
Setelah menunggu hampir 30 menit untuk kue kukus yang yang sudah di buat oleh Riziel, Sakura dan Sakira sendiri.
"Oh ya Riziel apa pernah punya pacar selain diriku?” Sakura yang ingin tau lebih banyak tentang Riziel.
"Huh belum pernah aku sering di katakan aneh hingga banyak orang tidak menyukaiku” Riziel langsung menyimpan handphone karena baterainya sudah hampir habis.
"Benarkah ibumu pernah bicara padaku bahwa Riziel pernah membawa teman Gadis sepertiku ke rumahmu?” Sakura mencoba memastikan perkataan Ibu Riziel.
"Iya tapi dia bukan siapa-siapa diriku” Riziel yang sebenarnya malas mengatakan tapi apa boleh buat Sakura selalu penasaran.
"Iya deh aku mengerti” Sakura yang melihat Riziel sudah tidak mau mengatakan apapun lagi.
Ibu Sakura yang melihat sikap putrinya yang sangat akrab dengan Riziel yang terlihat cuek dan dingin kepada seseorang di dekatnya.
"Ini sudah waktunya mengeluarkan kue buatan kalian sepertinya sudah matang” Ibu Sakura langsung mengatakan kepada anak-anak yang sedang mengobrol.
"Ah biar aku bantu bu mengambilnya” Sakura langsung pergi membantu ibunya mengambil kue dalam oven.
Setelah Sakura bersama ibunya langsung mengambil kue mangkuk yang sudah di kukus selama setengah jam lalu menyimpannya di atas meja selagi hangat.
Setelah di simpan di atas meja kue kukus selagi hangat dengan bermacam bentuk yang rapih dan kurang rapih.
"Ah sudah matang” Sakira yang sangat menyukai kue sejak dulu.
"Cobalah yang kamu inginkan” Riziel langsung mengetahui adiknya sangat menyukai macam macam kue.
Lalu Sakura dan Sakira langsung mengambil masing-masing 1 buah Kue kukus buatannya sendiri.
"Uh terlalu manis” Sakura dan Sakira mengeluh bersama.
"Itu belarti kalian terlalu banyak memasukkan susu dan gula putih” Ibu Sakura langsung mengambil satu yang milik Riziel.
"Eh benarkah bu?” Sakura yang beluk terlalu mengerti tentang membuat kue.
"Iya karena susu itu jika terlalu banyak akan merasa hasilnya manis” Ibu Sakura langsung memakan kue kukus di atas meja.
"Riziel kamu tidak akan merasakan kue buatanmu sendiri?” Sakura yang melihat Riziel hanya diam.
"Iya mau hanya ingin liat reaksi kalian berdua merasakan buatan kalian sendiri” Riziel langsung mengambil satu kue kukus.
"Huh Riziel curang” Sakura langsung mengambil kue kukus yang Riziel ambil.
"Heh lupakan” Riziel langsung mengambil lagi kue kukus buatannya sendiri.
"Bagaimana tentang orangtua dari ayahmu berada di mana nak Riziel?” Ibu Sakura sambil mencicipi kue kukus buatan Riziel yang lumayan enak.
"Ya ada di pulau Sulawesi Selatan kota Makassar cukup jauh” Riziel yang harus memesan tiket pesawat.
"Kalau begitu harus naik pesawat dan kapan akan kesana membawa orangtua ayahmu?” Ibu Sakura yang sangat merasa senang.
"Itu secepatnya karena adik ayahku sebelumnya aku telepon tidak segan membuang orangtuanya karena selalu menyusahkannya dan tolong sampaikan pada suami anda untuk memberikan libur beberapa hari meskipun sekarang sedang ada proyek besar” Riziel yang langsung berdiri dan memohon kepada Ibu Sakura untuk menyampaikan pesan Riziel.
"Tidak perlu meminta tolong untuk menyampaikannya anggap saja ini balas budi sudah menjaga keluargaku selama ini sejak kiamat sebelumnya” Ibu Sakura yang langsung menepuk pundak Riziel sambil menyuruhnya duduk kembali.
"Terimakasih banyak” Riziel langsung memalingkan wajahnya.
"Riziel bagaimana kamu membuat kue kukus dengan bagus dan rasanya enak?” Sakura cukup menyukai kue kukus buatan Riziel yang cukup enak.
"Entahlah aku hanya mengikuti yang pernah ibuku sering di buat di rumah” Riziel yang langsung memberitahukan kepada Sakura.
