Ia tersenyum penuh arti saat melihat ada beberapa bekas tanda disekitar lehernya.Kayla sangat bahagia telah memberikan mahkotanya pada orang yang tepat yaitu suaminya.Laki laki yang ia harapkan bisa mencintainya dengan segala kekurangan dan plus kelebihannya serta membimbingnya kejalan yang baik.


Ceklek


"Sudah selesai kok nggak panggil Mas sayang",Devan menghampiri Kayla yang masih berdiri didepan kaca dan memeluknya dari belakang.


Kayla tersenyum menatap Devan dari pantulan cermin."Mas... terimakasih sudah memilihku menjadi istri Mas",ujar Kayla yang tampak begitu bahagia.


Devan membalik tubuh Kayla menghadapnya dan menggengam kedua tangan Kayla lembut."Sayang...harusnya Mas yang berterima kasih sudah mau menjadikan Mas suami kamu",Devan membawa Kayla dalam dekapannya dan mengecup lembut puncak kepala Kayla.Entah kenapa Kayla merasa sangat nyaman dalam pelukan Devan.


"Tapi aku banyak kekurangan Mas",keluh Kayla yang masih merasa tidak pantas untuk sang suami.

__ADS_1


"Sayangnya Mas...kamu dengar baik baiknya kamu dan Mas itu punya kekurangan bukan berarti kekurangan itu membuat kamu minder tapi kita saling melengkapi kekurangan itu sayang",ucap Devan bijak membangun rasa kepercayaan diri istrinya.


"Makasih ya Mas...kalau Kayla salah tolong ditegur ya!",ucap Kayla melerai pelukannya.


"Iya sayang kamu juga ya...kalau Mas salah tolong diingatkan.Ok",ujar Devan mengecup hangat kening sang istri.


"Turun yuk...kamu pasti lapar kan?",ajak Devan kembali membopong tubuh sang istri lalu mendudukkan pelan diatas ranjang.


"Mas...aku makan disini aja boleh?aku malu sama Nenek karena-


Devan yang mengerti kalau sang istri pasti malu karena cara berjalan sang istri yang masih sedikit aneh.Devan mengangguk pelan lalu menelfon maid untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka.


Sementara itu di ruang makan Nenek,Lyra dan Benny serta Erik menikmati makan siang mereka tanpa menunggu pengantin baru turun dari kamar mereka.Karena mereka tau pasti menantu baru dikeluarga ini pasti kelelahan melayani sang suami.


"Kayaknya pengantin baru gak keluar kamar dari sore deh",ujar Lyra yang mengunyah makanannya.


"Sayang kalau sedang makan gak boleh ngomong",tegur Benny lembut mengingatkan sang istri yang mengobrol saat mengunyah makanannya.


"Maaf Mas",cicit Lyra pelan.


"Rik...sekarang tinggal kamu yang belum memberi Nenek cucu menantu",Nenek menatap Erik yang sudah menyelesaikan makan siangnya.


"Nek...aku baru 27tahum dan belum memikirkan pernikahan yang kupikirkan saat ini hanya sat-


"Mengembangkan bisnis",sela Nenek tersenyum kecut karena selalu itu jawaban sang cucu apabila dia menyuruhnya untuk segera menikah.Meski Erik hanya cucu angkatnya yang merupakan anak dari orang kepercayaan Papa Devan yang ikut menjadi korban dalam kecelakaan pesawat bersama kedua orangtua Devan namun Nenek merawatnya bahkan menyayanginya seperti menyayangi Devan dan Lyra.Dan kini ia dipercaya memegang anak cabang dari Wijaya Gruop yang berada di Kalimantan.


Bukan tanpa alasan Erik belum mau menikah ia masih ingin membalas budi kepada keluarga Wijaya yang sudah mau merawatnya dan memberinya status sebagai keluarga Wijaya dan merasakan kasih sayang yang tulus dari Nenek.Saat in ia masih ingin mengembangkan perusahaan milik Wijaya Gruop di Kalimantan.


