Ghost Of Thusilent

Ghost Of Thusilent
S2. [Chapter 27 ] : Amarah


__ADS_3

Riziel langsung segera parkir di depan toko bahan bahan kue yang di butuhkan untuk membuatnya di rumah sendiri karena ibu Sakura yang sedang ingin membuat karena jarang sekali merasakan kue buatan ibunya sendiri.


"Riziel tunggulah disini dan aku yang akan membeli bahan bahannya ya?” Sakura yang langsung mengambil kertas berisi bahan-bahan yang di butuhkan.


"Iya jangan terlalu lama” Riziel yang langsung bersandar pada motornya sendiri.


"Oke bye-bye” Sakura yang langsung masuk ke dalam toko.


Setelah 15 menit menunggu Sakura membeli bahan-bahan akhirnya selesai dan keluar dari dalam toko bahan-bahan kue dengan barang bawaan yang terlihat sangat banyak.


"Apa membuatmu menunggu lama Riziel?” Sakura yang langsung berjalan mendekati Riziel.


"Lumayan tapi tidak masalah” Riziel yang langsung menyimpan kembali handphone.


"Sekarang mau pergi ke kantor polisi?” Sakura yang langsung menyimpan bahan bahan kue di motor.


"Huh iya boleh saja” Riziel yang langsung menyalakan motornya.


"Baik” Sakura langsung mengeluarkan uang untuk membayar uang parkir.


Selesai menyalakan motor langsung pergi menuju Kantor polisi sambil berharap bisa membantu kondisi ayahnya sendiri dengan Riziel sengaja membawa lencana yang di berikan oleh Polisi yang sebelumnya di berikan saat di belikan baju seragam baru.


"Riziel jika sudah mendapatkan alamat orangtua ayahmu apa yang kau akan lakukan selanjutnya?” Sakura yang langsung bertanya kepada Riziel.


"Ya ikut dengan ayahku karena yang pasti adik dari ayahku itu mempunyai niat jahat jika tiba-tiba tau ayahku sampai disana” Riziel yang langsung mengatakan kepada Sakura.


"Kau tau Riziel sejak dulu aku lahir di perkampungan di rawat oleh nenek, kakekku dari ibuku lalu nenek, kakek mengajarkanku banyak hal hidup dan mengajarkan cara bermain Piano lalu setelah aku ikut pergi bersama ayahku aku baru mengetahui kenapa kakek, nenek pernah menceritakan bahwa hidup sangat sulit di jalani jadi harus kuat menghadapinya dan aku menemukan orang seperti perkataan nenek yaitu dirimu Riziel aku senang bisa mengenal dirimu” Sakura yang tersenyum bahagia.


"Pantas saja dari awal aku kenal seperti bukan orang kota asli melainkan perkampungan wajar jika dirimu bisa tumbuh menjadi Gadis cantik seperti sekarang” Riziel yang sebenarnya tidak ingin mengetahui masa lalu tentang Sakura.


"Terima kasih pujiannya lalu apa Riziel pernah bertemu dengan nenek, kakek dari ayah atau ibumu?” Sakura yang sangat penasaran tentang keluarga Riziel.


"Aku membenci saudara ayah maupun ibuku karena mereka semua sudah tergila-gila oleh yang namanya uang hingga keluargaku yang harus menanggung bebannya” Riziel yang mengingatkan kembali merasa kesal dan marah.


"Kenapa begitu? Riziel mau kan menceritakan padaku?” Sakura yang sangat ingin mengenal Riziel lebih dalam.


"Aku pernah bertemu dengan orangtua dari ibu 8 tahun lalu sebelum meninggalnya kakekku sendiri dan nenek menghilang di bawa pergi oleh kakak dari ibuku ke suatu tempat dan masalah datang kematian kakek kakak ibuku menyalahkan semuanya pada ibu yang mengirim uang untuk mengobati penyakit kakek” Riziel yang sangat kesal hingga Riziel menggigit lidahnya tidak terlalu keras.


