Gadis Idaman Sang Presdir

Gadis Idaman Sang Presdir
#47


__ADS_3

Disebuah ruangan rumah sakit tampak dokter tengah sibuk menyelamatkan nyawa seorang pasien dengan melakukan kejut jantung.Ruangan bernuansa putih itu penuh dengan ketegangan hanya suara monitor yang mendominasi.


Sementara itu diluar ruangan Benny tampak tenang saja walau pikirannya kalut.Setelah menghubungi Devan dengan kondisi Velly yang semakin drop pria dingin itu hanya duduk dengan tenang tanpa beban bahkan senyum sinis tersungging dari bibir tebalnya.


Ya Velly semakin kritis dokter tengah memperjuangkan nyawanya.Wanita itu beberapa jam yang lalu mengalami kejang dan sementara Velly dirawat anaknya diasuh oleh baby sitter yang sudah dipercaya oleh Velly.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dengan wajah sendu membuat Benny segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya Dok?",tanya Benny.


"Mohon maaf Tuan kami sudah berusaha dengan semampu kami tapi Tuhan berkehendak lain,Nyonya Velly sudah meninggal",ucap Dokter yang ikut sedih sementara Benny melotot kaget.Kematian Velly sebenarnya tidak dia inginkan karena ia akan memberikan hukuman dulu pada Velly karena sudah membuat orang yang ia cintai terluka parah.


"Terima kasih Dok",gumam Benny.


Tak lama Devan datang menghampiri Benny yang tampak duduk mematung.Benny belum melihat jenazah Velly karena ia masih belum bisa mengontrol emosinya melihat Velly meski wanita itu kini sudah tak bernyawa.


"Apa yang terjadi dengan wanita itu?",gerutu Devan saat mendudukkan diri tepat disebelah Benny.Dia kesal gara gara wanita gila ini ia harus meninggalkan sang istri yang belum siuman.


"Dia sudah meninggal",ucap Benny.


"Apa?...jangan bercanda Lo Ben bukannya kata Lo dia tadi drop",jawab Devan dengan tatapan tidak percaya.


"Dokter yang menangani Velly mengatakan kalau dia udah gak ada",ucap Benny memijit pelipisnya.


"Ck...hukuman ini terlalu mudah untuknya harusnya ia menerima pembalasan dulu dari gue yang sudah menyakiti adik gue",desis dengan mengepalkan kedua tangannya dan rahang yang mengeras.


"Lo urus jenazahnya gue mau balik ke kamar Kayla dulu dia tadi pingsan.Oh ya Lyra sudah selesai dioperasi dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP nomor 2305",ucap Devan menepuk pelan pundak Benny dan diangguki oleh Benny.


"Gue sudah telfon keluarga Velly mereka yang akan mengurusnya nanti,gue mau menemui Lyra dulu",ucap Benny.


"Lo udah mastiin kalau tubuh cewek sudah meninggal",tanya Devan tiba tiba membuat Benny segera sadar kalau ia belum memastikan kematian Velly.


"Belum...gue akan cek Lo temui istri Lo sana!,Lyra urusan gue",usir Benny.

__ADS_1


"Ok...oh ya Lo jaga batasan Lo sama adik gue dia bukan lagi istri Lo",Devan memperingatkan Benny sebelum pergi.


"Gue masih talak satu sama dia dengan berhubungan suami istri saja gue udah bisa hapus tu talak apa lagi gue belum melayangkan gugatan ke pengadilan", sindir Benny.Dia memang belum melayangkan gugatan cerai karena dia sangat sibuk dengan pekerjaan lalu dia harus dihadapkan dengan keadaan sekarang.


"Awas aja Lo macam macam sama Lyra",ancam Devan yang mulai melangkah meninggalkan Benny.


"Ck... posesif banget Lo",sungut Benny yang menatap kepergian sahabatnya itu.


Dan sementara itu disalah satu ruangan seorang wanita tampak masih tenang dalam tidurnya.Ia seakan enggan untuk membuka matanya.