"Pantas saja bisa membuat kue kukus dengan bersih dan rapih” Sakura yang merasa iri Riziel bisa melakukan apapun.
"Iya benar kue kukus buatan kakak sangat enak sekali hampir sama enaknya seperti buatan ibu kak” Sakira juga sangat menyukai kue buatan Riziel.
"Bagaimana jika membuat lagi bersama sambil saya bantu sekalian berbagi kepada orangtua kalian?” Ibu Sakura yang melihat kue kukus yang sudah tersisa 2 buah kue kukus.
"Apa anda akan baik-baik saja?” Riziel yang tidak mau terlalu membebani.
"Baik-baik saja jadi keputusannya mau tidak?” Ibu Sakura ingin mengetahui keputusan Riziel dengan adiknya.
"Baiklah jika anda tidak keberatan aku setuju saja” Riziel yang langsung memberitahukan keputusannya.
Lalu semua yang berada di rumah Sakura cukup besar sedang mulai sibuk membuat kue bersama-sama hingga tidak terasa hari sudah mulai sore.
"Riziel tau tidak tempat kerjaku yang dulu?” Sakura yang langsung bicara kepada Riziel.
"Hm tau memangnya ada apa?” Riziel yang menanggapinya tidak terlalu peduli.
"Saat itu aku sengaja mencari informasi karena aku tidak ada panggilan kerja lagi ternyata tempat kerja part-time itu sudah tutup padahal aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu hmph” Sakura yang merasa kesal.
"Pastinya Putriku ingin membeli Piano untuk di rumah” Seseorang yang baru saja datang membuka pintu.
"Ayah sudah pulang dan cobalah kue kukus buatanku” Sakura langsung mengambil kue kukus baru saja matang lalu mendekati ayahnya untuk memberikannya.
"Terima kasih Putriku” Pak Ridwan yang langsung menerimanya dengan cukup senang.
"Jika ingin membeli Piano akan aku bantu karena harganya sangat mahal” Riziel yang langsung angkat bicara.
"Ehh, ti-tidak perlu bantu aku membelinya” Sakura cukup terkejut dengan perkataan Riziel.
"Terserah saja” Riziel yang mengetahui Sakura sangat ingin.
"Ada nak Riziel maafkan saya tidak menyadarinya” Pak Ridwan langsung meminta maaf.
"Tidak perlu minta maaf dan aku dengar dari ibuku sendiri katanya bapak sedang ada proyek besar ya?” Riziel yang mencoba memberanikan diri untuk bicara langsung.
"Iya benar dan apa yang ingin kamu katakan padaku?” Pak Ridwan yang sudah menebak dari wajah Riziel yang ingin menanyakan sesuatu.
__ADS_1
"Itu bolehkah besok ayahku libur dahulu untuk beberapa hari?” Riziel yang benar-benar gugup.
"Boleh saja tapi katakan alasan untuk membiarkan ayahmu cuti beberapa hari?” Pak Ridwan yang ingin tau alasannya.
"Itu aku mendapatkan informasi keberadaan orangtua ayah dan aku ingin cepat membawa kembali orangtua ayah sebelum di usir dari rumah oleh adik ayahku” Riziel yang langsung mengatakan dengan berani.
"Iya ayah tolong bantu Riziel” Sakura langsung memohon kepada ayahnya sendiri.
"Hm saya perbolehkan dan anggap saja ini balas budi sudah menjaga Putriku selama ini” Pak Ridwan sambil menepuk pundak Riziel.
"Baik” Riziel dengan cukup senang.
"Lalu kue kukus ini sangat enak Terima kasih sudah memberikannya pada ayahmu ini” Pak Ridwan langsung memuji Sakura.
"Hehe pengen aja ayah merasakannya karena pasti ayah pasti lelah kerja” Sakura langsung tersenyum kepada ayahnya.
"Nak bukannya ada PR yang katanya sulit mungkin Riziel bisa membantu mengerjakan tugasmu” Ibu Sakura yang langsung mengingatkan kepada Sakura.
"Ah maaf aku lupa hehe” Sakura yang merasa malu padahal tadi pagi mengerjakan tugas namun hanya sebentar.
"Tugas apa memangnya?” Riziel yang langsung bertanya.
"Uh itu pelajaran kimia tentang rumus penurunan tekanan uap dan tekanan osmotik aku pusing bantu aku ya?” Sakura langsung berjalan mendekati Riziel sambil memohon untuk membantunya.