"Maaf aku telah memaksamu cerita tentang masa lalu keluargamu yang sangat buruk Riziel tapi menurutku keluargamu sangat baik di bandingkan beberapa teman yang aku kenal tidak sebaik keluargamu Riziel” Sakura langsung mengakui keluarga Riziel sangat baik.


"Heh tidak masalah semua orang sering mengataiku jahat tapi baru pertama kali mendengar ada yang bilang keluargaku baik dan aku mulai aku akan merebut semua yang telah membuat keluargaku menanggung beban lalu membuat mereka semua merasakan karma dari mempermainkanku akan aku tunjukkan perasaan ketakutan dalam neraka” Riziel yang tersenyum sedikit kejam.


"Huh sudahlah jangan banyak bicara! Cepat selesaikan urusanmu Riziel lalu kembali ke rumah” Sakura dengan malas mendengar perkataan Riziel terakhir kali.


"Iya iya aku tau dan sebaiknya pegangan karena aku akan menaikkan kecepatan” Riziel langsung memberitahukan kepada Sakura.


Tidak terlalu lama dalam perjalanan akhirnya sampai di depan Kantor Polisi yang tidak terlalu banyak orang di dalam sana lalu Riziel langsung parkir dan masuk ke dalam untuk meminta bantuan.


"Riziel kau yakin bisa meminta bantuan untuk menemukan orangtua ayahmu?” Sakura yang gugup masuk ke dalam Kantor Polisi.


"Mencoba apa salahnya dari pada tidak mencoba sama sekali” Riziel yang selesai memarkirkan motor langsung berjalan masuk ke dalam Kantor Polisi.


"Eh tunggu aku dong Riziel” Sakura langsung mengejar Riziel lalu menggapai tangan Riziel.


"Maaf” Riziel yang langsung berjalan sedikit santai tidak buru-buru.


Lalu setelah masuk ke dalam Kantor Polisi untuk meminta bantuan melacak nomor handphone dari handphone milik ibunya.


"Anak muda sepertimu ada apa datang kemari?” Tanya Polisi yang sedang diam di atas kursi.


"Saya ingin meminta bantuan melacak nomor handphone saudara ayahku” Riziel langsung mengeluarkan handphone milik ibunya sendiri di simpan di atas meja.


"Lalu apa masalahnya? Kenapa ingin melacaknya katakan” Tanya Polisi tersebut kepada Riziel.


"Adik ayahku sudah menyembunyikan keberadaan orangtua ayahku lalu sekarang memanfaatkan keluargaku untuk mengirim uang agar bisa mendengar kabarnya saja jadi aku ingin mendapatkan keberadaannya sekarang!” Riziel yang amarahnya tidak bisa di tahan lagi.


"Itu adalah hal sulit bagaimana jika adik dari ayahmu mengganti nomor handphone dan sebaiknya pulang lalu bawa kembali handphone mil---”


"Ha! Kau ingin mati! Menyuruhku pulang begitu saja setelah keluargaku sulit dan diriku sebagai anak hanya diam, memperhatikan! Jawab!” Riziel langsung menarik baju Polisi di hadapannya dengan keras sambil mengeluarkan Lencana yang di berikan sebelumnnya.


"Sial beraninya bocah sepertimu bertindak kurang ajar sudah bosan hidup!” Polisi tersebut masih belum melihat Lencana yang Riziel keluarkan.


"Jika kau bilang diriku sudah bosan hidup jawabannya iya sudah sejak dulu! dan orang sepertimu tidak pernah mengerti hidup semua orang seharusnya sejak dulu mati saja orang sepertimu!!” Riziel langsung melepaskan genggaman tangan pada baju Polisi tersebut.


Lalu polisi yang ada di dalam kantor Polisi langsung bertindak memisahkan Riziel dengan Polisi yang tidak menghargai bantuan Riziel.