Seorang suster tengah menemaninya sesekali suster itu mengecek botol infus dan denyut nadinya dipergelangan tangan.


"Apakah istri saya sudah sadar,Sus?",tanya Devan yang membuat suster itu terlonjak kaget sayang sedang fokus memeriksa denyut nadi Kayla.


"Belum Tuan mungkin sebentar lagi",jawab Suster itu sedikit menunduk.


"Baiklah tinggalkan saya kami berdua dan terimakasih sudah menemani istri saya",ucap Devan dengan wajah datarnya dan diangguki oleh suster itu.


"Pulas banget tidurnya sayang?kamu gak mau bangun buat lihat suami kamu ini,hum?",bisik Devan lalu mencium punggung tangan Kayla lembut.


"Sayang...kamu gak mau bangun?Lyra sudah selesai operasi dan telah dipindahkan ke ruang perawatan.Dia sama kayak kamu tidur pulas",ucap Devan lagi dan kini mengelus rambut panjang sang istri.


Merasakan ada yang memanggil namanya Kayla perlahan membuka matanya pelan.Dengan samar samar ia melihat senyuman sang suami yang begitu menawan.


"Sudah boboknya sayang,hum?",bisik Devan mengecup puncak kepala sang istri.


"Mas...",lirih Kayla dengan suara pelan.


"Iya sayang...ada yang sakit?bilang sama Mas",tanya Devan dengan raut wajah khawatir.


Kayla menggeleng pelan lalu tersenyum kecil."Lyra...Mas",gumam Kayla.


"Lyra baik baik saja sayang ia beberapa jam yang lalu sudah selesai dioperasi dan dan dia sudah melewati masa kritisnya.Mungkin akan menunggu waktu beberapa jam untuk dia sadar",ucap Devan menjelaskan keadaan sang adik pada Kayla yang tampak khawatir dengan iparnya itu.

__ADS_1


"Sayang...maafin Mas ya gara gara Mas abaikan kamu sekarang istri Mas ini harus terbaring disini",ucap Devan lagi.


"Gak Mas...kamu gak salah akunya saja yang tidak kuat lihat darah",balas Kayla menggeleng pelan menandakan suaminya itu tidak bersalah.


"Ya sudah kamu mau minum atau makan, mungkin?",tanya Devan yang tengah mengelus perut rata sang istri.Entah kenapa semenjak tau sang istri hamil Devan lebih suka mengelus perut istrinya itu.


"Gak Mas...aku gak lapar, sekarang akuau lihat Lyra Mas",rengek Kayla.


"Kamu harus makan dulu sayang setidaknya kamu makan untuk anak kita.Dia pasti kelaparan",ucap Devan.


"Tapi Mas...


"Setelah makan kita lihat Lyra, bagaimana?",bujuk Devan dan diangguki oleh Kayla.


Devan meraih bubur yang ada diatas nakas lalu menyuapi sang istri dengan telaten.Setelah selesai Devan membawa Kayla menuju ruang rawat sang adik dengan Kayla memakai kursi roda.


Setelah sampai nampak Benny duduk mematung dikursi tunggu diluar ruangan Lyra.Pria itu nampak melamun dengan tatapan kosong.


Kayla menatap Devan seolah bertanya ada apa dengan Benny dan Devan hanya mengedikkan bahu menandakan dia juga tidak tau.


"Mas...bagaimana keadaan Lyra",tanya Kayla membuyarkan lamunan Benny.


"Oh...Lyra belum sadar Key",ucap Benny lesuh.


"Nenek mana Ben?",tanya Benny.


"Nenek gue suruh pulang untuk istirahat kasihan beliau belum tidur semenjak kemarin",ucap Benny sendu.


Tak lama terdengar gemuruh dari langkah para tim dokter dan perawat mengahampiri mereka lalu masuk ke ruang rawat Lyra.Benny dan Devan serta Kayla tampak terkejut dan berusaha menghentikan salah satu suster namun tak ada jawaban hanya wajah panik dan senyuman tipis yang suster itu berikan.


"Mas...Lyra kenapa",tanya Kayla dengan mata berkaca-kaca.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2