"Hm Sakira tidak keberatan jika menunggu lebih lama?” Riziel langsung bertanya kepada adiknya.
"Iya gak apa-apa kak” Sakira langsung senang makan kue kukus.
"Ok semoga saja aku bisa membantu mengerjakan tugasmu dan boleh pinjam charger untuk handphone ibuku sudah mulai habis baterai?” Riziel yang langsung ingin meminjam charger kepada Sakura.
"Baiklah tunggu sebentar aku mengecek handphoneku sudah penuh atau belum jika sudah aku akan beri pinjam sekalian mengambil buku PR di kamar” Sakura langsung pergi menuju kamarnya sendiri.
"Jangan habiskan semua dan nih handphone kakak” Riziel langsung memberikan handphonenya kepada Sakira.
"Tidak akan kak di habiskan dan aku boleh pakai handphone milik kakak?” Sakira sambil menerima handphone milik Riziel.
"Iya asalkan jangan buka aplikasi tidak perlu” Riziel langsung memberitahukan kepada Sakira.
"Iya kak” Sakira langsung membuka aplikasi game yang selalu di mainkan du handphone Riziel.
"Kalau begitu saya istirahat dahulu dan terima kasih sudah mau menemani Putriku hari ini di rumah” pak Ridwan langsung berdiri dari sofa lalu pergi beristirahat di dalam kamar.
"Iya” Riziel yang menunggu Sakura kembali.
Lalu Sakura kembali sambil membawa alat tulis, buku pelajaran Kimia dan charger yang Riziel ingin pinjam.
"Maaf lama Riziel dan ini charger yang kau ingin pinjam” Sakura langsung menyimpan buku tulis, alat tulis di atas meja sambil memberikan charger kepada Riziel.
"Santai saja lalu terima kasih sudah ingin meminjamkan charger milikmu” Riziel yang hanya bisa berterimakasih kepada Sakura.
Riziel yang sedang fokus membantu Sakura mengerjakan tugasnya sedangkan Sakura yang senang memperhatikan Riziel mengajarkannya lalu Sakura langsung mengambil kue kukus 2 buah.
"Riziel buka mulutmu sekarang! Kamu belum makan cukup banyak nanti pulang malah kelaparan” Sakura sambil ingin menyuapi Riziel.
"Tch aku bukan anak kecil dan lihat ada ibumu bersama adikku yang memperhatikan tau!” Riziel yang tidak ingin membuka mulutnya.
"Cobalah 1 kali gigit saja” Sakura entah memikirkan tentang apa memaksa Riziel mencobanya.
"Hm iya iya” Riziel yang hanya bisa menurutinya saja.
Ibu Sakura yang melihat putrinya yang untuk pertama kalinya memaksa seseorang yang dekat dengannya untuk mencoba yang sudah di buatnya.
Ibu Sakura hanya bisa menyembunyikan perasaan bahagia putrinya bisa bersama seseorang yang membuatnya bahagia saat bersamanya.
Setelah selesai membantu Sakura mengerjakan tugas dari sekolah akhirnya selesai juga dan jam menunjukkan pukul 18:13 dan Riziel langsung merapikan barang yang berantakan.
"Ini bawalah beberapa kue kukus buatan kalian untuk orangtuamu nak Riziel” Ibu Sakura langsung memberikan bungkusan yang isinya kue kukus yang sudah di siapkan sebelumnnya.
"Iya terima kasih dan Sakura ingat apa yang sudah aku jelaskan cara menyelesaikannya” Riziel yang langsung mengingatkan kepada Sakura sambil mengambil bungkusan dari ibu Sakura.
"Aku sudah mengerti kok dan jika sudah sampai rumah kabari aku” Sakura yang sangat senang adanya Riziel.
"Iya aku tau” Riziel yang langsung pergi ke arah pintu bersama adiknya.
Lalu Riziel menyalakan motor dan segera pulang kerumah karena pasti orangtuanya khawatir kepada kedua anaknya.
"Kak aku mengantuk sekali” Sakira yang sangat mengantuk karena sering tidur lebih cepat.
"Pegangan yang erat saja nanti jika sudah sampai akan kakak bangunkan” Riziel yang langsung melepaskan 1 tangan untuk memegang adiknya agar tidak jatuh.
"Ya kak” Sakira yang langsung memeluk Riziel.