"Riziel sudahlah ayo pergi saja” Sakura langsung mencoba meredam amarah Riziel.


Lalu secara bersamaan ada seorang Polisi yang sebelumnya datang ke rumah Riziel dan melihat di meja ada Lencana yang di berikannya kepada Riziel sebelumnya.


"Semuanya tetap tenang dan kembali ke tempat masing-masing lalu bawa mereka berdua ke dalam ruanganku terakhir untukmu hargai yang meminta bantuan atau kau akan tau akibatnya” Atasan kepolisian langsung pergi sambil membawa Lencana, Handphone yang Riziel bawa milik Ibunya.


"Riziel ini akan baik-baik saja kan?” Sakura yang mulai merasa gugup.


"...” Riziel yang tidak bicara hanya lengannya bergerak menggenggam tangan Sakura agar Sakura diam.

__ADS_1


Lalu Riziel bersama Sakura langsung di bawa ke ruangan Pribadi bersantai sendiri.


"Silahkan duduk tadinya saya mau datang ke rumah anda Riziel tapi anda datang dahulu kesini” Polisi itu langsung duduk di atas kursi sambil menyimpan Lencana dan Handphone yang Riziel bawa.


"Ehh Riziel orang ini mengenal dirimu?” Sakura yang benar-benar tidak menyangka.


"Iya” Riziel yang masih merasa kesal.


"Tadi saya dengar anda punya masalah dengan orangtua ayahmu di sembunyikan oleh adiknya di suatu tempat?” Tanya Polisi tersebut kepada Riziel.


"Tunggu apa aku boleh tau siapa nama anda? Lalu kenapa anda mencari Riziel?” Sakura yang memberanikan bertanya.


"Namaku Brady Sang atasan kepolisian dan anda sangat dekat dengannya apakah sudah mendengar cerita darinya tentang pembunuhan anak-anak atau penjualan organ tubuh manusia di jual secara ilegal?” Pak Brady langsung mencoba mengingatkan kembali kepada Sakura.


"Ehh aku kira itu bohong” Sakura yang mencoba pura-pura tidak tau karena sudah melihat asli roh astral asli di surga sebelumnya bersama Riziel.


"Itu kenyataan dan saya cukup terkejut dengan kemampuan bertarung tangan kosong dengan banyak orang hingga semuanya habis babak belur olehnya dan saya juga yang memberikan Lencana ini berguna untuknya meminta bantuan lalu tidak sembarangan orang bisa mendapatkan Lencana ini” Pak Brady langsung menunjukan Lencana yang di simpan di atas meja.


"Lalu jika hanya sedikit orang yang bisa mendapatkan lencana seperti itu polisi yang di depan itu tidak menghargai bantuan dari seseorang yang dalam kesusahan meskipun hanya melacak keberadaan saja? Dan apa alasan memberikan lencana itu pada Riziel?” Sakura yang melihat Riziel yang masih tidak mau bicara.


"Ya saya sudah mengetahuinya bahwa semua orang yang berada di kantor polisi ini sudah malas mengurusi masalah lagi meskipun itu adalah kewajibannya namun alasanku memberikan Lencana ini padanya saat melihatnya melihat banyak masalah kehidupan dirinya yang sangat membebani hidupnya sendiri” Pak Brady bicara kepada Sakura.


"Begitu ya” Sakura cukup senang ada yang peduli selain dirinya sendiri.


"Baiklah jadi apakah ini nomor yang membuat orangtua dari ayahmu di sembunyikan oleh adik ayahmu?” Pak Brady langsung membuka handphone Ibu Riziel yang tidak di kunci melihat kontak telepon masuk hanya satu nomor.


"Iya bisakah bantu menemukannya?” Riziel yang langsung memohon kepada Pak Brady.


"Saya akan usahakan namun ini akan memakan waktu cukup lama dan semoga saja nomor handphone ini tidak di buang lalu ikuti saya untuk melacaknya” Pak Brady langsung mengajak ke suatu tempat.