Keluarga adalah harga mati yang harus ia jaga walau ia hanya anak angkat meski keluarga Devan tak pernah menganggapnya orang lain.Bahkan ia sangat menyayangi Devan sebagian Kakaknya dan juga Lyra yang sudah ia anggap adik kandungnya sendiri.


"Nek...jangan memaksa Kakakku lagi untuk menikah Nek...biarkan dia mengejar impiannya dulu.Kakakku masih terlalu muda untuk berumah tangga",bela Lyra yang tidak mau Kakak kesayangannya terus didesak oleh Nenek untuk menikah.


"God girls...Kakak sangat menyayangimu",ujar Devan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ck dia istriku Rik",kesal Benny yang terbakar api cemburu saat Erik mengatakan sayang pada istrinya.


"Ya...aku tau dan dia adikku",jawab Erik datar.


"Adik angkat jangan kau lupa itu",ketus Benny yang tengah cemburu pada Erik.


Nenek menggeleng melihat cucu menantu dan cucu angkatnya yang tak pernah akur namun masih saling peduli.Nenek menghampiri kepala maid yang menata makanan diatas troli.


"Bi...tolong tambahkan susu untuk menantuku ya!",ujar Nenek saat melihat kepala maid akan mendorong troli makanan yang ia yakini untuk cucu dan menantunya.


"Sudah Nyonya tadi Tuan Devan sudah meminta saya untuk membuat susu untuk Nona muda",jawab kepala maid dan diangguki oleh Nenek.Dia sangat senang Devan begitu memperhatikan gizi makanan untuk sang istri.


Setelah makan siang Erik menghampiri Benny yang tampak sibuk dengan laptop dipangkuannya di dekat kolam renang.Meski hari ini hari libur tapi ia masih mengerjakan pekerjaan yang menumpuk saat ia cuti kemarin.


"Apa aku menganggu?",tanya Erik.


"Ah...tidak.Duduklah Rik!",ujar Benny menyudahi pekerjaannya karena ia bisa melihat kalau ada hal yang ingin dibicarakan oleh Kakak ipar angkatnya ini.


"Aku ingin membahas tentang Lyra...kau jangan lagi salah paham padaku.Aku menyayangi Lyra sudah seperti adik kandungku sendiri",ujar Erik menjelaskan sejujur jujurnya pada Benny.


"Hehe...apa ada jaminannya?kalian saudara angkat bukan?dan isi hati orang siapa yang tahu",jawab Benny menyunggingkan senyumannya.


"Ya...terserah kau saja percaya atau tidak itu hakmu aku sudah menjelaskan.Dan apa yang kau katakan itu benar aku hanya saudara angkat tapi bukan berarti aku bisa menyayangi Lyra lebih dari saudara.Aku tau diri disini ayahku hanya seorang asisten kepercayaan almarhum Tuan Pandu Wijaya dan siapalah kami ini.Tapi sedari kecil aku sudah mengangkat Lyra layaknya adik kandungku sendiri",jawab Erik menepuk pelan pundak Benny dan beranjak dari duduknya.


"Maaf kalau selama ini aku sudah salah menilaimu",ujar Benny membuat Erik menghentikan langkahnya.


"Sudah lama aku maafkan...tolong jaga Lyra untukku.Jangan sekali kali kau menyakitinya atau aku yang akan lebih dahulu kau hadapi sebelum Kak Devan",jawab Erik tanpa menoleh pada Benny.


"Tentu...",jawab Benny tersenyum samar.


Sepasang mata yang melihat perseteruan itu menitikkan air mata.Dia tau maksud kata kata terakhir dari Erik yang membuatnya begitu kagum dengan kelapangan hati pemuda yang sudah patah hati sebelum memulai itu.


"Nenek mendoakan semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang baik untukmu cucuku",batin Nenek menatap punggung tegap Erik yang menghilang dibalik pintu kamarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2