Tidak terlalu lama di perjalanan akhirnya sampai di depan rumah Riziel yang lampunya menyala itu belarti masih ada yang belum tidur.
Riziel langsung menggendong adiknya membawa masuk ke dalam rumah agar cepat istirahat.
"Kalian sudah pulang dan dari mana saja baru pulang jam segini?” Sinta yang langsung meminta penjelasan kepada Riziel.
"Tunggu sebentar bu ada barang yang tertinggal di motor” Riziel yang selesai membuat adiknya tertidur di sofa dahulu lalu Riziel langsung pergi memasukkan motor ke dalam Garasi.
Setelah Riziel memasukkan motor ke dalam garasi lalu setelah selesai Riziel langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkusan kue yang disisakan oleh ibu Sakura.
"Bu ini handphone ibu dan beberapa kue kukus yang di buat di rumah Sakura bersama-sama sebelumnya” Riziel langsung memberikan bungkusan yang isinya kue kukus.
"Makasih nak lalu bagaimana tentang informasi orangtua ayahmu?” Sinta langsung menerima barang yang putranya berikan.
"Sudah bu coba lihat di handphone ibu sendiri” Riziel lalu duduk di sofa kembali.
__ADS_1
Sinta yang langsung mengecek handphonenya sendiri yang baterainya tersisa 65% langsung melihat di aplikasi WhatsApp yang sudah di kirim ke handphone Riziel yang kehabisan baterai.
"Nak ini sungguhan!” Sinta yang tangannya bergetar tidak percaya anaknya bisa membantu meringankan beban pikiran ayahnya.
"Ya bu dan juga aku sudah meminta izin kepada pak Ridwan untuk libur karena saat aku di kantor Polisi dengan menelpon adik ayah bicara 'mengirim uang cepat kalau tidak akan aku di keluarkan dari rumah' jadi secepatnya kesana sebelum terlambat bu” Riziel yang langsung menjelaskan kondisi sebenarnya terjadi.
"Baik ibu akan menjelaskannya kepada ayahmu sepertinya ayahmu belum tidur” Sinta yang benar-benar bahagia Putranya sudah semakin bersikap dewasa.
"Iya, kalau begitu aku akan menggendong Sakira ke kamar dan selamat malam bu” Riziel langsung menggendong Adiknya.
"Selamat malam, tidak akan kerja dahulu?” Sinta yang mencoba mengingatkan kepada Riziel.
"Aku terlalu sibuk hari ini harus mengurus sesuatu masalah bu jadi libur dahulu kerjanya” Riziel yang sudah berjanji tidak boleh berbohong kepada orangtuanya sendiri.
"Yasudah kembalilah dengan aman ibu selalu menunggu di rumah dan jaga dirimu baik-baik” Sinta yang mulai peduli namun lebih peduli di bandingkan dulu.
"Iya bu” Riziel langsung berjalan pergi menuju kamar adiknya sendiri.
Setelah selesai menempatkan Adiknya di atas tempat tidur sambil di selimuti lalu Riziel langsung kembali ke kamar lalu mencharge handphone miliknya sendiri.
Riziel langsung tiduran di atas tempat tidur lalu Riziel langsung melakukan pelepasan jiwa dari wadah tubuh Riziel yang kosong di lindungi oleh energi suci agar tidak ada iblis yang mencoba mengendalikan tubuhnya sendiri.
Riziel dalam wujud astral dengan kain Spiritual yang menutupi wajahnya lalu Riziel langsung membuka kain Spiritual yang menutupi wajahnya dan segera pergi keluar untuk mencari informasi terkait rencana kebangkitan Ezra sebelum terlambat.
"Huh baru saja lepas dari tubuhku sekarang sudah banyak sekali yang menyambutku, dasar Roh jahat!” Riziel dengan cepat mengeluarkan senjatanya yaitu Twins Crescent.
Grroaarrhh!
Suara yang berasal dari arah kiri Riziel secara tiba-tiba langsung menyerang semua monster yang terbuat dari emosi manusia sendiri.
"Suara itu sepertinya Familiar apakah itu Aiko?”
"Ah masa bodoh urus dahulu yang ada di hadapanku dahulu” Riziel langsung menebas setiap Roh tanpa ragu sedikitpun.
"Lahap..di..hadapanku!!” Roh yang sudah Riziel tebas ternyata masih hidup.