Tidak lama berjalan lalu sampai di tempat terdapat 1 komputer milik kantor Polisi yang biasanya di pakai untuk melacak keberadaan seseorang yang di culik ataupun seperti kasus Riziel.


Lalu handphone ibu Riziel langsung di pakaikan sebuah kabel penghubung antara handphone dan komputer kepolisian.


"Pertama coba telepon kembali untuk memastikan nomornya aktif dengan keberadaannya bisa di ketahui cobalah telepon” Pak Brady langsung memberikan handphone Ibunya kepada Riziel.


Tut! Tut! Tut!


Suara telepon yang masih belum di angkat dan setelah beberapa detik telepon di angkat oleh suara Pria dewasa yang sepertinya adik ayah.


"Kak kapan mengirim uang aku sudah tidak mempunyai uang untuk mengurus orangtua menyusahkan ini!” Suara adik ayah yang bicara dengan kasar.


"Iya ini sedang ada rapat mendadak jadi sabar” Riziel yang mencoba menirukan suara ayahnya yang tidak terlalu sulit.


"Coba saja usir atau aku akan hajar habis-habisan jika bertemu” Riziel sambil mengepalkan tangannya hingga berdarah.


"Riziel hentikan tanganmu berdarah” Sakura langsung melihat darah dari tangan Riziel.


"Ambilkan kotak P3K! tenangkan diri dahulu dan saya akan usahakan mencoba melacaknya hingga mendapatkan keberadaannya” Pak Brady langsung memberikan perintah kepada bawahannya untuk mengambil kotak P3K untuk mengobati tangan Riziel.


Setelah kotak P3K sudah di bawa lalu Sakura langsung mengobati tangan Riziel sedangkan Pak Brady langsung mencoba melacak keberadaan orangtua ayah Riziel.


25 menit berlalu Riziel sudah mulai tenang dan Sakura meminjam Handphone Riziel sambil membuka Game Riziel sambil di perhatikan oleh Riziel.


Sedangkan 25 menit yang sudah berlalu Pak Brady berhasil melacak keberadaan orangtua dari ayahnya yang berada di pulau sulawesi selatan lebih tepatnya berada di kota Makassar.


"Benarkah sudah di temukan?” Riziel terdengar cukup senang.


"Iya benar akan saya kirimkan alamatnya tempat tinggal adik ayahmu kepada kontak WhatsApp” Pak Brady langsung mengirimkan alamat sesuai aplikasi maps ke WhatsApp Riziel yang tersimpan di kontak handphone ibunya.


"Terima kasih Pak Brady syukurlah usahaku tidak sia sia” Riziel yang sangat senang bisa membantu meringankan beban kedua orangtuanya.


"Sama sama ini handphonenya lalu alamatnya sudah di kirim ke WhatsApp milikmu sekarang ikuti saya ke penjara ada 1 orang yang ingin bertemu denganmu” Pak Brady langsung memberitahukan pesan seseorang yang ingin bertemu dengan Riziel.


"Baiklah aku akan mendatanginya” Riziel langsung berdiri.


"Aku ikut denganmu” Sakura yang ingin memastikan Riziel tidak menyiksa dirinya sendiri lagi.


Pak Brady langsung menunjukan jalan menuju penjara tahanan yang sendiri dengan ada roh anak kecil yang sudah meninggal.


Lalu tahanan Pria berbadan besar yang tidak salah ingat yang berada 1 ruangan bersama Ezra dan Pria itu langsung di pindahkan tempat dalam keadaan di borgol agar tidak kabur.


"Riziel kau lihat ada sesuatu yang mengikutinya?” Sakura sambil menggenggam tangan Riziel.


"Iya tau” Riziel langsung duduk di tempat pembatas antara tahanan dan pengunjung.


"Kita bertemu lagi bocah dan terima kasih sudah menghentikanku saat itu lalu tidak membunuhku” Pria itu bicara dengan sedikit bersahabat.


"Tidak masalah karena aku tidak mau mengotori tanganku meskipun aku sering mengalami tanganku berdarah namun tidak dengan darah hasil dari membunuh karena sejak kecil aku di benci oleh semua orang dan hanya satu yang percaya padaku adalah Gadis itu” Riziel yang langsung melihat ke arah Sakura.


"Kau sangat baik sama seperti Putri kecilku saat dirimu memukulku hingga pingsan saya melihat bayangan putriku dekat denganmu makanya saya ingin bertemu denganmu karena putriku sangat baik kepada semua orang namun putriku sudah mati karena tertabrak mobil jantungnya berhenti tapi darahnya mirip seperti ibunya dan berbeda denganku”


"Tapi ibunya pergi menghilang hingga sekarang dan kematian anakku membuatku putus asa lalu seseorang mengajakku bisa membangkitkan putriku namun hal itu hanyalah kebohongan” Pria besar itu mulai menangis sambil bayangan di sisinya memeluk ayahnya.


"Kak pinjam tubuh kakak boleh?” Bayangan roh anak kecil memohon kepada Riziel.

__ADS_1


"Iya boleh saja” Riziel langsung bicara ke arah lain.


Lalu roh anak kecil mulai merasuki tubuh Riziel dan tangannya mulai memegang tangan Pria dewasa dengan lembut seperti tangan anak kecil.


"Ayah ini bukan salah ayah” roh anak kecil langsung bicara kepada ayahnya.


"Jaisha maafkan ayah selama ini ayah salah dan ayah sangat merindukanmu nak, jika sejak awal ayahmu tau tentang kecelakaan saat itu ayah tidak akan mengajakmu pulang karena ibumu terus memaksa pulang” Pria dewasa itu menyadarinya bahwa Riziel sudah berubah menjadi anaknya.


"Ayah aku sangat menyayangimu ayah dan hanya ini yang bisa aku katakan untuk terakhir kali untuk ayah ‘jalani hidup ayah inginkan karena aku ingin bebas dari segala penderitaan atau masalah ayah untuk bisa mencapai surga’ jadi jaga diri ayah” Jaisha yang mulai menghilang lenyap.


Dengan cepat Riziel langsung merasuki tubuhnya kembali agar tidak terjatuh karena roh anak kecil yang mulai pergi.


"Jadi pilihlah hidupmu mulai sekarang menjadi lebih baik” Riziel langsung melepaskan tangannya.


"Terima kasih sudah mempertemukanku dengan putriku yang sudah lama dan saya sudah mendapatkan Jawaban yang di inginkan oleh putriku” Pria itu langsung berterimakasih.


Lalu setelah urusan selesai Riziel dengan Sakura langsung kembali sambil tidak lupa membawa handphone milik ibunya dengan Lencana yang di berikan kembali oleh pak Brady kepada Riziel.


Lalu setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya sampai di depan rumah Sakura sambil di sambut oleh Sakira yang sudah menunggu lama.


"Kakak akhirnya kembali aku sangat khawatir pada kakak” Sakira langsung mendekati Riziel.


"Tidak perlu di pikirkan ayo masuk” Riziel langsung membawa barang yang sudah di beli.


"Riziel tanganmu apa masih sakit?” Sakura yang ingin membantu bawa.


"Masih aku belum sempat menyembuhkan lukanya jika ingin membantu membawa nih” Riziel yang langsung menyimpan barang di tangan kiri.


"Iya akan aku bantu” Sakura langsung membantu meringankan barang bawaannya yang berat.


"Ternyata kalian sudah kembali bagaimana berhasil menemukan keberadaan orangtua ayahmu nak Riziel?” Ibu Sakura yang langsung menyapa Riziel baru kembali.


"Sudah dapat tinggal bertanya kepada ayah saja jika nanti sudah pulang dan bagaimana keadaan anda?” Riziel yang langsung menyimpan bahan-bahan di atas sofa karena berat.