"Apa ini!, Semua menempel pada senjataku bersama tubuhku juga!” Riziel yang benar-benar tidak bisa melepaskan diri.
Lalu Riziel langsung melapisi tubuhnya dengan api sucinya menyelimutinya untuk berusaha melepaskan diri.
"Sial*n!, Musnahlah!” Riziel yang langsung membiarkan api suci lebih membara.
Blarr!
Api suci yang berhasil membakar Roh jahat yang tercipta oleh emosi manusia hingga lenyap lalu Riziel terpikir apa yang sebenarnya di inginkan oleh Ezra.
"Fiuh sebenarnya apa yang baru saja kau ciptakan Ezra?” Riziel yang benar-benar harus secepatnya menyelesaikannya.
Riziel langsung menebas sambil di selimuti oleh api suci ke senjata Twins Crescent milik Riziel.
Setelah selesai mengurus para Roh yang menyergapnya lalu pergi mencari asal dari mana Roh tersebut di kendalikan.
"Riziel..tolong..nenek..di..sini..gelap”
"Siapa disana!, Tunjukan diri!” Riziel yang tidak bisa membedakan suara neneknya dengan suara Roh yang sebelumnya karena bisa menyerupai suaranya.
Lalu muncul sosok Roh bercahaya di hadapan Riziel hanya sekejap langsung menghilang kembali.
"Itu nenek!, Kemana nenek pergi?” Riziel langsung melesat pergi mencari Cahaya yang melewatinya.
"Riziel.. jagalah..dirimu” Suara yang kemudian terdengar sekejap lalu menghilang tidak terdengar lagi.
"Riziel tetap tenang itu hanyalah imajinasi saja..tenang” Riziel langsung mencoba diam menenangkan pikiran.
Lalu Riziel pergi menuju neraka untuk mencari misi agar tidak terlalu memikirkan suara-suara sebelumnya yang terus-menerus terdengar di telinga Riziel tanpa henti.
Di sisi lain seseorang yang mengintai lingkungannya di suatu tempat hanya tersenyum tipis melihat Riziel yang semakin mengincar Ezra.
"Riziel aku tau dirimu berusaha mencari keberadaan diriku jadi datanglah!” Ezra yang di suatu tempat sambil mengendalikan Roh yang tercipta oleh emosi manusia.
Riziel yang sampai di neraka dengan aman meskipun ada tatapan yang tidak menyukai atas kehadirannya namun Riziel tidak terlalu memikirkannya jika mereka tidak mencari masalah.
"Yo kawan lama!” Seseorang yang langsung menyapa Riziel.
"Ha kau ternyata Leviathan, kenapa kau disini?” Riziel yang sebenarnya tidak terlalu menyukai sikap Leviathan yang terlalu terbuka padanya.
"Haha sikapmu masih saja belum berubah dan diriku sedang malas jadi berjalan-jalan siapa sangka akan bertemu denganmu” Leviathan dengan cukup senang bisa bertemu dengan Riziel, seseorang yang pernah bertarung dengannya.
"Terserah saja” Riziel langsung berjalan ke suatu tempat.
"Diriku dengar dewa Arthur kondisinya sedang tidak baik ya?” Tiba-tiba Leviathan langsung mencoba membahasnya.
"Huh ya begitulah” Riziel yang mellihat beberapa papan tugas yang sangat sedikit.
"Apa kau ingin mengambil misi? Jika mau akan diriku pilihkan yang sedikit menarik untukmu” Leviathan yang langsung menawarkan kepada Riziel.
"Boleh saja lagi pula suasana hatiku sedang buruk” Riziel meskipun sedikit curiga tentang sikap Leviathan.
"Ini dia menangkap siluman neraka belakangan ini banyak yang lepas mau?” Leviathan langsung memperlihatkan kepada Riziel.
"Hm 2.500 point tidak buruk, baiklah akan aku ambil dan Terima kasih” Riziel langsung mengambil kertas misi yang di berikan oleh Leviathan.
"Tidak perlu di pikirkan pergilah semoga dengan misi tersebut dirimu bisa membuatmu baik-baik saja” Leviathan yang hanya diam di tempat.
Riziel langsung pergi mengikuti garis yang menunjukkan setiap tugas yang perlu di lakukan dengan menangkap siluman neraka terlepas.
Riziel yang semalaman mencoba memburu setiap siluman yang kabur dari neraka dan jumlahnya juga lumayan banyak melarikan diri ke dunia manusia.
__ADS_1