"Baik-baik saja bagaimana buat bersama-sama pasti hasilnya berbeda beda mau gak nih?” Ibu Sakura yang langsung mengajak anak-anak di hadapannya.


"Aku ikut” Sakura langsung setuju.


"Hm ikut deh” Sakira yang benar-benar tertarik ingin mencoba.


"Iya aku ikut” Riziel yang tidak punya pilihan lain.


Mereka bertiga mencoba kue kukus dari buatan masing-masing dan semuanya berjalan lancar sambil memperhatikan satu sama lain.


Riziel yang berjalan lancar membuat kue kukus tanpa kotor dari bahan yang sudah di siapkan oleh Ibu Sakura sedangkan adik Riziel bersama Sakura kotor oleh tepung terigu yang berantakan.


Setelah semua selesai membuat Kue kukus Riziel 5, Sakira 2 dan sakura 4 dan semuanya langsung di kukus selama beberapa jam.


"Riziel curang sudah bisa membuatnya lihat tidak kotor sama sekali serang Riziel pakai terigu untuk mengotori wajahnya” Sakura mengajak Sakira untuk bermain dengan Riziel selagi ibunya tidak ada sedang ke kamar mandi.


"Iya benar tangkap kakak” Sakira yang setuju.


"Arg jangan lakukan” Riziel yang benar-benar terjebak sudah ada Sakira yang langsung menangkap kakinya.


Riziel yang langsung terjatuh di tahan oleh Sakira dan Sakura dengan sengaja langsung mengotori wajah Riziel menggunakan terigu sisa sedikit.


"Akan aku balas kalian berdua!” Riziel langsung membalasnya kepada adiknya bersama Riziel.


Riziel langsung menangkap masing-masing satu tangan Sakura dan Sakira lalu Riziel langsung kedua tangan penuh dengan Terigu langsung mengotori wajah Sakura dan Sakira.


Bersamaan dengan Riziel berhasil balas dendam Ibu sakura baru saja selesai dari kamar mandi melihat lantai penuh dengan Terigu dan melihat 3 anak-anak bermain terigu seperti anak kecil.


"Astaga kalian bertiga ini bereskan semuanya yang berantakan!” Ibu Sakura yang terlihat kesal dan marah.


"Ini gara gara mereka berdua” Riziel langsung menunjukan kepada Adiknya dan Sakura.


"Habisnya Riziel curang seperti sudah pernah membuat sendiri dan rapih dalam membua kue kukusnya” Sakura langsung mengalahkan kembali kepada Riziel.


"Sudah bersihkan wajah kalian di kamar mandi” Ibu sakura yang tidak bisa menahan tawanya melihat sikap anak-anak dalam membuat kue.


Setelah semuanya selesai mencuci muka dan tangannya meskipun ada bekas tepung terigu di pakaian Riziel bersama Sakira yang terlihat kotor.


"Riziel pakaianmu terlihat kotor oleh tepung terigu yang sebelumnya karenaku maafkan aku” Sakura yang minta maaf kepada Riziel.


"Tidak perlu di pikirkan tentang bajuku kotor asalkan dirimu senang hari ini” Riziel yang langsung mengusap kepala Sakura.


"Bagaimana dengan adikmu? atau nanti pulang di marahi oleh orangtuamu?” Sakura yang baru saja menyesali perbuatannya.


"Gampang kak tinggal jelaskan pada ayah, ibu pasti tidak akan marah hehe” Sakira yang langsung menjawab perkataan Sakura yang merasa bersalah.


"Tuh dengar jadi gak apa-apa” Riziel kembali bicara.


"Iya” Sakura sambil memasang wajah masih merasa menyesal.


Lalu Riziel langsung mengeluarkan handphone sendirinya untuk menonton sesuatu sambil menunggu kue kukus matang.

__ADS_1


__ADS_2